Starbucks merupakan perusahaan multinasional yang berasal dari Amerika Serikat. Produk utama yang mereka jual adalah kopi. Meskipun harga kopinya terbilang mahal (bagi saya dan mungkin bagi sebagian orang), namun Starbucks masih bisa bertahan dengan cabang-cabangnya yang menjamur di Indonesia.

Sejak Dollar Amerika masih berada di tingkatan 8000 rupiah sampai 14.000 rupiah, tampak keberadaan Starbucks di Indonesia tidak goyah, malah sebaliknya, Starbucks semakin memperluas jaringannya dengan menempatkan cabang pada setiap pusat perbelanjaan yang baru dibuka.

Kopi Starbucks bisa dikatakan anomali dalam dunia perdagangan. Harganya mencapai empat puluh sampai lima puluh ribu rupiah, tetapi tetap saja ada pelanggan yang membelinya. Menggunakan analisis sederhana, bisa dikatakan bahwa barang apapun di Indonesia sebenarnya bisa dijual, laku dan menguntungkan ! Ingat kopi saja yang harganya limapuluh ribu masih bisa dijual dan menjadi bisnis yang bertahan.

Tentunya yang dilakukan oleh Starbucks tidak hanya berjualan kopi. Mereka bisa mengemas produk yang ditawarkan dengan sedemikian rupa. Kopi yang dijual dilengkapi dengan tempat yang nyaman untuk santai. Bisa dibilang orang menikmati kopi Starbucks bukan sekedar minum kopinya, tetapi menikmati suasana yang disediakan oleh Starbucks.

Dalam hal ini pelajaran yang bisa ditarik adalah mengenai kemasan dari suatu produk atau jasa yang kita tawarkan. Saat memiliki produk atau menjajaki kemungkinan wirausaha, jangan lupa untuk memikirkan kemasan.

Advertisement

Semakin menarik kemasan , maka akan semakin besar kemungkinan produk kita akan dilirik. Pepatah yang mengatakan "jangan menilai buku dari sampulnya " sepertinya perlu direvisi. Bila sampul bukunya jorok atau tidak karuan, membukanya pun orang tidak sudi.

Secara pribadi juga bisa kita terapkan di dalam diri kita sendiri. Mungkin kita memiliki kecerdasan, kemampuan dan sikap yang baik . Namun bila penampilan kita berantakkan, kotor, bau, akan sulit bagi kita untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Bisa jadi Anda akan berat jodoh.

Hal lain yang menjadi pendukung kesuksesan bisnis Starbucks adalah dalam aspek pelayanan. Produk mereka memang sederhana, tetapi kualitas pelayanannya terbilang tinggi. Mereka memiliki pegawai yang ramah dan sangat membantu. Anda duduk di Starbucks berjam-jam pun tidak akan diusir.

Sebaliknya dalam beberapa kesempatan, keliihatan jelas bahwa pegawai Starbucks berusaha berinteraksi dengan pelanggan, mereka suka bertegur sapa dengan ramah, terutama bila Anda sering terlihat duduk disana (sekali lagi meskipun Anda hanya memesan makanan yang paling murah harganya dan duduk berjam-jam ).

Disini kita dapat belajar bahwa walaupun produk kita sederhana, dengan pelayanan yang bagus, orang akan tertarik untuk berulangkali menggunakannya. Prinsip ini pun diterapkan oleh Taksi Blue Bird, kalau diperhatikan banyak sekali taksi dengan berbagai merek dan jenis mobil yang sama. Namun Blue Bird tampak berhasil merebut pangsa pasar tersendiri. Terbukti ketika Blue Bird melepas saham mereka untuk dijual, masyarakat antusias untuk membelinya.

Hal ini juga berlaku dengan fenomena terkini, yakni Go-Jek, produknya sederhana, tetapi dikemas menarik. Pengemudi menggunakan helm dan jaket seragam sebagai bagian dari kemasan produk. Selain itu mereka juga mengedepankan keramahan dan pelayanan pada pelanggan.

Kedua faktor ini masih agak sulit disaingi oleh ojek konvensional (saya tidak mengatakan ojek konvensional lebih buruk, karena saya sendiri punya langganan ojek pangkalan dan sejauh ini pelayanan mereka tergolong baik).

Dalam hal hubungan sosial pun demikian, mungkin kita biasa-biasa saja. Tetapi dengan sikap rendah hati dan bersedia membantu orang lain, ini akan menjadi poin positif bagi kita. Sebaliknya meskipun berwajah rupawan, kalau sombong, maka sulit bagi kita untuk berkembang di tengah kehidupan masyarakat.

Ingat! Kalau dari jualan kopi saya bisa menguntungkan, pasti kita juga bisa menjual ide, produk atau bahkan mempromosikan diri kita dengan lebih baik.

Selain poin mengenai kemasan dan pelayanan, tentunya ada hal-hal lain yang mendukung kesuksesan Starbuck. Tapi sejauh ini hal yang sangat terlihat jelas adalah kedua aspek tersebut. Bisa dijamin tanpa kemasan maupun pelayanan yang bagus, Starbucks tidak lebih dari sekedar warung kopi biasa.

Sebagai penutup, tulisan ini tentunya bukan ajang promosi Starbucks, Blue Bird maupun Go-Jek. Hanya saja saya ingin mengajak pembaca untuk belajar menganalisis peluang-peluang yang sebenarnya terbuka untuk memanfaatkan pangsa pasar yang ada di Indonesia.

Semoga sukses!