Kata belanja biasa terdengar di telinga perempuan. Kata tersebut lebih populer bila diganti dengan shopping. Belanja sendiri berarti membeli sesuatu. Namun kata belanja di kalangan wanita malah berarti membeli pakaian baru, jilbab baru, tas baru, celana baru, sepatu baru, lipstik baru, atau pakaian dalam baru. Mengapa?

Ditinjau dari apa yang mereka beli, tujuan belanja sebenarnya tidak diketahui. Mereka hanya merasa senang ketika membeli pakaian baru yang mahal. Perasaan itu entah darimana munculnya. Ada yang bilang itu naluri alami wanita. Wanita suka keindahan, pria juga begitu. Itulah sebabnya mereka membeli barang-barang mewah untuk mereka kenakan sehingga menarik perhatian kaum adam.

Tapi tunggu dulu, apakah kaum adam yang baik tertarik dengan wanita yang seperti itu? Ke kampus saja jilbabnya di lempar ke kanan dan ke kiri. Jilbab seperti itu bukannya malah membuka area dada? Sekali lagi, kaum adam yang baik malah akan memandang sebelah mata perempuan dan wanita yang berpakaian tidak sewajarnya.

Budaya berbelanja tidak semestinya di kalangan wanita sepertinya sudah jelas terlihat sejak mereka puber. Kebiasaan tersebut terus berkembang dalam artian yang tidak baik. Belum lagi mereka belanja tidak dengan uang yang mereka hasilkan sendiri, tapi uang yang mengucur deras dari orang tua. Orang tua sendiri tidak mengawasi anak-anak mereka sejak kecil agar tidak berlebihan dalam berbelanja. Yang sering saya jumpai saat ini, murid SMP, SMA, terutama anak kuliahan, sering sekali menghabiskan dana berlebihan mereka dengan berbelanja. Miris, bukan?

Budaya berbelanja seperti tersebut di atas tentu saja mempunyai dampak. Mulai dari dampak yang tampak sampai yang tidak tampak. Dampak yang tampak contohnya dompet akan tipis dalam waktu dekat. Dampak yang tidak tampak ialah dampak yang ada di masa depan. Budaya membeli sesuatu yang kurang penting sekali akan tetap ada meskipun si wanita sudah menghasilkan uang sendiri.

Advertisement

Banyak sekali pengakuan dari wanita yang baru bekerja mengalami kesulitan dalam mengatur keuangannya. Mereka cenderung menyesali kebiasaan mereka berbelanja. Mereka sulit untuk move on. Mereka merasa dengan uang sendiri akan lebih bahagia bila digunakan bersenang-senang. Namun mereka tetap berusaha bangkit meskipun itu sulit. Mereka menghimbau kepada generasi muda agar tidak menghabiskan uang mereka untuk hal yang tidak perlu karena hal tersebut akan menjadi kebiasaan.

Belum lagi saat menjadi ibu rumah tangga. Entah pada saat itu kita memiliki suami kaya atau kurang kaya. Kalau kita mempunyai suami kurang kaya, kebiasaan shopping akan menjadi sangat tidak tepat. Di saat uang kita pas-pasan, kita malah menginginkan ini itu dan cenderung untuk memenuhinya. Kalau kita mempunyai suami kaya, kebiasaan shopping mungkin tidak berdampak seperti yang pertama. Namun mari kita telaah. Kita akan semakin mudah untuk shopping karena uang yang kita miliki. Semakin lama, kebiasaan kita akan berkembang. Kita tidak hanya akan membeli tas yang harganya satu juta, tapi seratus juta. Di saat suami kita memang memikirkan kita, korupsi bisa jadi kemungkinan utamanya. Si istri pun tidak akan bertanya-tanya darimana uang suaminya karena yang ada di pikiran mereka hanya tas. Bukankah perempuan bisa mengubah dunia? Mengapa perempuan dalam konteks ini malah menghancurkan dunia?

Kalau semua yang saya paparkan di atas terdengar menyeramkan, atau sebaliknya, terdengar biasa-biasa saja, saya punya beberapa cara agar belanja bisa menjadi budaya yang baik dan benar. Pertama, selalu mengerem ketika ada keinginan membeli suatu barang. Misalnya kita melihat celana dengan model terbaru dan langsung ingin membelinya, kita harus menekan keinginan itu dengan alasan yang kita buat sendiri. Kedua, tidak pernah membawa banyak uang. Ketika kita membawa banyak uang, setiap melihat sesuatu kita pasti ingin membelinya karena ada uang. Berbeda saat kita tidak membawa uang, kita pasti dengan terpaksa tidak membelinya dan melupakannya. Ketiga, berjanji untuk menjadi perempuan yang baik. Perempuan yang baik juga termasuk yang tidak boros dan sangat tidak berpikir dalam melakukan segala sesuatu.

Apapun yang kita lakukan hendaknya ada landasan dan tujuan yang jelas dan bermanfaat. Sekiranya hal tersebut tidak mengandung dua unsur di atas, seharusnya tidak perlu dilakukan. Berbelanja itu perlu, tapi belanja yang kita perlu saja. Budaya berbelanja yang baik akan menghasilkan wanita-wanita yang merubah dunia. Mulai sekarang, berbelanjalah dengan berbudaya.