"Perpisahan memang tak selamanya berarti akhir dari sesuatu, namun juga tak selalu berarti akan bisa kembali bersama"

Haruskah aku menangis lagi? Atau haruskah kuberanikan diri mendatangi dirimu dan menanyakan perasaanmu untukku? Kini di antara kita sudah terjalin hubungan yang tak jelas untuk didefenisikan. Haruskan aku menamakan hubungan ini pertemanan? Bagaimana mungkin hubungan ini disebut pertemanan di saat untuk saling menyapa pun kita enggan ataukah aku menamakan hubungan ini hubungan kakak beradik yang sering kau sebut dulu, namun bagaimana mungkin hubungan kakak beradik canggung seperti kita? Lalu apa nama hubungan kita, mungkinkah hubungan kita pantas disebut sebagai kenalan semata meski pernah terjalin kedekatan yang lebih layak disebut saling care…

Sejujurnya aku tak pernah membeci perpisahan, aku hanya membenci pertemuan yang berkesan karena itu akan menjadi luka ketika perpisahan itu tiba.

Saling melangkah menjauh adalah hal yang kita lakukan saat ini… Entah mengapa kita bisa melakukan hal ini. Kalau dia yang kini ada di sampingmu menjadi alasan kita saling melangkah menjauh, bukankah itu layak dipertanyakan? Kita tidak pernah ada dalam hubungan yang mengharuskan kita saling menjauh ketika salah satu di antara kita memiliki seseorang yang disebut kekasih.

Kalau hubungan kita adalah kakak beradik, mengapa kita harus saling menjauh hanya karena kehadiran seseorang yang disebut sebagai kekasih? Lalu benarkah jarak yang menjadi alasan kita saling menjauh? Jika benar begitu maka aku merasa jarak begitu jahat bagiku dan begitu baik bagi dia yang kini bisa dengan leluasa menggenggam tanganmu.

Advertisement

Namun akhirnya aku menemukan jawaban dari setiap pertanyaanku, jarak bukanlah alasan kita saling menjauh. Alasanya adalah dia yang kini sedang menggenggam tanganmu. Ya… Akhirnya aku tahu dari teman-temanmu tentang rasamu untuku, rasa yang lebih dari sekedar teman dan lebih dari sekedar seorang kakak bagi adiknya. Rasa seorang pria dewasa untuk seorang wanita. Tahukah kau aku hancur saat tahu bahwa kau pernah memiliki rasa itu untukku? Tahukah kau berapa lama aku bertanya pada diriku sendiri bahwa apakah kau juga memiliki rasa yang sama dengan rasa yang selama ini kupendam. Mengapa takdir seolah-olah begitu jahat bagiku, mengapa waktu memberitahukan segalanya bagiku saat tanganmu sudah tidak bisa aku genggam, bahkan sebagai seorang adik kecil yang selama ini kau sebut.

Ya… Dia yang menjadi alasan aku tak bisa menggenggam tanganmu, namun ini bukanlah kesalahannya. Dia memang memiliki hak lebih untuk menggenggam tanganmu. Aku tak pernah sekalipun menyalahkannya, aku juga tak sekalipun ingin merebut dirimu dari sisinya. Aku hanya marah pada diriku sendiri, diriku yang tak pernah berani menggenggam tanganmu sebagai seorang wanita ketika waktu masih menginjikan aku bisa melakukannya, aku hanya berani menggenggam tangamu sebagai seorang adik kecil yang tak pernah sadar bahwa jika aku menggenggam tanganmu sebagai seorang adik kecil, maka akan ada orang lain yang akan menggenggam tanganmu sebagai seorang wanita dewasa dan saat itu, aku tak bisa lagi menggenggam tanganmu.

Dalam sepiku, aku bertanya pada Tuhan, salahkah aku yang tak pernah berani menggenggam tanganmu dulu? Namun aku juga bertanya mengapa bukan dirimu yang menggenggam tanganku lebih dulu, mengapa kamu tak pernah berani mengatakan bahwa kau menginginkanku lebih dari sekedar adik kecil? Mengapa aku harus mengetahui perasaanmu dari sahabat-sahabatmu? Kita memiliki waktu yang cukup untuk saling mengungkapkan rasa, namun mengapa kita memilih memendam rasa itu? bodohkan kita atau memang kita memang tak pernah diizinkan untuk saling memilki?

Apapun alasanya, aku akan selalu menjadi orang yang mendoakan kebahagianmu aku juga berharap kau juga begitu. Meski kita tak bisa lagi saling menggennggam tangan, kita masih bisa melipat tangan kita untuk saling mendoakan.

Aku berharap kau bahagia bersama dia, buatlah dia tersenyum, perlakukanlah dia sebagai ratu di hatimu, biarkan dia menggenggam hatimu seutuhnya bukan hanya tanganmu. Aku tahu kau sosok yang dewasa dan tak ingin menyakiti orang lain, karena itu aku percaya kau bisa melakukannya.

Kini aku pergi, bukan karena aku lari hanya saja aku perlu menata lagi hatiku, hati yang terasa tak lagi untuh saat kau pergi. Aku tak menyalahkanmu untuk apapun, aku juga tak menyalahakan takdir, aku hanya ingin tenggelam dalam waktu untuk mengobati rasa…

Aku ingin kau tahu aku masih menjadi adik kecilmu hanya saja kini aku adalah adik kecil yang tak bisa lagi menggenggam tangan kakaknya, karena tangan itu sudah digenggam oleh tangan yang lain, namun aku tetap menjadi adik kecil yang selalu mendoakanmu seperti janji kita dulu.

Terima kasih pernah mengisi hari-hariku.. Jika suatu saat waktu berbaik hati untuk mempertemukan kita lagi, aku berharap saat itu hatiku sudah kembali utuh, sehingga aku sanggup berdiri di depanmu dengan tegar.