Halo pembaca yang budiman, apa kabar? Semoga baik-baik saja (sapaan ala majalah Ibu-ibu tahun 80 an).

Melihat ramainya artikel dengan tema percintaan, saya menyimpulkan bahwa masalah yang terkait dengan cinta memang menjadi masalah yang unik. Kenapa unik? Karena di dalam proses percintaan terkandung hal yang positif dan negatif. Mau dibilang enak ya enak, tapi dibilang ga enak ya pasti ada ga enaknya. Istilah psikologinya, kondisi yang ambivalen.

Menurut teori yang beredar di dunia persilatan, segala sesuatu pasti ada resikonya. Terutama dalam hal pengambilan keputusan. Seperti orang bermain catur, setiap langkah akan menentukan langkah berikutnya. Selain itu langkah yang sudah diambil juga akan disambut oleh resiko yang mungkin terjadi. Di dalam hubungan dengan orang lain pun begitu, ketika kita membuka diri untuk orang lain, pasti ada resiko malah kita dihina atau direndahkan. Sebaliknya saat menutup diri dari orang lain, kita bisa dianggap sebagai pribadi yang sombong.

Kembali ke masalah cinta, seringkali yang disorot hanya setengah sisi saja. Entah itu kisah cinta yang happy ending seperti di film-film Disney atau sebaliknya kisah patah hati yang berkepanjangan ala sinetron di stasiun televisi swasta. Khusus untuk yang happy ending, mungkin nggak perlu terlalu dibahas, ya namanya happy ending ya sudah pasti ok lah. Nah bagaimana dengan yang patah hati atau ditolak?

Patah hati atau ditolak adalah bagian dari prinsip resiko. Namanya berani mencintai berarti sudah siap dengan resikonya. Jangan mau enaknya saja. Saat mencintai seseorang kita benar-benar harus menerima bahwa akan ada kemungkinan kita tidak mendapatkan pengalaman sesuai yang kita harapkan. Nggak mungkin dong, Tuhan membuat kisah cinta yang semuanya happy ending alias baik-baik saja. Karena manusia diciptakan unik dan memiliki kehendaknya masing-masing, yang bisa saja berbeda satu dan lainnya.

Advertisement

Gambarannya adalah seperti pertandingan sepak bola di Premier League (di Indonesia dikenal sebagai Liga Inggris). Setiap kesebelasan yang bertanding pasti berharap menang. Mereka sudah berlatih keras dan keluar banyak biaya. Akan tetapi tidak mungkin mereka bisa selalu menang. Pasti ada kalahnya juga. Dan ketika kekalahan terjadi, suka atau tidak suka mereka harus menerimanya. Sungguh aneh kan kalau pertandingan sepak bola tidak ada resiko kekalahan?

Demikian juga dalam hal mencintai, kita pasti sudah menyediakan waktu, tenaga, bahkan dari sisi finansial pun sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Namun itu semua bukan jaminan bahwa cinta kita akan diterima atau berjalan baik-baik saja. Tetap ada kemungkinan, baik kecil maupun besar akan adanya kegagalan alias resiko.

Jangan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tidak adil! Kalau cinta tapi tidak mau nerima resiko, menurut saya itu bukan cinta, tetapi itu adalah perasaan egois, yang mementingkan agar harapannya sendiri yang terjadi (padahal dari pihak lainnya tidak punya harapan yang sama, bukankah cinta itu berarti pertemuan dua harapan yang sejalan?), toh kalau dipaksakan agar dia menerima cinta kita padahal dia tidak mau, itu juga bukan suatu hal yang bagus. Malah nanti akan memicu masalah di kemudian hari. Kita sendiri juga tidak mau kan dipaksa berpasangan dengan orang yang tidak kita cintai?

Hmm…jangan berkecil hati untuk yang perjalanan cintanya masih kandas. Karena dibalik resiko ada hal positifnya juga. Salah satunya adalah kita memperoleh pengalaman belajar. Dari pengalaman ini kita bisa lebih baik lagi dalam mencintai seseorang. Selain itu bisa jadi itu hanya hambatan sementara. Bila kita mau maju terus, ada kemungkinan dia berubah pikiran.

Yang jelas kalau sudah paham dengan resiko yang akan terjadi, janganlah buang-buang banyak waktu untuk patah hati dan tenggelam dalam kegalauan. Karena waktu berjalan terus, tidak peduli pengalaman apapun yang telah kita terima. Dan jangan lupa, dibalik kisah yang buruk pasti ada kisah indah yang menanti kita, asalkan kita mau bangkit dan menuju kesana. Belajarlah untuk bersikap dewasa dan menerima kenyataan.

Semoga sukses untuk semuanya , baik yang kisah cintanya seperti Beauty and The Beast, Romeo and Juliet, Jack and Rose, atau bahkan Shisien dan Pai Su Cen si Siluman Ular Putih.

Pesan terakhir saya di artikel ini :

Tidak ada rumus pasti untuk percintaan, tetapi ada rumus pasti untuk kegagalan yaitu tetap berkubang di dalamnya dan menutup diri dari kemungkinan yang baru