Awalnya aku merasa akulah senormal-normalnya cewek ABG. Bersolek, sekolah, bergaul dengan tema sebaya, dan juga ingin merasakan cinta.

Cinta monyet katanya, karena yang kesengsem masih dibawah umur, dan labil pula sifatnya.

Semua berawal dari cowok idola.

Tinggi badannya, semampai. Cukup kalau bersanding dengan aku yang selisih beberapa senti dengannya. Kulitnya putih a la orang kota, serta senyumnya yang menghiasi wajah oval, alis tebal, dan hidungnya yang mancung. Arian, panggil saja begitu.

Sebenarnya keminderan utamaku satu. Aku terlalu jelek kalau dibandingkan dengan cewek yang selalu disapanya. Kusam, rambut panjang tak terurus, tak pernah pakai bedak, seragam seadanya. Itulah aku, yang terlalu bersyukur dengan penampilan.

Advertisement

Ah, ku rasa aku sudah nglindur terlalu jauh. Pada kenyataanya, lirikan mata itu bukan punyaku. Sosok cewek imut, rambut tergerai lurus itulah pemiliknya. Setiap pagi aku harus memandang semua ini? Saatnya untuk bernafas panjang lagi.

Sebait pesan datang tak terduga..

Beberapa hari ini sepertinya ada yang salah, kenapa dia seperti lebih memperhatikanku? Tanya kabar, sering chatting, ngajak jajan bareng, seperti… memberi semacam harapan. Atau tidak dia sudah luluh? Namun pesan mengejutkan itu datang tak terduga. Sahabat dekatku, Rani, menyeretku tanda ingin bicara serius. Seketika aku pasrah dan mengikuti arahannya.

“Ada apa?” sahutku.

“Kamu mau dikerjain.” Jawabnya tergesa-gesa.

“Maksudnya?”

“Pokoknya, jangan sampai kamu percaya dengan omongan dia, atau kamu menyesal pernah kenal dengannya.”

Memikirkan makna semua itu pun otakku tak sampai. Berkali-kali mereka mengingatkan hal yang sama namun aku acuh. Padahal aku tahu, selain Rani, ada Anton (yang suka padaku) yang tak rela aku dekat dengan orang yang diragukan perasaannya. Hingga akhirnya para sahabatku lelah dan membiarkanku terus bersenang-senang dalam mimpi.

Tak berselang waktu lama, semua hal memuakkan itu terbongkar. Taruhan? Aku? Bodohnya…

Aku terlihat bagai keledai yang terjerumus; yang mau disuruh terjun kedalam sumur. Aku juga menyesal, berkali-kali aku meminta maaf kepada para sahabatku. Untungnya, mereka mudah memaafkanku. Malah, mereka bersedia mendukungku apapun yang ingin ku balaskan pada Arian. Tapi…

Umurku memang dirasa belum cukup untuk memikirkan jati diri, tapi aku mempunyai harga diri. Balas dendam? Tentu tidak ada dalam kamusku. Kini, aku hanya bisa diam dan menangis dalam sepiku. Mengingat kekangan keluarga dan para sahabat yang jauh, aku merasa semakin tertekan. Hinaan itu bertambah parah ketika sekelibat orang juga terlihat ikut menertawaiku setiap hari. Bagiku mereka sama-sama menyebalkan sekarang.

***

Perlahan, tekad ini makin membulat!

Balas dendamku elegan. Mula-mula, aku potong rambutku yang sudah terlewat panjang agar lebih rapi. Aku mulai mengumpulkan uang jajan hanya untuk membeli alat perang. Ya, aku akan berperang dengan penampilan. Hehe

Hari libur adalah waktu yang paling ditunggu, aku bisa full day merawat diri. Lulur adalah senjata yang pertama. Dilanjut dengan seperangkat alat mandi dengan merek sama, plus whitening. Walau pada dasarnya aku bisa putih alami karena memang ada keturunan Tionghoa, masakan aku seharian penuh tak keluar rumah? Hahaha. Mandiku lama? Itu biasa bagi orang tuaku. Tapi dandan, ibuku juga heran. Malah disangka sedang jatuh cinta, bukan patah hati. Duh!

***

Kepercayaan diriku bertambah drastis. Walau berbekal bedak dan lipgloss tanpa warna, aku merasa lebih menawan. Seperti kata sahabatku, yang utama bukanlah seberapa lengkap make up yang dipakai, senyum dan tetap percaya diri, itu keutamaannya.

Hari ini aku datang dengan wajah cemerlang. Kemarin aku pemalu dan cenderung tak menyapa teman yang tak aku kenal. Sekarang aku lebih sumringah dan “ramai”. Kawan-kawan baruku heran, bahkan ada yang berekspresi aneh ketika aku merubah penampilan. Bagi sahabat dekatku yang tak mau tahu, mereka hanya menyangka aku potong rambut. It’s okay, maklumkan saja dulu.

“Nat, kok kamu ada yang beda ya?”

Dengan gerak refleks aku menengok ke belakang. Responku heran, cowok bad boy yang tadinya dingin mendadak ngajak ngobrol.

“Ah, biasa aja. Cuma potong rambut.”

Dari awal aku sudah curiga. Selain bad boy, dia juga terkenal playboy, aku tak mau tergoda omongannya. Dengan cepat aku ambil langkah seribu meninggalkannya.

Soal respon Arian aku sudah tak peduli lagi. Yang terpenting, aku sekarang menikmati aku yang baru. Kawan yang semakin bertambah, itu juga life goal bagiku. Aku juga makin giat bertanya pada guru terutama waktu mata pelajaran Bahasa Inggris favoritku.

Bermodal aku sebagai anak kesayangan guru Bahasa Inggris, membuatku tak canggung bertanya. Aku juga sering disuruh membantu guru Bimbingan Konseling untuk mendata anak yang ingin konsultasi. Walau hanya bolak balik disuruh guru dalam hal sederhana, aku merasa keren.

Kepribadian introvert-ku mulai aku tanggalkan. Aku berpikir tak akan bisa berhasil bila aku terus menjadi pribadi yang tertutup. Nilai akademik di sekolah perlahan meningkat walau tak cukup untuk manyaingi Si Anton sang bintang sekolah.

Berawal dari kerja kelompok, aku, Anton, Rani semakin dekat. Kami jadi sering main bersama, menyelesaikan masalah bersama, ke kantin bersama. Dari awal, aku tak ingin perubahan penampilan membuat selera persahabatanku berubah. Aku tak ingin menjadi kacang yang lupa kulitnya. Selang waktu lama, mulai ada yang berubah dengan hubungan persahabatan ini.

Kenapa tiba-tiba?

Aku tahu, pertama kita kenal memang sudah ada yang aneh dengan “kita”. Tapi ini semua jauh dari ekspetasi.

Please, Nat. Emang kenapa sih kok nggak mau sama aku?”

Wajahnya memelas minta kesempatan. Berat, karena memang sebentar lagi hari kelulusan. Aku sibuk belajar demi masuk sekolah favorit. Dia pun juga mengejar beasiswa keluar kota, pastinya hubungan kita berjarak. Dan akhirnya…

Aku lebih memilihnya sebagai sahabat. Sebagai salah satu orang yang mendukung perubahan diriku. Aku sudah mati-matian berubah demi kelanjutan misiku yang selanjutnya. Juga, aku tak ingin merobohkan persahabatan antara aku, Rani, maupun Anton.

***

Hari-hari kita tak banyak berubah. Tapi aku, kehidupan pribadiku yang aku rasa cukup mengalami perubahan setelah penghinaan yang terjadi pada kisah cinta pertamaku. Menyebalkan, tapi banyak pelajaran yang dapat aku ambil.

Pertama, jangan mudah percaya dengan orang yang baru dikenal. Termasuk pada gombalan cowok tampan yang sekonyong-konyong akrab.

Kedua, balaslah mereka yang menghinamu dengan elegan. Tak harus membalasnya dengan cacian ataupun cakaran kuku-kuku cantikmu. Cukup ubah sedikit sisi kepribadianmu. Entah sifatmu yang pendiam, ubahlah jadi sedikit menyenangkan. Sifatmu yang urakan (ramenya kelewatan), ubahlah jadi feminim.

Ketiga, sifat, penampilan boleh saja kau ubah jadi sedemikian rupa. Tapi jangan lupakan mereka yang selama ini bersedia jadi supporter hidupmu. Merekalah sahabatmu, susah senang selalu menampakkan dirinya hanya untuk menemanimu. Intinya, merekalah pelangi hidupmu. Jangan lupakan mereka, sekalipun!

***

Perubahan selalu terjadi seiring berjalannya waktu dan seberapa pengalaman yang kau dapat, mengubah sifat bukan berarti kau harus selalu jadi yang paling hits. Kamu harus bisa menyaring mana yang harus diikuti, dan mana yang harus dijauhi. So, jangan ragu untuk memantaskan diri kamu jadi yang lebih baik dari hari ini.

Sekian pengalaman jatuh cinta pertama terbaikku. Terbaik belum tentu yang terindah, 'kan?