Tidakkah kau ingat dulu waktu kita pertama kali berjumpa, berdebar hati ini rasanya seolah pandanganmu pada saat itu ingin menyampaikan sesuatu saat kita bertemu, pun aku benar-benar jatuh hati ketika melihatmu. Entah apa yang terlintas dipikiranku pada saat itu aku mengira kamu merasakan hal yang sama juga denganku. Aku mulai merasa nyaman berada didekatmu, seringkali kita saling bertukar pikiran dan sesekali melempar candaan untuk mempercair suasana. Namun aku yang berada jauh dari tempatmu ini tidak bisa berbuat banyak bagi kebahagiaanmu terkecuali laki-laki lain yang berada dekat denganmu dan menurutmu lebih pantas bagi dirimu. Segala sesuatu yang aku yakini dengan apa yang benar-benar aku perjuangkan tersandung oleh hanya karena "JARAK". Yap, aku sadar dan memaklumi akan keegoisanmu tersebut kamu memang pantas menjadi wanita yang menerima kasih sayang dari ketulusan yang nyata ketimbang aku yang hanya sekedar selalu bertanya tentang keseharianmu dari jauh.

Tidak ku sangka apa yang aku yakini selama ini dan apa yang aku perjuangkan ternyata mungkin hanyalah suatu kesia-siaan. Jarak yang jauh memisahkan kita memang seolah sudah jadi pertanda kita untuk mungkin tidak bisa benar-benar menyatu, aku mencoba menghadapi segala kenyataan pahit ini dengan kepala tegap. Aku yakin ini bukan kemauan kita berdua untuk tidak pernah lagi saling menyapa satu sama lain setelah aku mengetahui semuanya.

Namun ketahuilah, ketika aku jauh aku hanya ingin memastikan kamu bersama orang yang benar-benar tulus mencintai kamu dan bukan orang yang salah, yang hanya sekedar ingin mempermainkan kamu. karena kamu sebagai wanita yang baik tidak pantas menerima hal tersebut.
Untukmu wanita yang telah menjadi siklus batin di kehidupanku