Hal yang selalu saya yakini, kamu berbeda dengan yang kebanyakan. Saya percaya dari lembaran tahun yang telah kita lalui. Ketika saya telah menyakini kamu belahan jiwa saya, kemudian kamu bilang ras membentengi kita. Apakah kamu terlalu pengecut mempertahankan saya, atau selama ini saya cuma menjalani dongeng semata?

Kamu bilang kamu tak bisa tanpaku, tapi kamu tak bisa menghalalkan saya. Apakah saya sebagai wanita tak menjadi harapan menjadi pasangan akhir hayatmu?

Saya pun berulang kali mencoba menjalani hal yang tak pasti ini. Menatapmu pun yang saya rasakan bermacam rasa. Kita tak lagi sama seperti jamannya putih abu-abu. Kita kini telah menjadi dewasa. Tidakkah kamu merasakan hancurnya hati saya ketika kamu bilang kita tak bisa bermasa depan berdua? Saya mencoba mengalahkan takdir dengan berjalan berharap semua agar kita menjadi halal. Tapi setelah matamu menjawab ketidakyakinanmu, saya pasrah. Bulir suci dihadapan-Nya berurai tak keruan.

Kini saya tahu bahwa bukan tentang ras, tetapi kamu memang tak mau mempertahankan saya. Akhirnya kini saya menyerah dan saya pun telah mengetahui kamu telah diikatkan dengan dia yang se-ras denganmu. Gemetar hati saya, tapi saya ingat mungkin inilah yang terbaik. Terkadang saya menyalahkan Tuhan yang membuat ini terjadi, tetapi sebagai makhluk kecil ini saya menyadari ternyata Tuhan telah mencemburui saya yang terlalu dalam menyakini cinta saya kepada dirimu.

Saya tak menyalahkan kamu sekarang ataupun nanti, mungkin ini jawaban yang terbaik untuk semua. Mungkin ikhlas itu ilmu yang paling sulit dijalani, tetapi sekuat tenaga saya menerima. Berbahagialah, saya ikhlas melepasmu.