Ketika orang bertanya tentang alasanku mengenakan hijab, bisa dibilang, aku nggak punya pengalaman spiritual tertentu saat akan memutuskan untuk berhijab. Hal yang membuatku memutuskan untuk mengenakan hijab itu lebih cenderung dikarenakan habit dibanding karena mendapat hidayah khusus. Awalnya aku mulai rajin berhijab sejak masuk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) yang notabenenya merupakan TK berbasis Islam. Selama dua tahun penuh masa balita itu kulalui dengan berhijab―dimana sejujurnya pada saat itu aku juga belum mengerti makna hijab dan menutup aurat.

Sayangnya, waktu masuk Sekolah Dasar (SD), aku tidak berhijab lagi. Masuk di SD Negeri dengan lingkungan pertemanan yang tidak satu pun mengenakan hijab akhirnya membuatku memilih menanggalkan hijabku selama enam tahun. Mungkin karena dari dalam diriku sendiri belum adawillingness yang tinggi untuk berhijab dan ketika itu aku berpikir “Ah, nanti panas kalau pakai hijab ke sekolah” “Ah, nanti dianggap aneh sama teman-teman kalau aku pakai hijab sendirian” “Ah, lagian Mama nggak nyuruh berhijab kok” “Ah lagian aku masih kecil kok, berhijabnya nanti aja”―serta berderet alasan lainnya.

Memasuki bangku SMP, aku pun mulai berhijab lagi. Basicly, aku berhijab hanya karena kewajiban, sekolahku meskipun SMP Negeri mewajibkan berhijab bagi para siswinya. Namun entah kenapa justru lama-lama aku ngerasa nyaman. Malah aku bakal ngerasa malu kalau lagi keluar rumah (hangout, trip, shopping) terus nggak pakai hijab. Malu karena pas di sekolah aja pakai, masa pas keluar rumah enggak, plus malu kalau ketemu temen dan ketahuan nggak pakai. Mungkin pada masa ini, karena aku udah baligh jadi punya rasa malu dan punya perhatian khusus untuk menjaga aurat. Jelas beda sama pengalaman hijab waktu di TK hehe.

Nah challenge terbesar adalah pada saat aku masuk SMA. Definitely, aku masuk di lingkungan yang berbeda dan nggak ada aturan wajib berhijab lagi. Banyak loh, temanku SMP yang memutuskan untuk melepas hijab ketika SMA―yaaa that’s their choice. Jujur aku juga sempet goyah dan kamu tahu apa yang paling bikin aku goyah waktu itu?

Jadi gini, waktu itu ada isu kalau ijazah SMA dengan foto berhijab itu nggak bakal berlaku buat daftar di Perguruan Tinggi. Kenyataannya emang masalah ini sempet diribetin di SMA-ku, bahkan waktu foto ijazah bagi yang memakai hijab harus membuat Surat Pernyataan khusus dengan mengetahui orang tua. Ribet kan, nggak tau kalo di SMA lain kayak gitu apa enggak. Tapi yang bikin aku mantap untuk terus behijab adalah Mamaku. Akhirnya Mama pun menemaniku berhijab yeaay, ini salah satu nazar Mama sih karena aku diterima di SMA favorit.

Advertisement

Akhirnya mitos yang mengatakan bahwa berhijab akan mempersulit untuk masuk Perguruan Tinggi itu pun terpatahkah. Buktinya aku fine-fine aja untuk berhijab dari awal daftar kuliah di PTN sampai akhirnya lulus dari Universitas itu. Ohya, aku juga sempet iseng-iseng ikutan kontes hijab gitu pada saat kuliah. Ini truly iseng! Dengan tanpa pengalaman modeling atau pun pengalaman ber-makeup dan aku pun mencoba ini.

Yaaah meskipun nggak jadi winner-nya tapi at least udah masuk jadi 20 besar. Ini aku anggap jadi credit poin aja sih sebagai seorang perempuan berhijab. Intinya, yang aku rasain dan alamin selama berhijab adalah memang bakal mengahadapi berbagai challenge tapi jujur challenge itu malah datang dari diriku sendiri. Seperti perasaan takutku untuk dipandang gimana-gimana oleh orang, perasaan yang mengatakan “Kayaknya aku lebih cantikan nggak pakai hijab deh”, perasaan pingin gonta-ganti gaya rambut dan bisa dipamerin―di sini justru lingkungan aku mendukung banget. Selebihnya banyak sisi positifnya, nyaman aja, pokoknya kayak merasa aman dan PD dengan berhijab. Semoga bisa istiqomah ya, Aamiin.