Apakah tangis masih menghiasi pelupuk matamu?

Apakah gundah masih menyelimuti hatimu?

Apakah lara masih menaungi keseharianmu?

Aku harap kau lebih belajar bahagia.

Jangan khawatir mengenai kabarku, aku mencoba memamerkan wajah bahagia dan lengkap memasang senyum palsu

Advertisement

Kalau saja aku mampu, aku lebih memilih untuk tak mengenalmu, Kalau saja aku mampu aku lebih memilih untuk menarik jiwamu dari hatiku, dan kalau saja aku mampu sudah ku minta hatiku untuk berhenti merasakanmu. Ah, sial beruntung sekali dirimu yang bisa mencuri hatiku semudah itu

Ketidaktegasan itu memang telah terjadi antara kau dan aku, Kurang ajar sekali hatiku yang berharap lebih setiap kau beri bahumu untuk menyandarkan lelahku, Kurang ajar sekali kau dengan mudahnya menuai harapan di hatiku . Bak orang dungu, aku bisikkan kata-kata rindu dan kau membalasnya dengan kalimat “ I miss you too” dan juga kolom chat yang meniratkan kode itu

Namun setelah yang kita lalui bersama, apakah kau tak punya rasa yang sama? Atau kau hanya main-main belaka?

Kau bilang “jalani saja dulu” tak sepatutnya kau jadikan landasan sebuah hubungan. Bahwasanya kita berasal dari hulu yang berbeda namun pada akhirnya kita akan mencapai muara yang sama, jika tahu ta akan pernah sama, untuk apa kita masih harus menjalaninya? Menaruh hati pada ketidakpastian sama halnya menaruh tangan di tangan orang yang tak mau di genggam. Ketidakpastian harus segera dipastikan

Pelajaran kehidupan tidak serta merta hilang kala kita berhenti bergandengan . Jangan lupa berdiri diatas kedua kakimu. Kau dan aku akan bermetamorfosis menjadi orang yang kuat, jauh lebih kuat ketika kita berjalan masing-masing . Beberapa orang berhenti menyapa bukan karena perasaannya berhenti, namun karena telah mencapai titik kesadaran untuk kembali disakiti