Malam itu tiba-tiba kau mengirimkan pesan kepadaku. Di dalam pesan mu itu kau menceritakan semuanya. Kau menuliskan cerita yang seakan-akan kau adalah perempuan yang paling tersakiti. Jujur aku iba dengan kisah mu. Bahkan kau hampir membuat ku larut kedalam ceritamu.

Entah hal apa yang membuatmu ingin masuk kedalam cerita ku. Dan bagaimana akan ku namai perkanalan kita ini. Kau datang seakan ingin ikut berperan dalam kisah yang sedang ku bangun bersama lelakiku. Dan kini mulai ku rasakan kehadiran mu akan menguji kedewasaan ku.

Aku tahu kau pernah memilikinya, tapi ingatlah waktu itu telah berlalu. Kini aku yang menemaninya, jadi terimalah semua ini. Memang aku tidak memahami bagaimana kisahmu dengan lelakiku saat itu, namun aku percaya bahwa kisah yang telah kalian bangun amatlah indah. Kebersaman yang saat itu kalian jalani bersama akan memberatkan hatimu untuk melupakannya. Yah, mungkin telah banyak hal yang telah kalian perjuangkan bersama. Tapi ketahuilah masa itu telah selesai, kini aku yang ada disampingnya.

Aku tak tahu apakah akau harus berterimakasih kepadamu karena kau teramat perhatian dengan aku dan lelakiku. Perhatianmu ini mungkin patut untuk diberi apresiasi, kau berhasil mengetahui segalanya tentang kami. Atau mungkin kau juga tahu, besarnya rasa menyayangi antara aku dan lelakiku. Hmm, tahukah kau terkadang aku ingin mengajakmu bertemu, kita berbicara selayaknya sahabat. Membicarakan tentang lelaki yang sama-sama kita cintai. Atau mungkin juga aku dapat mengambil pembelajaran darimu. Sehingga kau tak perlu lagi memberikan perhatianmu. Percayalah aku tidak menaruh rasa benci kepadamu, aku hanya ingin berterimakasih, karenamu aku mengenal lelakiku sebagai pribadi yang hebat.

Kau yang lebih dulu mengenal pria yang sama-sama kita cintai ini, jadi aku percaya kau benar-benar mengenalnya. Lelaki yang sama-sama kita cintai ini hanyalah manusia biasa. Dia bisa melakukan kesalahan. Tapi percayalah bersamaku dia akan menjadi pribadi baru. Aku dan dia akan sama-sama belajar memperbaiki diri, memantaskan untuk bersama dan saling menerima. Kau tak perlu khawatir, karena aku tak akan membiarkannya menyakiti. Aku tau mungkin kau pernah terluka karenanya. Maafkanlah dia, ingatlah dulu kau pun pernah berbahagia karenanya.

Advertisement

Aku ingin menjadi rumahnya. Menjadi tempat yang selalu dia tuju. Terimakasih untuk segala bentuk perhatianmu. Kau yang tak henti-hentinya mengisahkan kisahmu “dahulu” dengannya, menceritakan semua perasaan lukamu, hingga kau ingin aku larut kedalamnya. Sekali lagi percayalah kepadaku tak sedikitpun aku menaruh rasa benci kepadamu. Dan percayalah aku dapat membersamai lelakiku hingga kita berdua menua nanti.