Aku lupa tepatnya kapan terakhir kali kita bertemu. Tapi aku ingat terakhir kali kita bertemu di sudut ruang yang hanya ada aku dan kamu.

“Sudah, jangan menangis. Aku menemuimu bukan untuk membuatmu tak bisa menghentikan air mata yang keluar di matamu”

Isakanku mengeras saat kamu menarikku dan memelukku.

Aku sedih San, sedih yang aku gak tau kapan aku bisa mengakhirinya. Airmataku jatuh seperti tak kuasa aku memaksanya untuk berhenti.

Saat rindu yang begitu hebat, aku tau perjumpaan adalah penyembuhnya. Kamu selalu luangkan waktu untuk menemuiku. Entah apa maksudmu. Tapi, kenapa rasanya selalu saja aku yang lebih terluka setelahnya. Apa karena aku merasa kamu hanya aku miliki beberapa jam saja dan tak lagi bisa setiap kali aku panggil sayang.

Advertisement

Aku lupa sudah berapa juta rasa rindu yang sudah mampu aku tahan beberapa bulan ini.

Mungkin saat ini aku sudah ada di fase “merelakan”. Bukan melupakan, bukan. Karena sampai saat ini siapa saja yang hadir dalam hidupku masih saja aku bandingkan denganmu. Bahkan semua hal masih dan tetap kamu jawabanku.

Aku mulai mengerti bahwa tidak semua hal dapat dipaksakan. Seperti keberadaanmu yang dulu setiap saat bisa saja aku pinta kapanpun ada di dekatku. Sekarang aku harus bisa menerima memintamu untuk menemuiku itu butuh luangnya waktumu.

Aku mulai menerima bahwa kamu bukan milikku lagi. Bahwa kamu sudah memilih di pelukan perempuan lain untuk mengadu segala gaduh dalam diri dan benakmu yang sesekali berkecambuk.

Aku merelakanmu dengannya, San. .

Di tanggal ini aku hanya ingin mengingatmu untuk melupakanmu esok dan seterusnya. Aku tau aku juga butuh dan harus juga bisa bahagia sepertimu. Bahwa masa depanku pun perlu aku perhitungkan kebahagiaan nya.

Tentu saja aku pun menulis ini dalam rangka merindukanmu. Tapi tenang, sekarang aku sudah bisa menyelesaikan rinduku sendiri. Tak perlu lagi kita atur waktu kosong untuk bertemu, berpelukan dan aku menangis tanpa henti.

Suatu saat nanti entah di mana dan entah kapan, jika kita berjumpa aku harap aku sedang di keadaan bahagia sepertimu kini.

Berjanjilah padaku, jadilah laki laki yang paling bahagia meninggalkanku. Agar aku selalu dapat berpikir kamu tidak pernah salah meninggalkanku. Karena sampai saat ini aku masih tetap mendoakan kebahagianmu, kesehatanmu, juga kesuksesanmu meskipun terdengar tolol.

I love you, San.