Seolah tidak bisa merasakan apapun yang seharusnya bisa dirasakan. Tidak peduli pada apa saja yang terjadi di sekitar. Sibuk mencari pembenaran dan menyusun pembelaan untuknya di depan orang-orang tercinta. Menimpakan seluruh kesalahan pada diri sendiri. Meyakinkan diri bahwa hatinya bersih, tanpa noda meski tak satupun kalimat penjelasan pernah dia lontarkan. Kemudian terciptalah banyak asumsi, dugaan mengapa dia tega memutuskan hubungan yang sudah sekian lama berjalan. Berbagai cara dilakukan untuk kembali memperbaiki hubungan, tapi tak satupun sanggup mengembalikan ikatan yang sudah hilang.

Beberapa bulan berlalu, tapi rasa itu tetap menggebu. Alasannya yang terlalu naif tak pernah sanggup menentramkan hati yang sendu. Jika tertidur malam ini, enggan rasanya terbangun di esok hari. Masih saja sibuk mengeja namanya tanpa henti, berharap ratapan bisa kembali menggerakkan hati. Satu per satu orang di sekitar mulai hilang kesabaran. Bosan mendengar pembelaan dan rengekan penuh penyesalan.

Kalimat halus nan menentramkan sekarang berbalik menjadi serangan yang menusuk bertubi-tubi. Tapi telinga masih saja tuli, sibuk bermimpi suatu hari dia akan kembali ke sisi.

Tapi angan tidaklah panjang. Pil pahit yang selama ini harus tertelan ternyata belumlah seberapa, karena kenyataan yang akhirnya terungkap lebih mengiris hati. Alasan mengapa dia tega mengingkari janji, menjadi jawaban atas pertanyaan yang selama ini menari-nari di pikiran. Kejujuran! Tidakkah harusnya dari dulu dia ungkapkan? Mengetahui kenyataan itu sekarang bagai menabur garam di luka yang masih menganga. Rasa sakit ini menjadi berlipat ganda. Berhakkah dia atas sebuah kata maaf?

Sekali lagi tenggelam dalam lautan kepedihan. Mencari kebaikan di hati yang paling dalam. Sungguh tidak mudah menarik diri kembali pada kenyataan. Tersenyum adalah kepura-puraan paling nyata untuk menyembunyikan rasa. Terlalu malu untuk mengungkapkan kenyataan pada orang-orang tercinta. Orang yang selama ini dibela ternyata tidak lebih dari seorang pendusta cinta. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya.

Advertisement

She's smiling. But look into her eyes, she's breaking inside.

Butuh waktu lama untuk sanggup melepaskan. Merelakan apa yang dulu dianggap miliknya seorang. Sejenak mengabaikan sang Penguasa Semesta hingga terjatuh pada jurang bernama ketidakberdayaan yang merusak pemahaman bahwa cinta kepada makhluk tidak selayaknya lebih besar dari cinta pada sang Pemilik Hidup. Berjuang memenangkan keihklasan yang terenggut sudah seharusnya dilakukan, karena setiap hati layak atas sebuah ketenangan.

Rasa cinta dicipta untuk menghadirkan bahagia. Jika hanya membuat nestapa, maka relakan dia terbang mengangkasa, kembali sejenak pada sang Pemilik Rasa. Jika waktu yang tepat tiba, tentu dia akan kembali tanpa diminta.

Menutup hati dengan rapat, berharap luka akan segera sembuh dengan sendirinya. Menarik nafas, menatap masa depan. Menertawai kebodohan, ternyata rasa ini masihlah sama. Bahkan kebencian tak pernah sekalipun terbersit dalam pikiran. Butuh waktu untuk memaafkan, tapi jangan pernah diminta untuk melupakan. Serpihan kenangan itu akan tetap ada bersama goresan luka yang tersisa. Apa yang sudah dilalui akan menjadi sebuah pembelajaran yang sangat berharga.

Forgive but do not forget, or you will be hurt again.

Forgiving changes the perspectives. Forgetting loses the lesson

Paulo Coelho

Berbagialah kalian para lelaki yang kelak menjadi pilihan hati. Karena tak pernah mudah membuka kembali apa yang pernah terluka, terlalu banyak yang harus diperbaiki. Meski hati tak akan pernah bisa utuh seperti sedia kala, tapi kami sanggup membagi rasa yang bisa membuat semesta iri. Hanya satu permintaan kami, jangan pernah menggores luka yang sama untuk kedua kali.