Kalian pernah mendengar sebuah pulau bernama Nusa Barung?

Nusa Barung adalah pulau kecil yang terletak di 4 km barat selatan Pelabuhan Puger Wetan, Kecamatan Puger, Jember, Jawa Timur. Nusa Barung juga sebuah cagar alam yang dikendalikan oleh Menteri Pertanian dengan luas 6.100 hektar. Nusa Barong memiliki tiga formasi hutan yaitu hutan mangrove, hutan pantai, dan hutan dataran rendah. Monyet Kra, Rusa Jawa, Penyu Hijau, Biawak air adalah fauna yang kalian akan temukan di pulau ini.

Jumat 7 Agustus 2015

Saya bersama dengan teman-teman mempersiapkan bekal untuk berkemah di pantai Pulau Nusa Barung, Jember. Kita memulai perjalanan pada pukul 00.00 untuk menghindari kemacetan di perjalanan ke Pelabuhan Puger, Jember. Saya sarankan untuk membawa persediaan yang cukup saat berkemah di Nusa Barung. Maka dari itu, saya dan teman-teman membawa mie instan, beras dan aneka lauk-pauk untuk 1 hari dan 1 malam untuk kemah di Nusa Barong.

Teman-teman juga membawa kebutuhan untuk di pulau seperti tenda, mini kompor dan aneka barang pendukung untuk kemah di pulau.

Advertisement

Sabtu 8 Agustus 2015

Perjalanan kami ke Jember membutuhkan waktu 5 jam. Kami tiba di Pelabuhan Puger pukul 5 pagi. Saat itu saya mulai melihat para nelayan yang bersiap-siap untuk berlayar dan keramaian lelang ikan di pelabuhan. Saya dan teman-teman sarapan bersama-sama. Saya juga mencicipi ikan tongkol goreng hasil tangkapan nelayan setempat. Rasanya benar-benar enak karena masih segar.

Setelah itu, kami langsung pergi ke mobil kami menunggu Pak Joko, seorang nelayan lokal yang akan membawa kami ke Nusa Barung. Pukul 09.00, kami bertemu dengan Pak Joko dan temannya. Kami mengambil barang-barang yang kami bawa dan memarkir mobil kami di rumahnya untuk disimpan sementara kami tinggal di pulau.

Kami dikenakan biaya 1,5 juta untuk penyewaan perahu yang tersedia untuk delapan penumpang. Oleh karena itu, kita kolektif membayar Rp 180.000 setiap orang. Perjalanan dari pelabuhan ke Nusa Barung memakan waktu 2 jam dengan gelombang cukup tenang dan angin yang sangat kuat. Menurut warga setempat, angin di bulan Agustus dan Desember angin laut bertiup kencang.

Ketika mendekat ke pulau, saya bisa melihat bagaimana luas pulau ini dari jarak jauh dan seluruh pulau masih dominan dengan tanaman hijau. Tebing yang tinggi terkikis oleh ombak. Pulau ini benar-benar hijau dan alami.

Nusa Barong memiliki pantai pasir putih cerah alami dan air yang bersih, tidak terkontaminasi yang membuat saya dan teman-teman tertegun ketika berada di sana. Kami bersantai di pantai dengan suasana tropis dan hanya mendengar suara-suara binatang. Pesona yang membuat kita nyaman untuk berlama-lama di pantai. Saat itu juga, Pak Joko telah membawa beberapa ikan segar dan ia segera menyiapkan api unggun untuk memanggang ikan.

Kami berkumpul memasang tenda tidak jauh dari pantai, sementara Pak Joko sedang memanggang ikan. Akhirnya kami makan bersama-sama dengan ikan bakar sambil menikmati ketenangan suasana pantai pulau Nusa Barong. Nusa Barong memiliki banyak pantai dan pemandangan di sekitar pulau tetapi pantai-pantai tersebut tidak mudah untuk dicapai karena Nusa Barong masih didominasi oleh hutan. Pantai lainnya bisa dicapai dengan perahu, tergantung pada kondisi laut.

Setelah itu, Pak Joko dan rekannya kembali ke Pelabuhan Puger. Mereka akan menjemput kami kembali pada Minggu sore. Sore hingga malam, saya menghabiskan waktu saya untuk beristirahat sementara yang lain bermain di pantai.
Saya terbangun pada jam 7 malam, saya langsung membersihkan diri di pantai hanya dengan mengambil baskom air sepanjang pantai dan kemudian aku membilas tubuh saya.

Saran saya, di mana pun kalian melakukan liburan, jagalah kebersihan tempat liburan dan jika kalian menemukan sampah plastik, ambil dan letakkan bersama-sama di tempat sampah dan bakar sampah karena plastik sulit terurai dan lebih baik untuk segera dibakar sehingga akan tidak mencemari pantai.

Saya bergabung dengan teman-teman untuk menyiapkan makan malam dan kami makan malam bersama. Suasana malam di Nusa Barong begitu menenangkan ketika kami makan malam. Kami mengobrol bersama-sama di tengah api unggun dengan suguhan kopi, mengisi malam dengan obrolan menyenangkan. Tak lama kemudian, ada kapal datang sekitar jam 10 malam dan berhenti di pantai. Nusa Barung adalah tempat peristirahatan bagi nelayan yang memancing di malam hari. Mereka biasanya berlabuh dan membuat api unggun sendiri hanya untuk beristirahat menunggu gelombang laut tenang. Tiba-tiba, hembusan angin di malam hari ketika itu sangat kencang, saya memutuskan untuk tidur.

Minggu 9 Agustus 2015

Saya bangun jam 6 pagi. Hawa dingin menyelimuti badan saya dan matahari yang cerah. Saya pun bangun dan berjalan ke pantai. Airnya begitu tenang. Suasana ini dimanfaatkan oleh teman saya, Haries, untuk bermeditasi. Serasa pantai ini hanya milik kami. Pantai Nusa Barung memiliki beberapa spot foto yang bagus saat pagi. Ketika berjalan ke sisi lain pantai, saya menemukan beberapa jejak ular di pasir, ini memang karena Nusa Barung masih rimba. Setelah itu, saya snorkeling di perairan pantai. Dataran di bawah laut tidak terlalu dalam sehingga aman bagi kalian yang belum bisa berenang.

Selain itu, terdapat terumbu karang yang dilindungi dan beragam spesies ikan. Sepanjang hari saya menikmati waktu saya di dalam air, melihat berbagai jenis ikan. Setelah snorkeling sampai jam 10, saya membuat makanan sendiri sementara yang lain bersenang-senang di pantai. Saat itu, stok makanan mulai berkurang dan ketersediaan air mineral kami terbatas. Jadi kami mulai berhemat hingga kami dijemput. Pada jam 2 siang, kami berkemas barang-barang kami. Kami membakar semua sampah plastik yang bisa kita temukan di sekitar kemah kami untuk menjaga kebersihan alam. Kami dijemput oleh Pak Joko pukul 3 sore akhirnya kami kembali ke Pelabuhan Puger.

Itulah pengalaman menarik saya dari penjelajahan pulau tanpa penghuni bersama dengan teman-teman ke Pulau Nusa Barung.