"Kamu lagi apa? Sibuk yaa?"
"Kamu kemana aja sih? aku kangen :')."
"Kapan ada waktu buat pulang?"
Perbincangan soal kapan pulang dan kapan bisa bertemu sudah jadi makanan kita sehari-hari saat waktu telah mengulur jaraknya ini semakin panjang. Tidak bisa bertemu setiap hari tak ayal menyisakan banyak lubang-lubang kecil di hati. Kadang aku berfikir, hubungan apa sebenarnya yang kita jalani? Mengapa bisa seberat aku mengangkat barbel besi? Bagaimana mungkin suatu relasi bisa terjalin tanpa kontak mata yang rutin dilakoni? Tapi, bagiku kamu adalah suatu ketidakmungkinan yang ternyata memang bisa dijalankan. Pertemuan yang terjadi hanya beberapa kali dalam setiap bulan tak akan pernah bisa memudarkan seluruh keyakinan.
Lihat ! kita sangat bersahabat baik dengan jarak dan kesabaran. Hingga kita berdua meyakini waktu yang terbaik pasti akan mempertemukan. Rindu? sudah pasti. Bagaimana mungkin kuatnya rasa ini tak membuat kita ingin untuk selalu saling mendampingi?
Iri rasanya melihat kawan-kawan sejawat dengan ringan punya kesempatan untuk duduk bersama, selfie bersama, menyelipkan jemari satu sama lain di setiap sudut tempat yang aku kunjungi. Sementara aku? masih harus bersabar menunggu kepulanganmu yang entah kapan. Aku tahu kamu punya kesibukan. Aku mengerti dan paham apa yang sedang kamu perjuangkan, betapa semuanya adalah upaya demi masa depan.
Jarak telah memberi kita banyak pelajaran. Hubungan yang dijalani dalam keterbatasan terbukti membuat ikatan kian pejal namun jarak telah mengajarkan semuanya kepada kita. Tidak bisa bertemu sepanjang waktu membuatmu dan aku lebih menghargai semua yang diberikan semesta. Waktu yang ada sangat percuma jika digunakan hanya untuk sebuah pertengkaran. Dalam-dalam, kusesap habis aroma tubuhmu saat kau memeluk erat tubuhku disetiap pertemuan kita. Hal itu menjadi cadangan kekuatan saat kita kembali harus dipisahkan jarak dan kesibukan selama beberapa waktu.
Perlahan, kita mengerti bahwa ikatan adalah soal frekuensi hati. Ia akan tetap terjalin baik selama masih diusahakan dalam satu gelombang yang telah disepakati. Mulai saat ini bolehkah jarak tak lagi dipandang sebagi musuh bersama?
Kau dan aku sesungguhnya sedang merayakan sebuah kemewahan yang bernama "JARAK". Ada pribadi yang tumbuh menjadi orang yang lebih bersabar. Ada pria yang berkembang menjadi seseorang yang lihai menjaga diri dan lisan. Dalam rapal pembangkit semangat, di ujung malam ada wanita yang berkembang menjadi pribadi yang tak mudah menyerah pada keadaan. Ada gadis kecil yang kini sudah belajar bagaimana sebuah komitmen harus dipertahankan. Jika boleh memilih, tentu aku ingin disisimu setiap waktu. Namun kau tak perlu khawatir, sebab jarak ini sangat kusyukuri.