Masih terbayang di benak saya ketika kalimat “tidak cocok” kamu ucapkan. Apa yang terjadi? apa saya berbuat kesalahan yang membuatmu mati rasa? tidak siapkah kamu untuk menjadi penghuni di satu rumah saja? Tak pernah ada alasan yang kamu sampaikan. Entahlah sampai kapanpun kamu tak akan berani memberi jawaban atas pertanyaanku.

Suatu hari kamu hadir di hidupku. Saat hatiku benar-benar kosong. Saat hati ini belum terjamah sama sekali dengan cinta. Ya, kamu yang memulainya dan aku pun mulai berani membuka hati. Hingga saya tak tersadar untuk apa kamu hadir di hidupku. Mungkin saya telah tersihir oleh mantramu. Atau hanya perasaanku yang berkata itu dan kamu tak merasakan hal yang sama. Tanpa kamu sadari telah ku persiapkan sepotong hati untuk kamu tinggali. Sang waktu berjalan begitu cepat, hingga waktu mulai menunjukkan bahwa rasamu itu memudar. Tidak seperti dulu. Kamu perlahan-lahan menghindar. Entah kemana dan apa yang kamu lakukan. Jujur saja, saya pernah menekuk dua lutut ini ke dada dan menutupinya dengan muka lalu mulai meneteskan air mata. Setiap malam menangisi hati yang mulai terkoyak. Kepercayaan yang saya bangun sendiri ternyata mulai hancur perlahan-lahan. Saat saya benar-benar merasa nyaman tapi seperti angin yang datang tiba-tiba kamu pun pergi dengan kesuraman.

“Hati yang terkoyak ini sakitnya sampai ke pembuluh. Hingga syaraf tubuh ini bergetar tiada henti. Butuh dosis obat yang tinggi untuk menurunkan detak jantung yang tak terkira”.

Sekarang saya sadar. Ada wanita lain yang masuk dalam daftarmu. Bukan saya saja. Memang bodohnya diriku yang belum mengenalmu dengan baik berani mempersilahkan masuk. Tapi sebagai tuan rumah yang baik, jika ada tamu yang datang apakah sopan hanya mengajak ngobrol di teras rumah? Darimu saya belajar bahwa hati tak boleh diserahkan ke sembarang orang. Ada masa dimana saya menyendiri dan mulai menyesali. Pilihan hati ini tidak tepat. Tak ada tempat untuk saya disana. Karena saya hanya menjadi persinggahanmu di tengah perjalanan asmaramu. Kamu melalang buana entah kemana, mampir ke tempat yang berbeda-beda. Sampai lelahmu terbayar dengan hasil yang kamu dapat. Menemukan tempat yang menurutmu lebih indah daripada persinggahanmu yang dulu-dulu. Itulah dirimu yang sebenarnya. Memang tak terpungkiri jika seseorang menemukan yang lebih baik itulah yang akan menjadi pilihannya.

Luka itu sampai sekarang masih segar. Untuk apa kamu hanya memperlakukanku sebagi opsi? Mengapa saya mengenal dirimu yang ternyata hanya ingin memasukkanku ke dalam daftar pilihanmu. Kamu memilih satu-persatu, mencoret yang tidak perlu, setelah itu membuangnya begitu saja. Kini saya mengerti kamu hanya ingin memilih yang terbaik dari daftar itu.

Advertisement

“Tapi jika kamu ingin mencoba dulu mungkin hati saya tak akan sesakit ini”.

Kadang saya membenci hati saya sendiri, mengapa saya belum bisa menyatukan potongan-potongan hati yang berserakan. Saya lelah. Tapi saya ingin mengeluarkanmu dari hati ini. Entah sesakit apa yang kurasa, sebelum hati ini benar-benar membatu. Saya mulai menatanya kembali. Rencana-rencana yang dulu pernah tenggelam akan hadirmu kini mulai terangkai kembali. Saya punya tujuan hidup yang lebih baik daripada merencanakan bagaimana hatimu bisa kembali padaku. Membangun jiwa dari ketidakpastian yang pernah kamu torehkan dulu adalah my life goal. Sekarang adalah masa dimana saya akan berjuang. Bahwa saya juga berhak menjadi pilhan terbaik untuk hati yang tak pernah bermain-main.

“Dari caramu memperlakukan wanita, saya belajar bagaimana menyerahkan hati untuk calon penghuni sejati”.

Ini bukan caraku membalas perlakuanmu dengan mendoakan keburukan untukmu. Pesan tersiratmu yang menunjukkan bahwa saya wanita biasa dan tak punya apa-apa malah menjadikanku manusia yang bisa menghargai diri sendiri. Wanita yang mulai meniti masa depan untuk keluarganya kelak. Memang untuk saat ini saya belum siap membuka hati lagi. Tapi lebih tepatnya adalah menata hati dan jiwa untuk mulai menerima laki-laki yang benar-benar pantas.

“Memang sekarang saya belum menjadi apa-apa, tapi ingatlah suatu hari nanti. Saat saya bertemu denganmu, hati dan senyum ini akan menunjukkan bahwa saya bukan wanita yang pantas kamu singgahi sesuka hatimu".

Kini senyumku yang dulu menghilang mulai menghias lagi. Kamu bukan lagi orang yang menetap dalam hati ini. Walaupun dulu kamu pernah menghuninya. Ikhlas adalah jalan terbaik. Agar episode-episode suram itu berakhir dan hanya menjadi setumpuk kenangan. Saat nanti kita dipertemukan oleh sang waktu, saya berharap kamu menjadi lelaki yang tidak pernah mempermainkan wanita. Lelaki sejati yang bertanggung jawab. Karena dalam lukaku dulu aku sempat berucap semoga kamu segera menemukan jodohmu. Ya, dan tak perlu waktu lama sekarang sudah terbukti bahwa kamu sudah menetapkan hatimu untuk wanita itu. Entah kelak dia jodohmu atau bukan. Perlakukan dia sebaik-baiknya wanita. Mungkin ini adalah hasil dari sederet daftar pilihanmu yang dulu atau mungkin jawaban dari doaku untukmu.

“Saat serpihan hati masih berceceran, doa adalah cinta sejati yang sesungguhnya”.