Berbicara tentang jodoh adalah perkara sensitif untuk diperbincangkan ketika teman-teman yang seumuran, satu persatu mulai dipertemukan dengan pasangan hidupnya. Apalagi di usia kita yang sudah matang untuk urusan pernikahan. Tetapi usia bukan menjadi salah satu ukuran bahwa seseorang harus menikah di umur tesebut. Selain usia, kesiapan individu masing-masing juga harus menjadi pertimbangan. Sejatinya pernikahan adalah penyatuan dua insan manusia. Disini ada dua orang, dua hati, dan tentu dua pemikiran untuk menuju satu tujuan dan satu keputusan. Maka dari itu diperlukan sikap saling menerima dan saling melengkapi. Manusia bukanlah makhluk yang sempurna, setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kamu harus siap bukan hanya menerima kelebihanku saja, tetapi harus siap juga menerima segala kekuranganku. Dan aku berharap kamu dapat menutupi kekuranganku dengan segala kelebihanmu. Begitu juga sebaliknya. Beberapa teman ada yang dengan mudah dipertemukan dengan pasangannya, ada juga yang perlu waktu lebih hingga akhirnya dipertemukan. Dan barangkali saja aku ini termasuk golongan yang perlu waktu lebih.

Sudah 24 tahun aku menjalani kehidupan yang begitu keras ini. Awalnya aku hanyalah gadis lemah yang cengeng, kini semakin banyak aku melewati hari, aku tumbuh menjadi gadis yang kuat, kuat menjalani semua permasalahan dalam hidup ini termasuk masalah jodoh. Ya, entah sudah berapa kali hati ini patah lalu aku coba sembuhkan lagi. Kemudian patah lagi, lalu aku mencoba menatanya kembali. Hingga pernah suatu ketika aku merasa hampir menyerah dan bosan, bosan dengan fase pertemuan – menjalani hubungan – perpisahan.

Saat aku hampir menyerah, tiba-tiba kamu datang. Kamu, teman sekelasku dulu, tiba-tiba datang dan menawarkan secercah harapan disaat hati ini sedang berantakan. Awalnya aku berfikir kamu datang hanya untuk bertegur sapa karena sudah hampir sepuluh tahun kita kehilangan komunikasi. Awalnya kita saling bertukar informasi tentang kesibukan yang dijalani masing-masing untuk saat ini. Kau mulai mengajakku mengingat semua memori di sekolah dahulu dan bercerita bagaimana kabar teman-teman sekarang. Kamu juga bercerita bahwa hatimu baru saja berantakan karena telah dikecewakan oleh seseorang. Merasa ada teman yang sama-sama hatinya sedang berantakan, aku pun juga berbagi cerita denganmu tentang kesedihanku yang sudah berulang kali hatiku ini tersakiti. Semenjak itu hampir setiap hari kita berbagi cerita, entah suka ataupun duka layaknya dua orang yang sudah lama saling kenal. Memang kita sudah berteman sejak duduk dibangku sekolah menengah pertama, namun selama tiga tahun itu kita hanya sebatas mengenal saja, tidak lebih. Selang beberapa minggu kemudian, obrolanmu mulai berbeda. Dari yang mulanya bercerita tentang kabar teman-teman dan kerjaan, kamu beralih ke persoalan perasaan. Kamu mengungkapkan semua perasaanmu terhadapku. Perasaan yang sama sekali tak pernah terbesit dalam fikiranku. Tetapi kamu terus berusaha meyakinkanku, meyakinkan bahwa kamu tidak akan pernah mengecewakanku. Saat itu juga perasaan antara senang dan sedih bergejolak dalam dada. Senang karena mengira mungkin kamu adalah orang yang tepat yang Tuhan kirimkan untukku. Dan sedih bila kamu adalah orang yang salah, aku takut kembali terluka, takut kehilangan seorang pasangan sekaligus seorang teman. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mencoba menjalani hubungan denganmu.

Semua cerita cinta pada awalnya memang sangat indah. Aku selalu berdoa bahwa semoga kamu adalah seseorang yang tepat dan bisa bersamaku seterusnya. Berkisar dua bulan lebih aku bersamamu dan semuanya berjalan seperti biasanya. Tentu kita juga menemui perbedaan-perbedaan, namun semua itu dapat kita selesaikan. Akupun telah menaruh harapan besar padamu waktu itu. Namun aku salah besar. Sampai pada akhirnya aku harus bertemu lagi dengan satu kata ini untuk yang kesekian kalinya, yaitu perpisahan. Puncaknya kita menemui sebuah perbedaan. Perbedaan yang kali ini benar- benar tidak bisa kita pecahkan dan tidak bisa dipaksakan. Tentang keyakinan. Keyakinan kita yang berdeda. Tuhan kita sama, cara beribadah kitapun juga sama. Tetapi keyakinan kita dan keluarga kita yang berbeda. Kamu berusaha menjelaskan semuanya. Awalnya aku tak bisa untuk menerima, aku marah, aku memberontak. Hati ini masih saja selalu sibuk mencari pembenaran. Namun logika memberiku jawaban untuk berhenti. Berhenti dan mengakhiri semua kisah ini. Menyakitkan? Memang. Tapi aku bisa apa. Aku tidak bisa menyalahkan kamu, menyalahkan diriku sendiri, ataupun menyalahkan keadaan. Aku terlalu egois jika harus menyalahkan Tuhan. Karena aku percaya bahwa Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang pastilah ada tujuan, entah tujuan itu untuk membuat kenangan manis ataupun membuat tangis. Memang butuh waktu yang tidak instan untuk bisa menerima semua kenyataan. Menerima keadaan semacam ini. Pelan tapi pasti. Perlahan-lahan hati ini terus belajar tentang arti perpisahan dan keikhlasan. Harapan tinggallah harapan. Dan terkadang kenyataan memang tak seindah dengan harapan.

Kesedihan yang sangat begitu menyesakkan dada. Namun aku sadar, bahwa aku tak boleh terus menerus terpuruk dalam kesedihan ini. Aku masih punya keluarga dan teman-teman yang sangat peduli terhadapku. Mereka kembali menasehati, menghibur dan menguatkanku. Dengan tertatih-tatih aku mencoba bangkit kembali. Mengumpulkan kembali kepingan-kepingan hati ini. Aku harus bisa melewati ujian ini. Sempat terbesit dalam benakku, kenapa Tuhan memberiku ujian seperti ini lagi. Aku mulai mencari apa yang salah dengan diri ini. Berbagi cerita keluh kesah dengan keluarga dan temanku misalnya, sampai pada akhirnya aku menemukan kesalahanku, kesalahan yang ada pada diriku. Aku malu padamu Tuhan. Sudah terlalu banyak kesalahan yang telah aku perbuat selama ini. Salah satunya aku terlalu berharap kepada seseorang sehingga sempat melupakanmu. Engkau yang maha pembolak-balik hati. Bahwa Engkaulah yang mengatur segala kehidupan di dunia ini. Engkaulah sang sutradara kehidupan. Aku harus tetap berbaiksangka kepadamu bahwa Engkau sedang menegur kali ini. Semua yang terjadi padaku pun sudah atas kehendak-Mu. Sudah digariskan pula. Jodoh tidak perlu dicari, teruslah memperbaiki diri menuju lebih baik lagi. Karena Tuhan tahu mana yang tepat untuk hamba-Nya. Karena sesungguhnya Tuhan telah menyiapkan seseorang untuk kita. Seseorang yang tepat dan akan dipertemukan pula di waktu yang tepat.

Advertisement

Daripada sibuk mencari, lebih baik sibuk mempersiapkan diri.

Ketika kita jatuh cinta, kita cenderung berharap kepada seseorang tersebut, sampai kita lupa bahwa seharusnya kita hanya boleh berharap kepada Sang Pencipta. Ketika kita berharap pada manusia, dan ternyata tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka yang kita dapat hanyalah kekecewaan. Lain halnya jika kita pasrahkan semuanya kepada Tuhan, maka ketenangan dan keikhlasan yang akan kita dapatkan. Ingatlah nasehat lama bahwa perempuan yang baik hanyalah untuk laki-laki yang baik. Teruslah tingkatkan ibadahmu, berbuat baik kepada semua orang, dan bersabarlah.

Jangan bosan memperbaiki dan memantaskan diri. Bersabarlah wahai hati, semua akan indah pada suatu saat nanti.

#MemantaskanDiri