Mengenal sesorang sejak lama, selalu ada saat suka dan duka, tawa selalu ada ketika bersama, seolah dunia hanya milik kita.

Begitulah yang dirasakan ketika bersama sahabat terdekat. Memiliki sahabat yang berbeda lawan jenis memang sangat riskan. Terkadang ada rasa yang tenggelam didalamnya. Rasa yang sebenarnya biasa bagi sebagian orang namun untukku rasa ini sungguh berbeda.

Berawal dari sebuah persahabatan yang kita jalin. Saat jatuh selalu bersimpuh di pundak yang penuh dengan peluh. Sahabat, bersamamu aku menjadi apa adanya diriku. Waktu demi waktu bersama, berjalan sesuai kehendakNya. Apakah ini akan menjadi sebuah cinta? Mungkin adalah jawabnya.

Dipertemukan pada satu tempat yang sama. Dulu, tak pernah sedikitpun terpikir akan menjadi dekat. Pertengkaran sebuah gelas menjadi awal mula kita tertawa bersama akhirnya. Kau menggunakan gelas milikku tanpa seijinku, padahal kau tau itu biasa aku pakai. Pertemuan yang sangat sederhana. Setelah pertengkaran itu, kau meminta maaf dengan cara mengajakku makan bersama. Yah, ajakan yang waktu itu aku pikir tak buruk. Ternyata setelah mengenalmu, semua cerita bisa kita sambungkan. Berhari-hari selalu bersama tak pernah kita merasa bosan. Kau bukan pasangan, namun kau partner yang baik dalam segala hal. Termasuk partner dalam memahami keburukan kita masing-masing, contohnya adalah kita sama-sama suka kentut di sembarang tempat. Sangat jorok untuk sebagian besar orang, tapi bagi kita itu adalah keseruan tersendiri.

Bukan hanya jorok yang selalu melewati daftar list hari-hari kita. Hobi kita sama, suka dengan film yang sedang trend, suka dengan traveling murah meriah, suka dengan wisata kuliner yang sederhana. Satu hal yang kau tak suka namun aku sangat suka, yaitu membaca dan menulis. Hobiku adalah membaca dan menulis, tapi kau sangat malas untuk melakukan dua kegiatan tersebut. Namun, kau selalu membuatku ingin terus bertambah. Semangat yang besar darimu, mendongkrak keinginanku untuk terus belajar agar setiap harinya semakin baik dalam menulis. Akupun sebaliknya terhadapmu, tak pernah menyerah untuk menjadi supporter utama dalam menghadapi skripsi yang belum sempat kau selesaikan. Kau terlalu ulet untuk bekerja, sehingga tanggung jawab terhadap pendidikanmu tak kunjung kau penuhi.

Advertisement

Rasa ini semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Dari rasa yang awalnya hanya sebatas sahabat, kini berubah ingin memiliki. Aku tak berani mengungkapkan itu, aku takut kehilangan jika kau tak memiliki rasa yang sama terhadapku. Kali ini, aku tak akan memaksa keadaan, aku tak mau terlalu berharap. Namun, aku menyerahkan kepada Tuhan, jika memang kau adalah jawaban atas segala doaku. Tuhan akan menunjukan kuasanya kepada kita.

Denganmu, aku tak pernah ingin berhenti berkarya. Selalu banyak energi positif ketika berada disampingmu. Menghasilkan karya dan mengejar impian agar kau bangga menjadi sahabatku.

Bersamamu, aku ingin selalu terus bertambah. Semoga kita sama-sama ingin selalu menjadi lebih baik. Bukankah keadaan sama-sama menjadi lebih baik, adalah salah satu ciri bahwa kita tertakdirkan untuk bersama?. Tuhan tau jawabnya. Nikmati saja rasa yang ada.

Wahai sabahatku, ingin rasanya dimiliki olehmu selamanya.