Saat mereka sangat bahagia dengan kata-kata rayuan romantis dari pasangannya, aku sudah cukup bahagia dengan sedikit perhatian darimu. Terkadang malahan kita sering tertawa terbahak-bahak sendiri melihat kekonyolan yang kita lakukan jika salah satu diantara kita mencoba merayu. Mungkin kita sama-sama risih dengan kata rayuan.

Saat mereka menginginkan breakfast sambil menikmati sunrise dipinggir pantai, aku hanya perlu pergi keluar membeli 2 bungkus bubur ayam dan menyantapnya sambil menikmati acara TV di pagi hari bersamamu.

Saat mereka menginginkan jalan- jalan menyusuri indahnya hutan karet atau bukit di sore hari, kita hanya melakukan perjalanan transit dari satu tempat temanmu ketempat temanmu yang lain untuk bersilaturahmi, atau bahkan kita hanya menghabiskan sore didepan TV melihat acara kesukaanmu.

Saat mereka menginginkan kebahagiaan bersama pasangannya lewat Dinner yang romantis di Restoran ternama, atau Kafe yang mewah dengan keindahan cahaya dari lilin-lilin kecil dan disertai serentetan menu makanan yang mewah, bersamamu aku sudah sangat bahagia hanya dengan menikmati dinner di dibukit bintang dan memesan indomie rebus, atau bahkan hanya dinner di warung angkringan pinggir jalan dengan makan satu bungkus “nasi kucing”.

Saat mereka menginginkan liburan yang panjang ketempat wisata, bersamamu aku hanya duduk dibawah pohon bambu pinggir sawah, sambil kau bilang, “udara yang sejuk dibawah pohon bambu, bayangkan saja kita sedang berjemur dipantai, dan lihatlah padi yang bergoyang oleh angin itu ibarat ombak dilautan.

Advertisement

Orang- orang itu yang melihat kita pasti iri, romantisnya pacaran menggelar tikar dibawah pohon bambu”. Hahahaha. Merasa konyol dengan ucapanmu, tapi menertawakan kekonyolan kita bersama, emang lebih bahagia.

Bersamamu bahkan aku hanya menghabiskan weekendku untuk berkunjung ketempat favoritmu, bengkel motor milik temanmu menghabiskan weekend untuk melihatmu mengotak-atik motor yang kau rancang sendiri.

Saat mereka ingin setiap saat berada dekat dengan pasangannya atau sekedar berbagi kabar via HP dan social media, kita justru menghabiskan lebih banyak waktu untuk kesibukan kita masing-masing, kau dengan tugasmu sebagai abdi Negara dan aku dengan tugasku sendiri mensejahterakan umat. Terkadang sesekali dalam kesibukan kita hanya bertukar suara lewat telepon yang entah hanya beberapa detik percakapan saja.

Aku yang lebih sering merengek karena rindu, kau sambut dengan candaan menggoda, “engga usah pakai marah, ngomong aja kangen” atau aku yang kadang bersikap ingin dimanja dan selalu kamu balas dengan kata, “aku engga suka kamu manja-manja kaya gitu, dari dulu kan kamu sudah mandiri, jadi aku engga mau manjain kamu, aku suka kamu yang mandiri”.

Bersamamu aku tak perlu semua yang berlebihan, sederhana saja, sesederhana kau meperlakukanku itu sudah sangat spesial dan membuatku bahagia.

Dan bersamamu pula aku mengerti kalau untuk bahagia itu bukan dengan keromantisan, bukan tentang kemewahan, bukan tentang setip waktu, tapi hanya perlu beberapa waktu berkualitas yang kita nikmati bersama, duduk berdua sajapun sudah cukup bahagia.

Dirimu memang bukanlah orang yang selalu mengistimewakan aku dengan kemewahan, tapi kesederhanaan itu sudah lebih dari cukup membuatku tersenyum bahagia atas setiap tingkah konyol yang tak ada habisnya membuatku merasa istimewa bersamamu.

Terimakasih buat KAMU-nya aku, yang selalu menjadikan KITA.