Bersamamu, membicarakan cinta tidak lagi tentang mimpi-mimpi yang akan kita bangun di depan sana. Tidak lagi tentang dimana kita akan tinggal, atau seperti apa keluarga yang akan kita punya nantinya. Bukan berarti kita tidak menyiapkan itu semua, bukan, ini hanya tentang bahagia yang saya rasa menjadi lebih sederhana maknanya. Sesederhana saya yang merasa bahagia saat melihatmu tertawa, atau sesederhana saya yang tidak pernah merasa kurang walau hanya menghabiskan akhir pekan di rumah saja. Bahagia bagi saya menjadi lebih ringkas syaratnya, asal kamu ada, asal kita bersama.

Jangan terkikik dulu, saya tidak sedang merayu. Perempuanmu ini sudah khatam dengan semua lukanya di masa lalu. Tentu saja saya telah belajar banyak dari segala macam hal yang pernah meremuk hati waktu itu. Jatuh cinta jelas melumpuhkan logika, tapi saya punya keyakinan tersendiri hingga memutuskan untuk berhenti di kamu. Kamu dengan segala keanehanmu, justru itu yang saya mau. Kamu dengan segala kekuranganmu, entah mengapa malah mendorong saya untuk maju, menyambutmu. Jalan yang kita lalui tidak akan selamanya mulus lurus tanpa ada sandungan dan batu, bahkan mungkin sesekali kita akan melewati track yang terjal dan berliku. Siapkah kamu? Karena saya bersedia melaluinya bersamamu.

Sejak datang, kamu membawa banyak hal yang membuat saya selalu bersyukur. Ide brilian yang tiba-tiba kamu sumbangkan pada detik-detik akhir deadline pekerjaan, ucapan selamat malam yang tidak pernah terlewat sebelum saya tidur, sampai kebiasaan absurdmu yang tingkat keanehannya kadang tidak bisa diukur. Kita juga tidak selalu akur, tapi tidak sekalipun terlintas di pikiran saya untuk menyerah pada hubungan ini lalu kemudian mundur.

Apa kamu tahu? Saya justru menyukai bagaimana terkadang kamu bisa menjadi manusia paling rewel di dunia hanya karena saya lupa makan siang saja. Kamu yang selalu mengolok cara saya berkendara, atau memuji merdunya suara saya walau dengan menahan tawa. Hal-hal sederhana macam itu yang justru membuat saya yakin hubungan ini akan selamanya berwarna.

Bersamamu, saya selalu merasa cukup dengan apa adanya diri saya. Saya merasa tidak perlu merias diri sampai secantik bidadari hanya agar kamu betah di samping saya. Saya tidak pernah dituntut untuk bisa memasak seenak chef bintang lima, dan saya selalu kamu bebaskan untuk melakukan apapun yang saya suka. Kamu akan tersenyum saat mencicipi masakan saya yang kebanyakan garam, atau tetap senang hati menghabiskan kopi buatan saya yang tidak pas takaran, lalu berkata “tidak apa, nanti kita belajar sama-sama”. Kamu menghadirkan rasa cukup dicinta, rasa diterima, rasa dipercaya sepenuhnya, kamu menantang saya untuk bertanggung jawab dan menjadi dewasa. Dari semua rasa yang kamu beri itulah saya justru merasa harus terus belajar hingga menjadi versi terbaik dari diri saya.

Advertisement

Kemampuanmu menghadirkan tawa selalu bisa menjadi penawar ajaib dari rasa lelah di penghujung hari. Rasa aman tetap hadir walau kita lama berjauhan, kita paham betul bahwa kita sedang sama-sama mengejar masa depan, tidak masalah jika sesekali kita berjalan sendiri-sendiri. Toh jarak tidak pernah membuat kita merasa sepi dan tidak ditemani. Tidak perlu ada kekhawatiran yang menghampiri, karena kita tahu bahwa di antara kita tidak akan ada yang pergi, kita percaya kita sudah sama-sama berhenti mencari.

Kita bukan bersama untuk menghadirkan debar hebat yang hanya sementara. Kita menjalani semuanya dengan pas takaran saja, tidak berlebihan, sesuai dengan porsinya. Apa adanya kamu sudah cukup melengkapi diri saya, tapi kita tidak pernah keberatan untuk berbenah dan mendewasa bersama.

Kita, semoga selamanya.