Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti sebuah seminar, dengan judul tema persiapan SDM untuk menyambut MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), pembicara utama adalah seorang owner sekaligus CEO sebuah perusahaan SDM di Yogyakarta, sebut saja Bento, eh jangan jelek. Sebut saja Mr. Black.

Kurang lebih 90 menit Mr. Black berdiri di depan untuk menyampaikan materinya. Bahwa kami haru siap menyambut MEA sekaligus bersaing dalam konteks SDM dengan tenaga kerja negara lain. Beberapa sekolah dasar internasional di Jakarta sudah mempekerjakan professional dari Philipine dan India, beberapa perusahaan multi nasional sudah mempekerjakan tenaga kerja dari Singapore dan Vietnam. Posisi-posisi yang harusnya sangat bisa diisi oleh “produk lokal”. Menurutnya, satu yang masih harus diperbaiki oleh kebanyakan tenaga kerja di Indonesia, kecapakan dalam Bahasa Inggris.

Letak geografis Indonesia juga mendapat perhatian khusus oleh Mr. Black, di layar proyektor, dia menampilkan peta Asia, bahwa kekuatan ekonomi dunia ke depan ada di empat negara, dan semuanya di Asia, adalah China, India, Vietnam, dan Indonesia!

Kenapa Indonesia? Selain kita semakin berani dengan ekspansi industri terpadu (beberapa industri tekstil kita sudah membuka cabang di negara tetangga), dengan letak geografis yang kita miliki, banyak negara yang berlomba untuk mendekati kita agar kapal pengangkut barangnya boleh dan bisa melewati perairan Indonesia. Sepertinya sederhana, mungkin. Yang pasti jalur laut masih sangat dibutuhkan untuk menjadi media ekspor impor negara-negara besar.

Tak hanya bicara soal materi MEA, saat itu Mr. Black juga menceritakan tentang perkembangan perusahaannya sendiri, pernah suatu kali dia dibuat pusing setengah mati, ketika karyawan terbaiknya, yang bisa dibilang mesin penggerak roda perusahaan, tanpa komunikasi dari hati ke hati dengannya. Berkhianat. Duh..

Advertisement

Karyawan terbaiknya itu, sebut saja Bento, eh jangan jelek. Sebut saja Mr. Brutush.

Jadi suatu hari Mr. Brutush berbicara kepada Mr. Black,

“Pak, saya mau resign”,

Dengan muka kaget, hati bergetar, kepala nyut-nyut, kamera zoom in zoom out, Mr. Black menjawab,

“Okaiii”.

Hehe, ya nggaklah.

Mr. Black kaget bukan kepalang. Karyawan terbaiknya serasa mengucapkan, “Bapak harus berpikir untuk mengganti mesin di perusahaan ini, tentunya selain saya”.

Seseorang yang memiliki kemampuan Nomor 1 di perusahaan, pergi, dengan alasan untuk sekolah lagi di luar kota.

Apa boleh buat, dengan sangat berat hati, Mr. Black melepasnya.

Singkat cerita, meski dibuat pusing dan tertatih-tatih, Mr. Black berhasil mengembalikan konsistensi perusahaannya. Walaupun harus dibayar dengan harga yang mahal, selain harus mefokuskan pikirannya ke perusahaan, ia harus mencari pengganti Mr. Brutush, dan percayalah, semua itu butuh biaya.

Beberapa bulan kemudian diketahui Mr. Black, bahwa ternyata, ternyata…

Mr. Brutush bekerja di perusahaan kompetitor, masih di satu kota, dengan gaji dua kali lipat dari gaji yang diberikan Mr. Black.

Siapa yang tak tergoda dengan tawaran yang diberikan, dan kita semua tahu, kenapa semua itu bisa terjadi ke Mr. Brutush? Ya tepat, karena dia punya keahlian.

Dengan keahlian yang dimiliki Mr. Brutush, perusahaan kompetitor yang mendapatkan Mr. Brutush menang 2 – 0. Yang pertama, ia punya karyawan dengan skill mumpuni, tak diragukan, yang kedua perusahaan yang ditinggalkan akan kalang kabut dengan perginya Mr. Brutush. Doi mesinnya je buoss.

Terpikirkan oleh saya,

Jika perusahaan kompetitor itu sebut saja namanya Bento Ltd, eh jangan jelek, eh tapi bagus juga deng. Oke, Bento Ltd.

CEO Bento Ltd : “Selamat pagi, bisa bicara dengan Mr. Brutush?”

Olive : Mr. Brutush lagi mandi tsay, ntar telepon lagi ya.

beberapa menit kemudian….

CEO Bento Ltd : “Selamat pagi, bisa bicara dengan Mr. Brutush?”

Mr. Brutush : Iya saya sendiri, jomblo.

CEO Bento Ltd : Nah olive tadi bukan cewek lo?

Mr. Brutush : Bukan, itu penjual ayam goreng kremes

CEO Bento Ltd : Oke. Jadi begini Mr. Brutush, saya pimpinan Bento Ltd, mengajak anda untuk bergabung dengan perusahaan kami.

Mr. Brutush : Wah, terimakasih untuk tawarannya, tapi saya masih betah bekerja di perusahaan saya sekarang.

CEO Bento Ltd : Yakin ?

Mr. Brutush : Hehehee, wani piro ?

Disepakati, Mr. Brutush diberikan 2 x gaji, dan berbagai fasilitas menggiurkan di perusahaan baru. Sepakat. Mr. Brutush resign.

Talent war, atau di Indonesia lebih dikenal sebagai pembajakan karyawan.

Dilematis dengan problem semacam ini, bahwa seorang karyawan dituntut loyalitas dan moralitas yang sehat, karena sesukses dan sekaya (secara materi) apapun kita menjadi manusia rasanya akan percuma jika tak dibarengi dengan sikap dan sejarah yang baik kepada orang lain, dalam kasus ini termasuk kepada Mr. Black.

Andai saja Mr. Brutush menyampaikan alasannya dengan jujur dan gentle, saya yakin Mr. Black juga tak akan membunuhnya, paling-paling dibuat cacat. Hahhaa. Karena dengan kejujuran yang ia sampaikan, ia tak punya bom yang akan meledak kapanpun yang tak ia ketahui. Setiap karyawan punya hak untuk menentukan pilihannya, termasuk pergi dan menjadi mesin di perusahaan lain, itu hak. Masalahnya masih banyak yang enggan jujur dengan berbagai alasan, tak enak dengan bosslah, takut dianggap jahat karena tak loyal lah, takut dianggap tak tau terima kasih lah, takut bikin boss kecewa lah, dan takut-takut yang lainnya. Lah. Lah. Lah.

Padahal dari sisi pemimpin perusahaan pun, pasti sudah berpikir bahwa suatu saat ada fakta seperti ini. Itu pasti. Kalo tidak, dia belum layak jadi pemimpin. -Red

Saran saya kepada Brutush-Brutush yang lain, jangan bohong, jangan diam, dan jangan jadi pecundang. Kita hidup di era modern, talent war adalah seni seorang pemimpin menggoreskan kuas (motivasi) ke kanvas (perusahaan). So, jujurlah, apapun keinginan, apapun maksud hatimu. Sampaikan di saat yang tepat, sejauh kau bisa mengatakan apa yang mau kau katakan. Jika itu sudah kau lakukan, pimpinan pun akan akan memberikan tanggapan atas keinginanmu, bisa kau digaji sesuai yang di tawarkan kompetitor, bisa juga kau dilepas dengan keikhlasan, kenapa ikhlas, karena kau menyampaikannya dengan kejujuran. Sehingga sekalipun kau melangkah, tak pernah ada bom yang lancang mengintai di belakangmu. Pimpinan pun akan melambaikan salam perpisahan dengan senyumnya yang paling hangat, paling mesra.

Bayangkan. Indah bukan?