Hai kalian semua, mungkin kalian bingung dengan artikel di atas "BERSYUKURLAH MENIKAH SEBELUM MAPAN", karena jika kita sebagai perempauan ataupun laki-laki yang menunda menikah hanya dengan satu alasan ‘BELUM MAPAN’. Saya disini tidak akan mempermasalahkan apa sih definisi dari kata ‘mapan’ di sini, karena mapan itu bagi setiap orang lain atau berdeda orang akan mempunyai atau punya suatu ukuran yang berbeda-beda dan pengertian yang berbeda juga. Tetapi, bagi mereka yang masih ragu atau meragukan untuk menikah karena ingin menunggu dirinya mapan dan serba terpenuhi . Itu sangatlah salah besar , maka dari itu ijinkan saya untuk memberikan suatu nasihat ataupun kutipan apada kalian " Menikahlah sebelum mapan atau bersyukurlah bagi kalian yang menikah sebelum mapan" .

Mungkin di dunia ini semu orang butuh seseorang yang bisa menemani hidup bersama nya laki-laki maupun seoramg perempuan pasti akan membutuhkan seorang yang bisa hidup bersama nya yaitu mencari calon pendamping.Di dunia tidak ada seorang pun yang sempurna dimana kala kesempurnaan hanya milik yang MAHA KUASA sama hal dengan arti kata "mapan" semua orang tidak ada yang Mapan secara langsung dan itu butuh proses.

Bagi laki-laki yang menunda untuk menikah dengan alasan " belum mapan" maka solusinya itu carilah perempuan atau calon pendamping yang bisa menerima dengan kerendahan hati " menemani hidup sebelum mapan sampai mapan".

Bagi saya menikah bukan hal hanya diukur dengan materi ataupun kekayaan yang bisa di bilang "MAPAN", jika di ukur dengan materi apa pernikahan akan bahagi atau sempurna dengan adanya "MAPAN". Bagi saya tidak sempurna karena menikah itu bukan di ukur dalam segi mapan tapi di ukur bagaimana kita bisa saling menjaga "Komitmen" dalam suatu pernikahan tersebut.

Dengan adanya pernikahan sebelum mapan juga ’, seseorang akan menghadapi dengan pasangannya penuh penghargaan dan saling menghargai satu sama lain. Karena ia akan sadar bahwa ddi alam diri pasangan masing-masing tersebut ada sisi-sisi yang akan menyempurnakan dirinya mereka masing-masing. Bayangkan jika kalau cara pola berpikir seperti ini tidak ada di dalam sebuah pernikahan , hubungan suami-istri akan terus atas-bawah,tidak saling menghargai dan cenderung tidak adil satu sama lain
Tidak sedikit suami yang karena akan merasa bahwa dialah yang memiliki ‘penghasilan’, dialah yang punya uang, dialah yang hidupnya ‘mapan’, dialah yang bersinar di dunia luar, dialah yang merasa paling dihargai orang lain ,malah akan merendahkan dan tidak menghargai istrinya.

Advertisement

Mungkin jika hanya dengan nekad menikah sebelum mapan takut akan hal tidak ada biaya untuk menghidupi atau memberi makana istri dan anak nanti nya, bukan kan kah di dalam suatu pernikahan ada yang lebih berarti lagi yaitu " rasa tanggung jawab" akan mengalahkan kata "mapan".

Hanya dengan percuma menikah mapan, tapi tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap keluarga. Banyak di luar sana yang menikah sesudah mapan tapi mereka malah mentelantarkan keluarga mereka hanya dengan banyak kekayaan tidak ada kasih sayang.

Tapi, jangan hanyadengan saling mengerti untuk mewujudkan impian-impian besar saja! Pernikahan bukan hanya tentang mewujudkan suatu impian-impian besar atau ingin mecapai tujuan tertentu , tapi juga menjalani hal-hal kecil dengan keseharian itu. Jika yang ada di dalam pikiran Anda hanya ingin mewujudkan impian-impian besar dan suatu tujuan tertentu saja, sebaiknya anda jangan menikah, tapi anda ikutilah organisasi yang mewujudkan impian besar seperti tentang partai politik.

Apakah dengan cara menikah seseorang yang ‘belum mapan’ akan menjadi mapan? Belum tentu. Karena tergantung dengan kualitas pernikahan itu sendiri atau diri anda sendiri itu punya kualitas baik atau tidak. Dan kualitas pernikahan ditentukan oleh pola hubungan antara suami dan istri. Mungkin banyak suami atau istri yang memperlakukan pasangannya dengan prinsip relasi ‘aku-kamu’, dengan menganggap pihak ‘kamu’ hanya sebagai objek atau benda yang tak memiliki kehendak atau pilihan-pilihan.

Tentu saja dengan relasi semacam itu miskin empati terhadap pernikahan. Dalam relasi ‘aku-kamu’ semacam ini, pusat kepentingan ada di ‘aku’ dan ‘kamu’ adalah pihak luar, kamu adalah yang harus memerhatikan aku, kamu adalah yang harus nurut, kamu adalah objek yang tidak merdeka atau tidak harmonis pernikahannya.

Mari Kembali pada Topik kita soal dengan kemapanan, individu yang lebih menghargai individu lainnya, suami yang lebih berempati pada istrinya, memiliki peluang lebih besar untuk mapan dalam pernikahannya. Sekali lagi, mapan bukan hanya soal kekayaan yang cukup dan kecukupan finansial, tetapi ‘mapan’ dalam pengertian yang lebih luas: Menjadi pribadi yang lebih dewasa yang sanggup menghadapi beragam tantangan dalam hidupnya, mempunyai rasa tanggung jawab penuh atas pernikahnya dan sanggup menjaga sautu komitmen itu menjadi lebih berarti.

Bagi saya bersyukurlah menikah sebelum mapan, karena menikah sebelum mapan adalah hanya orang-orang tertentulah dan orang yang mempunyai tanggung jawablah yang ingin memilih menikah sebelum mapan. Maka carilah orang yang mau menyempurnakan kekurangan itu , yang bisa membuat kita lebih sukses, lebih dewasa , mempunyai kasih sayang terhadap keluarga dan mempunyai rasa tanggung jawab yang cukup.

Rasulullah SAW bersabda: Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).