Ngomongin soal berwisata di Bali, sepertinya kita tidak akan pernah kehabisan cerita. Dari tempat wisata yang sudah ada sejak dulu hingga makin banyak pula objek wisata baru yg bermunculan. Bagi kawan-kawan penghobi jalan-jalan, apalagi yang selalu update dengan tempat wisata baru pasti sudah langsung tahu ketika ditanyakan tentang Air Terjun Goa Rang Reng.

Katanya kalo weekend pengunjungnya bisa mencapai seribuan orang. Wooow.. menarik ya… Objek wisata yang dikelola masyarakat Banjar Gitgit dan baru mulai dipublikasikan sekitar bulan September 2015 ini berarti memiliki daya tarik wisata yang cukup menarik. Saya pun penasaran, jadi memutuskan untuk berkunjung ke sana. Air terjun Goa Rang Reng, berjarak sekitar 31 km dari Kota Denpasar.

Lokasinya di Banjar Gitgit, Desa Babakan, Gianyar, Bali. Dari kota Gianyar, dengan perjalanan 3km saja sudah sampai di lokasi, sudah ada sign besar di pinggir jalan. Kendaraan roda empat bisa parkir di dekat jalan raya, tapi untuk kendaraan roda dua bisa masuk lagi ke dalam hingga tempat parkir di ujung jalan, tepat sebelum jalan turunan dengan puluhan anak tangga menuju air terjun.

Sesuai dengan namanya, daya tarik tempat ini ada dua yaitu keindahan air terjun serta goa yang bernama Rang Reng. Mengapa namanya Rang Reng? Artinya apa? Pertanyaan ini sudah menjadi bekal kami datang ke sana. Bapak Nyoman, warga lokal sana yang sekaligus menjadi pemandu di sana menunjukkan jalan menuju ke goa, dan menemani kami berkeliling. Sambil mulai berjalan, ia pun mulai bercerita tentang sejarah goa dan air terjun.

Konon cerita di mulai dari kegundahan hati sang raja dari Kerajaan Bedahulu (belum ada sumber jelas angka tahunnya) karena rakyatnya di daerah Gianyar Selatan tidak bisa bercocok tanam oleh karena tidak adanya sumber irigasi. Maka diperintahkanlah Kebo Iwa untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Kebo Iwa diutus ke Bangli untuk mencuri aliran sungai untuk dialirkan ke daerah selatan.

Advertisement

Namun dengan kecerdikannya dan kesaktiannya ia cukup hanya meminta secangkir air dari Bangli untuk di bawa pulang. Olehnya dibuatlah pula sebuah goa untuk tempat air tersebut. Berkat kekuatan yang ia miliki goa yang konon dibuat hanya dengan menggunakan tangannya dan berhasil dibuat dalam semalam (bila berkunjung ke dalam goa bisa diperhatikan di sekitar dinding dan langi-langit goa nampak seperti bekas jari-jari tangan).

Ditaruhlah air yang ia bawa tersebut di sana dan jadilah aliran air yang deras menuju daerah selatan. Karena itulah sungai yang alirannya sampai ke daerah Lebih ini dinamai Tukad Cangkir. Sejak itu rakyat di daerah selatan bisa bercocok tanam karena sudah ada aliran air untuk irigasi. Untuk nama Rang Reng, konon diberi nama tersebut karena warna di dalam goa yang beraneka warna, ada yg agak keputihan, ada yg lebih gelap, coklat, hitam, biru gelap dan karena itu warga susah menyebutkan namanya, lalu disebutlah Rang Reng.

“Saya sudah mendapati namanya begini sudah dari jaman tetua saya,”jelas Pak Nyoman sambil menerangkan bahwa belum ada penjelasan lebih lengkap lagi tentang nama Rang Reng selain karena hal warna. Nah air terjun yang kini sedang ramai dikunjungi ini adalah aliran air dari goa tersebut yang melalui bebatuan berundak-undak sebelum mengalir menuju sungai, makanya namanya sama.

Di mulut goa terdapat campuhan (pertemuan dua aliran air) yang juga merupakan hulu Tukad Cangkir, airnya berasal dari sungai dari daerah Bangli dan Gianyar Utara. Bagi umat Hindu Campuhan ini adalah tempat yang disucikan, digunakan untuk tempat melukat (meruwat/membersihkan diri). Selain itu campuhan ini juga digunakan untuk tempat ‘ngayut’ (salah satu rangkaian upacara ngaben) oleh warga desa.

Setelah berbincang dengan seorang warga lokal di sana, di area air terjun ada juga sebuah cerukan seperti kolam yang konon merupakan tempat pemandian Ibu Teli. Jadi bagi pasangan yang menikah sudah lama tapi belum juga dikaruniai keturunan bisa mandi dan berendam disana untuk memohon kemudahan mendapatkan keturunan, katanya baiknya dilakukan saat pernama atau tilem (kajeng kliwon tidak disarankan) dan katanya lagi sebaiknya dilakukan setiap 42hari.

Entah benar atau tidak, katanya sih dari dulu banyak yang melakukannya dan berhasil, ahhhh kalau hal yang ini kita kembalikan ke kepercayaan masing-masing saja lah ya, hehe (untuk informasi lengkapnya mungkin bisa ditanyakan lagi di sana).

Nah… sekarang sudah tahu kan sejarah tempatnya, jadi makin tahu kalau area tempat wisata Air terjun Goa Rang Reng adalah juga merupakan tempat suci, jadi mesti berwisata santun donk yaa 🙂

Sedikit catatan buat kawan-kawan yang ingin berkunjung :

– Bagi pengunjung yang beragama Hindu bila tidak membawa canang bisa membeli canang di penjual yang ada di area parkir. Sebungkus canang berisi lima buah canang harganya Rp.5000,-. Bila akan berkunjung ke dalam goa dan air terjun, lima canang sudah cukup (satu canang untuk di Pelinggih Tegal Penangsaran, satu canang untuk batu besar di depan goa, satu canang untuk Pelinggih di dalam goa, dan dua canang untuk di Pelinggih dekat air terjun).

– Dimohonkan untuk berpakaian yang sopan, apalagi ketika masuk ke dalam goa, mengingat ini juga merupakan tempat suci diharapkan semua pengunjung agar menjaga perkataan dan perilaku, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

– Untuk pengunjung wanita yang sedang datang bulan dimohonkan agar tidak memasuki goa.

– Sudah disediakan dua bilik sederhana untuk ganti baju seusai mandi di air terjun.

– Tempat sampah sudah disediakan dibeberapa titik, jadi tidak ada alasan lagi untuk membuang sampah sembarangan.

– Silahkan ambil foto sebanyak-banyaknya deh, cuma jangan lupa hati-hati karena lumayan licin kalo manjat-manjat di air terjunnya, keamanan tetap nomor satu!

*Selamat berkunjung kawan-kawan… 🙂