Wanita yang baik, untuk laki-laki yang baik

Laki-laki yang baik, untuk wanita yang baik

Wanita yang buruk, untuk siapa?

Aku hanyalah wanita biasa, tidak cantik, tidak cerdas, tidak memiliki kemurnian hati, dan tidak bisa dibilang aku ini wanita yang sholehah. Pemikiran itulah yang selalu ada dalam benakku. Iya, aku hanyalah wanita biasa, berasal dari keluarga yang sederhana namun kaya akan kebahagiaan. Aku tidak cantik, karena aku terlalu tidak suka ribet menggunakan make up yang pada akhirnya nanti akan luntur dengan dahsyatnya kesegaran air wudhu. Aku juga tidak cerdas, karena aku menyukai belajar sehingga aku selalu merasa bodoh dan kurang menguasai ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan alam. Aku juga bukan wanita yang memiliki kemurnian hati, karena di masalalu, aku telah jatuh hati berkali-kali pada jodoh orang lain. Dan, aku bukanlah wanita yang sholehah, karena aku sering melalaikan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Masih pantaskah aku mendapatkan engkau wahai hamba Allah yang baik?

Masih inginkah engkau memintaku pada waliku?

Aku terus berusaha menjadi wanita yang sempurna, wanita yang dicemburui oleh para bidadari, wanita yang akan menemani sepanjang hidupmu di dunia dan yang akan menemuimu serta tinggal bersama di surga.

Semakin aku berusaha, maka aku semakin menjadi wanita yang buruk bagimu…

Advertisement

Pikirkanlah kembali keinginan, niat, dan keyakinanmu padaku. Aku mungkin menjadi penjerumusmu dalam dosa dan menjadi penjerumusmu dalam api neraka, masih bersediakah engkau bersamaku?

Aku telah berusaha menjadi yang terbaik di hadapan Allah SWT dan berusaha menjadi umat Nabi Muhammad SAW

Kitab-Nya telah memberikanku inspirasi bagaimana aku memantaskan diri, begitu indah dan romantisnya cara yang diajarkan dalam kitab suci itu. Berdoa dalam keheningan malam mencurahkan segala perasaan dan kebebasan mengekspresikan perasaan tanpa diketahui oleh orang lain, menjaga pandangan dari mata-mata jahat, menjaga keseimbangan ibadah sunnah dan wajib, serta menjaga kesucian dan kehormatan sebagai seorang wanita.

Kini, aku sedang berkreasi dengan cara-Nya untuk menjadi wanita yang pantas bagimu dan masa depan kita. Akankah engkau siap untuk senantiasa menunggu? Akankah engkau siap untuk mempertinggi tingkat kesabaranmu untuk membimbingku? Akankah engkau bersedia belajar menjadi lebih baik bersama-sama denganku? Renungkanlah pertanyaanku ini dalam-dalam wahai calon imamku…

Aku tidak akan memberitahukan kesiapanku secara langsung namun aku akan memberitahukan kesiapanku kepada-Nya lewat sebait doa, agar Dia senantiasa memperlancar jalanmu menuju ke arahku jika memang benar engkau bukanlah jodoh orang lain yang nyasar dalam hidupku.