Sebenarnya, aku sangat ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu.

Setidaknya melewati setiap akhir pekan denganmu, ke tempat-tempat yang belum kita jamah di sudut kota yang tercinta ini. Tapi aku paham, aku tak berhak untuk setiap waktu yang kaupunya. Untuk 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, dan 30 hari dalam sebulan dalam waktu yang kaupunya pun aku tak berhak, termasuk mengganggu aktivitasmu.

Aku sadar, pencapaian karir dalam pekerjaanmu tidaklah mudah. Karir yang terlalu kuat untuk kau tingggalkan, sementara kau terlalu lemah untuk melawan segala kesibukan yang harus kau tunaikan.

Suatu ketika dalam pelukan hujan, kau pun menjelaskan bahwa aku tak butuh hari khusus untuk bertemu denganmu, karena aku bisa menemuimu kapan pun yang aku mau. Aku ingin percaya, tapi aku takut akan kembali terluka. Maka setulus hati kulepaskan meski dengan deraian air mata yang mengalir di pipi.

Selalu kau berikan perhatianmu padaku. Perhatian yang bisa menjadi penyemangat dalam menjalani hariku. Namun kau tak bisa selalu berada di sampingku. Aku tak selalu bisa menjumpaimu dan menceritakan bagaimana seharian ini aku menjalani aktivitasku. Jadi, dalam setiap pertemuan aku hanya bisa memelukmu sepuas yang aku bisa, menatap erat-erat matamu sebelum perpisahan sama-sama menjauhkan tubuh kita.

Advertisement

Biarkan aku mencintaimu begini, dengan caraku sendiri, cara yang mungkin tidak kau pahami. Biarkan aku merindukanmu cukup dengan mengirim doa dari kejauhan, karena aku percaya doa tidak pernah gagal untuk disampaikan. Biarkan semua seperti ini sehingga kita tak akan merasa terbebani dengan rindu dan harapan.

Jatuh cinta denganmu adalah hal terlarang yang menyenangkan. Tapi aku tidak akan lupa pada batasan. Kau dengan sederet hari panjangmu di sana, dan aku dengan sederet hari panjangku di sini.

Aku tahu, kau selalu kesepian.

Kau butuh teman dalam hidupmu, teman yang selalu bisa diajak berbagi dalam segala situasi. Teman yang akan selalu setia bersamamu melewati hari dari ketika kau membuka mata hingga menutupnya lagi. Teman yang akan selalu menjadi alasanmu untuk pulang. Namun kita berdua masih sama-sama bergelut dengan rutinitas diri.

Entahlah, sampai kapan semua akan seperti ini. Satu hal yang pasti, Tuhan sendirilah yang akan menentukan. Aku berharap, semoga kelak Tuhan benar-benar akan menyatukan kita dalam jalinan hubungan yang jauh lebih indah. Dalam kebersamaan kita yang akan selalu penuh dengan berkah.