Biarkan aku menjadi orang yang terakhir mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Semoga menjadi anak yang berbakti kepada Tuhan & Orang Tua, tambah dewasa lebih sabar menghadapi cobaan serta bertambah rendah hati. Begitulah ucapan selamat yang kamu berikan kepadaku melalui pesan singkat yang kuterima dimalam sebelum aku beranjak naik ketempat tidurku.

Kamu tahu, tanpa sadar air mataku jatuh membasahi kedua pipiku, saat membuka dan membaca pesan singkat itu, ya karena aku tidak pernah membayangkan ucapan itu akan datang darimu. ya hari ini ulang tahunku, seharusnya aku tidak boleh bersedih, tapi pesan singkat yang kubaca itu telah mewakili perasaan yang memang tidak dapat kututupi, ya aku memang berharap tadinya kamu dapat datang kerumahku, hingga malam kutunggu tapi itu tidak mungkin karena kesibukanmu yang begitu padat bahkan dihari libur sekalipun.

Kamu tahu, aku seharusnya memang tidak boleh berharap penuh lagi kepadamu, karena kita memang sudah tidak bersama lagi sejak lama, bahkan seharusnya aku cukup berterima kasih karena kamu masih mau mengingat tanggal ulang tahunku hari ini, dan masih mau memberikan ucapan juga. dan sebagai awal komunikasi kita yang telah lama tidak dijalin kembali sejak itu.

Tapi, kamu harus tahu satu hal, saat kamu mengirimkan ucapan,Biarkan aku menjadi orang yang terakhir mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. tanpa sadar otakku ingin merespon, Ya aku ingin kamu memang menjadi yang terakhir dalam hidupku. Aku memang terlalu berharap.

Untukmu, Terima Kasih atas ucapan kalimat sederhana itu, tapi kamu harus tahu bahwa dibalik sebuah kalimat ucapan ada makna yang besar buat seseorang yang menerimanya, yang mungkin saja biasa buatmu, tetapi tidak buat seseorang yang masih menganggap kamu special sampai detik ini.