Kala mengingat semua yang telah terjadi diantara kita, aku masih tak percaya kita akan berakhir seperti ini. Rasanya aku seperti bermimpi, dan berharap semoga tuhan membangunkan aku dari mimpi buruk ini. Sedih yang teramat dalam kini kurasakan. Menjerit, berteriak, menangis itulah yang ingin ku lakukan. Ini bukan hanya sekedar patah hati, tapi ini tentang sebuah komitmen yang akan kita bangun.

Selangkah lagi kita sampai kegerbang pernikahan, tapi semua itu sirna. Kau yang merusak semuanya. Bukankah kita talah menyiapkan segalanya? Mulai dari sesi foto Pre-wedding, fitting baju pernikahan, membeli souvenir, dan bertemu wedding organizer untuk membicarakan dekorasi taman yang kita inginkan. Mau ku kemanakan hal itu semua? Semudah itukah kau merusaknya?

Kau tahu bagaimana rasanya kita terbang setinggi langit dan dihempaskan kedasar jurang atau bahkan kedalam samudera? Mungkin itulah yang sedikit kurasakan. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana yang aku rasakan sepenuhnya. Hanya sakit, dan sakit yg bertubi2—tubi. Aku seperti tak punya harapan lagi. Sulit rasanya bisa membuka hati untuk orang lain. Apakah kau merasakan hal yang sama? Justru tidak, kau kini berbahagia bersama orang lain.

Terkadang aku merasa bodoh sebagai pria, dulu saat kita bersama bukankah aku yang lebih sering banyak didekati wanita lain? Bahkan kau pun tahu, ada rekan kerjaku yang mengajaku menikah dan akan memberikan fasilitas apartemen bahkan mobil. Aku tolak mentah-mentah karena hanya aku berkomitmen untuk menikahimu. Tapi apa balasanmu? Hanya karena digoda satu pria, kau pun luluh.

Tanpa pernah berfikir apa yg udah kita rencanakan kau berhubungan dengan pria itu dibelakangku. Kau yang merusak semuanya. Kau yang membuat semua mimpi-mimpi yang aku gantungkan kepadamu hancur begitu saja.

Advertisement

Kini sebentar lagi kau pun akan menikah, bukan denganku tapi dengan pria lain. Aku turut bahagia atas berita itu. Aku hanya bisa beraharap semoga kau bahagia bersamanya. Aku mengucapkan banyak terima kasih atas pelajaran hidup yang kau beri, pelajaran tentang tidak boleh berharap dengan orang lain, pelajaran tentang arti mempercayai, dan pelajaran untuk tidak mudah dalam membuka hati.