Cinta adalah dia yang dulu bersemayam dalam jiwa, rindu adalah ruang saat aku menginginkanmu, kebersamaan adalah hal yang tak ingin terlewatkan dan kini jarak adalah sekat yang memaksaku tak mendekat.

Membuatku tak ingin mengingat, rasa sakit yang kian mencuat karena luka yang menyayat. Dan aku tak ingin lagi terpikat.

Untuk siapapun yang telah lama memendam rasa, yang selalu menyebutnya dalam doa, yang sulit tuk sekedar bertegur sapa ataupun mengungkapkan rasa. Bukan berarti waktu yang dihabiskan untuk mencintainya atau menyayanginya terbuang sia-sia.

Tidak. Mungkin tak terlihat secara nyata, namun percayalah pada kekuatan doa. Waktu demi waktu terus saja berjalan seperti itu, tak ada perubahan tak ada peningkatan, yang ada rasa makin tak tertahan. Kesabaran memang tak berbatas, namun kejenuhan pasti akan terpintas.

Di ujung, rasaku telah menunggu keputusan, akan kubawa kemana perasaan ini. Ungkapkan atau Lupakan?

Advertisement

Orang berkata, mencintai tak harus memiliki adalah suatu hal mustahil. Hati berkata mencintai bukan sekedar hanya ingin memiliki, melainkan berbagi rasa ini, perhatian ini, sayang ini. Fikiran berkata mencintai adalah saat di mana otak mencerna hal-hal tak masuk akal menjadi masuk akal dan aku berkata mencintai adalah seberapa intens namamu selalu kuingat dalam doa, bayangmu selalu mampir setiap waktu.

Ah, biarkan aku mendefinisikan mencintai versiku sendiri, bukan orang lain.

Setahun berlalu, dua tahun berlalu, tiga tahun berlalu, dan bertahun-tahun berlalu tapi hatiku masih memberikan ruang untuk sosokmu. Aku tak tahu sampai kapan aku dapat bertahan, sampai kapan aku tetap menahan. Aku tak perduli, aku tutup mata melihat kehidupan asmaramu dengan orang lain, aku tutup telinga mendengar cibiran tentangmu oleh orang lain, tapi hatiku peka terhadap hal-hal kecil darimu.

Hatiku telalu peka melihat beban yang kadang terlihat di wajahmu, hatiku peka ketika hadirmu memberikan warna semu dalam hidupku, hatiku peka bahwa kamu telah terukir dalam buku takdir menjadi bagian dalam hidupku.

Aku yang selalu merindumu dalam sujudku, aku yang tak pernah lupa menyelipkan namamu dalam setiap doaku, aku yang selalu berimajinasi menyentuh bayanganmu. Aku yang kini memutuskan untuk melepaskanmu. Bukannya aku tidak sabar, aku hanya sadar. Hatimu ada yang menggerakkan, Tuhanmu.

Aku tak ingin lagi membiarkan hatiku hanya untukmu, biarkan hatiku berlatih ikhlas melepasmu. Biarlah doa-doa itu tercatat dalam buku malaikat, yang tau bahwa kau tak mudah terpikat. Biarlah Tuhanku yang mengungkap rasaku padamu, karena Dia selalu memiliki cara untuk memberitahumu bahwa aku pernah tulus menyayangimu.