Ini untuk kau, dia ataupun mereka yang sedang berlomba menulis cerita di lembar kisah hidupku. Yang sedang bergrilya merangkai kata, bersikap manis seperti madu.

Hentikanlah itu semua, jangan buang waktumu menjadi pena untuk menuai tinta di lembar baru ku. Karena aku belum bisa menyisihkan halaman agar kau bisa membubuhkan tinta dari warna penamu.

Ketahuilah, bahkan barisan kata yang kau bicarakan itu pun masih belum bisa ku eja dengan sempurna. Tentang rasa yang tak bisa kubaca artinya dan tak tahu apa maknanya.

Mungkin karena kini aku buta akan rasa, terlalu kaku untuk bergerak memulainya. Mengartikan setiap bait makna yang kau bilang itu cinta, hatiku masih kelu untuk kembali merasakannya.

Masih ada banyak prioritas utama yang sedang ku rangkai menjadi cerita, tak ingin lagi waktuku terbuang percuma meski sedetik saja. Biar kini cita-cita yang kutuju paling pertama dan biarkan yang lain mengikutinya.

Advertisement

Bukan, bukan karena hatiku telah mati karena luka. Bukan pula karena tak percaya lagi dengan segala rasa yang ada.

Aku hanya ingin menepi dari jatuh bangunnya mencinta dan dicinta. Tak ingin terburu-buru hingga akhirnya jatuh di lubang yang sama.

Genggamlah semua rasa yang kau punya,simpan dan biarkan ia berkembang di dalam dada. Hingga ketika waktunya tiba, rasa itu akan menerima tempat yang selayaknya. Rasa itu akan tumbuh sempurna dan lebih baik dari sebelumnya.

Sudahlah berhenti tak usah banyak bicara cinta atau apapun namanya, biarkan semua itu Allah yang mengatur dan mengurusnya.

Percayalah, suatu saat aku, kau,dia, ataupun mereka akan menemukan cerita yang paling indah se-alam semesta dengan atau tanpa adanya kita sebagai pemeran utama, karena Allah adalah sebaik-baiknya penulis skenario yang paling sempurna.