Manusia, adalah makhluk sosial, begitu kira – kira yang tertanam di memori kita, sejak mulai duduk di sekolah mengenal pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Manusia, makhluk yang selalu butuh satu sama lain, gak dapat hidup sendiri, saling membutuhkan, dan bakal selalu berinteraksi serta berhubungan antar sesamanya.

Lantas, kamu mengenal segala bentuk hubungan, entah itu pertemanan, persahabatan yang konon lebih kental dari pertemanan, persaudaraan baik itu karena sedarah atau dengan pekatnya keakraban, lalu pacaran, dan juga pernikahan.

Saat menginjak remaja kamu pun mengenal pacaran, interaksi dua manusia lawan jenis yang berawal atas dasar suka, lalu mengumbar rasa dan menyatakan cinta untuk menjadi bersama. Hubungan yang selalu dimimpikan berjalan indah, manis, juga tak lekang waktu selalu bersama. Tapi terkadang, hubungan ini mungkin kadang bikin kamu jadi orang yang mendadak sempurna ketika di depan pasangan, bahkan di depan sahabat atau keluarga, kamu gak pernah se-sempurna itu. Kenapa?

Wajar, nyatanya apa yang dilihat darimu mungkin pernah jadi dasar kenapa dia dulu menyatakan rasa padamu. Bersyukurlah bila kenyatannya apa yang menjadi alasan dia menyatakan rasa padamu memang ada pada dirimu, bukan kamu yang dulu memang menjadi se-sempurna mungkin di depannya demi simpati dan perhatiannya padamu.

Tapi, waspadalah kalau ternyata kamu terlalu jauh memerankan “orang lain” di depannya, dan kamu bakal selalu bermain “peran” ketika kalian bersama. Segala kekurangan yang ada padamu akan sirna ketika sinar bayang wajahnya nampak di depan raga, atau saat kamu sadar dari kejauhan dia mengamatimu. Entah memang kamu berhasil memperbaiki kekurangan, atau hanyalah mencoba mengemas diri tampak lebih, agar selalu tampak sempurna di mata dia, yang padahal juga punya kekurangan sewajarnya manusia.

Advertisement

Terkadang ke-ingin-sempurnaanmu di depan pasangan, membuat kamu mengorbankan kenyamanan dan hal – hal prinsip yang kamu pegang. Kamu akan berkorban agar selalu jadi sempurna di depan dia. Lantas apakah selalu berakhir dengan baik? Atau hanya dikecewakan karena nyatanya dia pun ternyata bosan dengan kita yang seakan memaksakan dan selalu jaga “image” di depan dia?

Mungkin, dalam hitungan bulan kamu bersamanya, kamu masih sanggup dan menyamankan dirimu untuk menjadi seseorang yang “bukan” dirimu sendiri di depannya. Tapi, pada akhirnya awal selalu lengkap bersama akhir. Dan akhirnya sekian lama, kamu pun lelah menjadi “orang lain” di depannya, dan dia pun lalu pergi karena kamu yang bukan seperti yang dia kira. Setelahnya, kamu sakit dan membencinya, lalu bertemu dengan orang lain lagi, menjalin hubungan lagi, mencoba untuk menjadi “sempurna” lagi, kemudian lagi – lagi kamu ditinggalkan dengan alasan yang sama lagi. Lantas sampai kapan harus seperti ini?

Ketahuilah, semua manusia pastinya punya kurang dan lebih, layaknya gadget yang kamu pakai untuk membaca tulisan ini, dia pun gak sempurna, selalu ada lebih yang menyertai kurang di dalamnya. Begitu juga kamu, yang diciptakan Sang Pencipta dengan segala kelebihan dan tentunya disisipi sedikit kekurangan. Pasanganmu juga sesama manusia kan? Tentunya punya kekurangan, maka rasanya gak perlu lah bersikap se-sempurna mungkin hanya untuk membuatnya selalu jatuh cinta.

Gak perlu menjadi sempurna, tapi bukan berarti kamu boleh untuk mengumbar kekurangan – kekurangamu. Hubungan ini adalah berawal dari perasaan, lalu berevolusi menjadi kenyamanan dan dipelihara dengan kesetiaan. Kamu hanya perlu mengerti apa kurangnya dia begitu juga dia dan kalian perlu sedikit berkompromi agar kekurangan yang ada pada diri masing – masing menjadi warna pada jalan cerita cinta ini. Bukan menjadi batu sandungan karena kerasnya kalian mempertahankan ego dan kekurangan kalian lalu menjadi saling menyalahkan bukannya saling mengingatkan.

Biarlah kamu dicintainya dengan apa adanya, begitupun kamu mencintainya. Bukan hanya bermain peran menjadi “orang lain” di depan dia, tapi memerankan dan merasuki dirimu yang sebenarnya di depannya, tanpa harus ada yang ditutupi demi sebuah puji keluar dari bibirnya. Biarlah kalian saling mengenal, memahami dan menerima apa adanya, tanpa kepura – puraan menyelubungi diantara kebersamaan kalian.

Akhirnya, suatu hubungan bertahan bukan karena siapa yang paling sempurna, tapi siapa yang bisa paling bisa menerima dan menyiasati segala kekurangan menjadi karunia untuk selalu setia menapaki jalan bersama. Biarlah kamu dan dia, saling mencintai apa adanya.