Rasanya aku bingung untuk memulai bagaimana aku bercerita. Tapi pertemuan yang amat singkat menjadikan kita sebagai sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Hanya berselang beberapa bulan kitapun meyakinkan hati untuk memutuskan melanjutkan kejenjang yang lebih agung yaitu pernikahan. ketika kita memutsukan untuk menikah rasanya aku seperti menjadi seseorang yang sangat beruntung bisa bersanding denganmu. Aku tak pernah melihat kekuranganmu, bahkan yang aku tau kaulah wanita yg terbaik yg pernah tuhan ciptakan untukku. Hingga tiba kamu yg memutuskan untuk berpaling kelain hati dan membuat semuanya hancur…

Kemarin kita bisa berbagi cerita hingga larut malam, tapi kini rasanya mengucpkan hai saja aku sungkan memulainya..

Ingatkah kamu dulu semua terasa indah? tak ada siapapun dalam hubungan kita. Kamu slalu berbagi suka duka hanya denganku saja. Akulah orang pertama yang kau ceritakan tentang hari-hari yang kau lewati. Tentang kita, pernikahan yang akan kita langsungkan, tentang pekerjaan. ya semua tentang berbagi cerita hingga terkadang tak sadar hingga larut malam. Tapi kini, rasanya ingin mengucapkan “hai” saja aku sungkan memulainya.

jangan tanya aku kenapa seperti ini, harusnya kamu tau bahwa kamulah penyebab kenapa aku seperti ini

Sakit rasanya ketika dia hadir dicerita kita, semua impian, harapan, yang aku gantungkan kepadamu hancur seketika. Rasanya perjuangan yang sudah dilalui hingga selangkah menuju gerbang pernikahan lenyaplah sudah. Kamu berpaling padanya, tanpa pernah memikirkan apa yang sudah dilewati sedemikian rupanya. Kau tinggalkan aku menangis sendirian, tanpa pernah peduli apa yang aku rasakan. Aku sakit, bukan hanya perasaan maupun pikiran. Aku sakit fisik bahkan untuk berminggu-minggu memikirkan masa depan yang hancur. Aku bahkan bagai debu yang terhempas angin dan tak tentu arah. Kau meninggalkanku disaat beberapa bulan lagi kita menikah.

Advertisement

Bisakah kau rasakan bagaiman rasanya aku saat itu?

saat perlahan aku menyembuhkan lukaku dan kini aku mulai bangkit kembali kau datang padaku, menangis dengan air mata yang entah tulus atau hanya mendapatkan rasa iba dariku? Siapa dirimu? Bukankah ini yang kau inginkan? Bukankah semuanya kau sendiri yang hancurkan? Lalu mengapa saat ini kau kembali hadir ketika ada orang lain yang membantuku menata kembali hatiku yang sudah patah? Apa kau kurang puas menyakitiku? Apalagi yang akan kau cari? Bisakah kau jawab semua pertanyaan itu? Kau bilang kau menyesal menyia2kan seseorang yg tulus mencintaimu bahkan menerima semua kekuranganmu yang mungkin pria lain tak akan bisa menerimanya. Aku sudah tak percaya dengan semua kata-kata yg keluar darimu. Bukankah kau sering membohongiku? Lalu, salahkah aku sudah tak mempercayaimu?

Menata kembali hati yang talah patah bukanlah hal mudah, saat semua telah kembali utuh kau dengan mudahnya datang dan pergi dihidupku. Maaf atas sikapku ini, bukan aku tak ingin bertemu denganmu. Karena mendengar namamu ditelingaku saja aku tak ingin. Aku sakit dengan perilakumu, aku sakit dengan semua keegoisanmu. . Karena bukan hanya kau saja yang ingin bahagia, aku pun sama sepertimu. Dahulu, kamulah yang memintaku untuk mengikhlaskanmu, Kini giliranmulah yang mengikhlaskanku. Rasakanlah semua karmamu, biarkan aku pergi membuka lembaran baru untuk orang lain. Terima kasih untuk semua rasa senang sekaligus rasa sakit yang kau beri dan Terima kasih telah mengajariku banyak arti.

Aku manusia, aku punya hati dan aku ingin bahagia.

Teruntukmu,

Mantan Calon Istriku