Ibu selalu menyebutku dengan istilah "Bidadari Surga"-nya. Perkenalkan, Ainul Mardhiah namaku. Kata ibu, itu adalah nama yang tepat untukku. Menurut ibu, aku bagaikan seorang anak yang dikirim Allah dari Surga untuk ayah dan ibu saat harapan memiliki seorang anak itu nyaris hilang ditelan usia. Hingga kelahiranku membawa kebahagiaan yang tiada tara di rumah kami.

Bidadari Surga kata ibu. Kecantikan wajah yang ku warisi dari paduan ketampanan ayah dan kecantikan ibu, membuat aku menjadi rebutan ketika bayi, banyak dari orang dewasa yang gemas dan suka melihatku. Mereka ingin menggendong, sedangkan aku hanya menggeliat melirik ke sana-ke mari ketika mendengar, "Ayi, Ayi, Ayi."

Ya, "Ayi" mereka memanggilku. Kegemasan mereka makin bertambah saat aku tumbuh menjadi Ayi yang cerewet dan terus aktif dengan tingkah yang lucu. Keluarga kami sangat bahagia, hingga ombak Neraka itu datang saat usiaku 14 tahun.

Ombak itu pula yang merenggut ayah dari tanganku. Sungguh, aku menggenggam tangannya, tapi ombak itu begitu brutal merebutnya dariku. Ombak neraka itu mungkin kalian kenal dengan nama Tsunami.

Kisah Bidadari Surga ibu pun seakan tamat semenjak saat itu.

Advertisement

11 tahun sudah peritiwa itu. 11 tahun sudah jua aku bersama sisa luka yang entah kapan sembuhnya, atau mungkin akan terus menganga sampai sisa hidupku? Wallahualam!

***

Malam yang indah, dapat ku pastikan langit bertabur bintang dari jendela kaca kamarku. Aku masih menatap layar laptop dengan jari yang terus menari menyelesaikan sebuah cerita. Ya, aku ingin jadi penulis. Itu yang ku tulis dengan sangat besar di dinding kamarku. Ada dorongan yang sangat besar pula di hatiku. Hanya itu impianku saat ini. Oh, bukan. Aku rasa cuma itu yang bisa ku impikan saat ini. Sungguh, aku bahkan tidak berani lagi bermimpi.

“Ayi, sudah bisa tidur, nak? Besok kamu kuliah pagi, 'kan?”

Suara ibu dari balik pintu kamarku membuyar konsentrasiku. Aku mengangguk mengiyakan, entah ibuku meilhat anggukan itu atau tidak. Hm, sebenarnya bukan kuliah, sih. Ada seminar umum tentang kepemimpinan Islam yang diadakan di Auditorium.

“Besok dijemput Nadia atau ibu antar? Ibu mau ke tempat Bunda juga?”

“Ibu antar?” Aepertinya ibu masih bingung dengan tanda gelengan kepala yang ku berikan.

“Aa…eee…aaa…eee,” aku menjawab ibuku. Sungguh, aku menjawabnya dengan baik, tapi hanya ungkapan itu yang keluar. Ibuku yang paham maksudku melalui gerakan tanganku kemudian menutup pintu kamarku dan beranjak.

Bidadari Surga kata ibu? Ada yang menggelitik! Begitu geli aku mendengarnya.

Apa ada bidadari bisu? Kata mereka yang memeriksaku, ini dikarenakan trauma, infeksi atau apalah itu. Yang pastinya bisu, aku hanya bisa ‘a ‘e a’ e’.

Ingin sekali aku menyusun kata seperti yang lainnya, ingin ku katakan pada mereka kata-kataku bermakna, bahwa ungkapanku bagai pujangga. Tapi apa daya, aku adalah sebenar-benarnya pujangga! Yang kata-katanya membeku di ujung lidah, yang suaranya tercekat di tenggorokan, tapi mengalir indah di sebuah tulisan.

“Ayi! Belum tidur, ya?!" Kali ini nampaknya ibu mulai marah melihat lampu kamarku masih menyala. Dengan segera ku matikan lampu kamar, pertanda aku menuruti perintah perempuan yang palingku cinta itu.

***

Langit kota cerah pagi itu. Aku tak menunggu begitu lama, Nadia datang menjemputku. Dia cantik dengan berbalut terusan pink polos dan jilbab motif garis dengan warna senada. Aku? Ah, aku lebih suka warna hitam. Entah kenapa warna gelap membuatku lebih percaya diri.

Tanpa dikomando, aku langsung naik ke motor. Motor matik putih Nadia melaju begitu cepat, gesit di antara mobil dan motor yang sedang melaju di jalan. Semakin cepat, semakin cepat. Sampai-sampai jantungku ikut berdetak cepat. Spontan aku mencubit pinggang Nadia. Refleks, Nadia menurunkan kecepatan dan tertawa terbahak-bahak. Begitu puas tampaknya dia mengerjaiku! Ku cubit saja lagi, begitu kesal rasanya. Gelak tawa pun akhirnya terurai di antara kami.

Ya, dia Nadia. Nadia usil, dan tidak pernah berubah sejak kami SMP, tak berubah secuilpun. Begitu juga sikapnya padaku, dia masih sahabatku, bahkan sampai saat ini. Saat ia terkadang kesulitan memahami maksudku, di saat terkadang aku sensitif dan tiba-tiba marah, di saat aku kadang hilang kepercayaan diri, dia masih sahabatku!

Di saat yang lain berpikir dua kali atau bahkan berkali-kali untuk berteman denganku, dan di saat kami telah berada di tingkat akhir jurusan kesenian bersama-sama.

Dialah sahabat Sang Bidadari Surga Yang Bisu ini.

20 menit dalam perjalanan, akhirnya tiba jua di kampus tercinta. Aku dan Nadia langsung menuju ke tempat yang telah dijadwalkan. "Ini ruangannya?" Mataku menjelajah ke setiap sudut ruangan, hampir penuh rupanya. Sekarang kami kesulitan untuk berjalan ke arah tempat duduk mahasiswi.

"Duh panitianya gimana, sih? Seharusnya ada sela untuk jalan menuju sisi kanan tempat duduk mahasiswi, jadi mahasiswi yang masuk dari pintu yang ada di sisi kanan tidak harus berjalan bagaikan pelakon model did epan mahasiswa."

Ya, mau tidak mau aku dan Nadia harus melewati para mahasiwa. Sejenak kemudian, aku dan Nadia mendapatkan tempat duduk yang posisinya paling belakang. Ini risiko bagi yang datang terlambat (mungkin).

“Ayi?”

Aku menoleh menyadari namaku disebut. Tak menunggu lama, aku menemukan yang punya suara diantara para mahasiswa. Dia sesekali melambaikan tangannya, aku menyipitkan mata, mencoba mengenali lelaki tersebut.

“Ikhwan, Yi, Ikhwanul Hakim, abang kelas pas SMP!” Cerocos Nadia sambil membalas lambaian tangan lelaki yang bernama Ikhwan itu.

“Kok bisa di sini, ya? Katanya dia kuliah di UIN apa gitu di Jawa.” Begitu senang Nadia bisa bertemu dengan teman lama.

“Cie, cie, First Love!” Ah, guyonannya terdengar basi di kupingku kali ini.

Aku hanya tersenyum kecut dan diam. Aku bahagia, tapi ada gumpalan sesak di dadaku. Aku senang melihatnya, aku ingin bertemu dan berbual lama dengannya. Tapi tidak, aku bukan Ayi yang dia kenal dulu. Aku bukan lagi Bidadari Surga seperti namaku dulu. Kini, lebih tepat kau menyebutku bidadari bisu.

Aku melihat ke depan tanpa mengalihkan pandanganku, tapi kau tahu? Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan di seminar itu. Pikiranku mengambang; jauh, tersesat di alam ketidakpercayaan diriku.

Nadia yang dari tadi bersemangat tentang Ikhwan tiba-tiba diam. Sepertinya dia berhasil membaca raut wajahku, hampir saja dia membuka cerita lama. Ya, aku dan ikhwan di belasan tahun lalu.

***

Ikhwanul Hakim. Pria sempurna masa remajaku.

Pria jangkung dengan kulit hitam manis, jago olah raga dan baik pula. Tak ku pungkiri, banyak abang kelas yang mendekati ku, tapi aku malah tertarik dengan Ikhwanul Hakim; yang pendiam itu. Aku suka kesehariannya. Dia suka olah raga, dia suka baca, dia juga suka duduk di kantin sambil bercanda dengan teman-temannya. Dan yang membuatku penasaran, dia tidak pernah terdengar dekat dengan perempuan. Hm, maksudku pacaran seperti teman-teman yang lain. Padahal dia berada dalam kumpulan trouble maker dan play boy sekolah.

Dia beda. Ada kebahagiaan di saat aku melihat wajahnya. Ada keteduhan di relung hati. Apakah ini cinta? Wallahualam!

“Ayi… Melamun? Sudah selesai seminarnya!”

Aku tersentak dan kembali menapaki bumi. Benar-benar jauh khayalku beranjak.

“Kita keluar dulu, ya, nanti berdesak-desak di pintu.”

Nadia menarik tanganku dan keluar menyelip di antara orang-orang yang juga ingin keluar. Aku menghela napas lega ketika sampai di halaman luar.

“Kita sapa Ikhwan, yuk?”

Apa? Tentu aku terhenyak. Aku menggelengkan kepala dan tanpa ba-bi-bu langsung menuju parkiran motor. Nadia menyusulku dengan raut wajah keruh. Hehe, aku tahu sekarang artinya Nadia sedang mencoba meredam emosinya terhadapku. Dia mengalah lagi.

Kami pulang dengan keadaan dingin menyelimuti. Diam, tanpa kata, bahkan di saat aku turun di depan rumah dan Nadia menghilang di persimpangan jalan.

***

Bukan aku pujangga yang kau cari

Lihat!

Ku sajakkan cinta, engkau tak peka

Ku uraikan rindu, kau hanya berlalu

Bukan aku pujangga yang kau cari

Tak mampu ku lisankan cinta

Tak daya ku suarakan rindu

Aku hanya pujangga kalbu

Yang kata-kataku menari dalam hati

Dan berharap engkau pahami tanpa ku patri!

***

Aku kembali menekuni laptop dengan jari yang lincah menari; mengetik apa yang tergambar di kepalaku. Melihat Ikhwan pagi tadi membuat memoriku mengingat Bang Fadhiel. Dia lelaki idamanku di dua tahun lalu, lelaki yang membuatku menemukan arti cinta dalam keadaanku yang seperti ini. Ialah lelaki yang membuka mataku dan menuntunku sabar. Lelaki yang mengembalikan kepercayaan diriku, lelaki yang meyakinkan ku bahwa cinta itu tak sebatas memandang lahir.

Dia berhasil membuatku bahagia, dan dia juga yang berhasil menghancurkan segala kepercayaan diriku. Bersamanya tepat di dua tahun lalu.

***

Siang itu di koridor kampus, “Hai, apa kabar hari ini?” Ah, Bang Fadhiel akhirnya muncul juga.

“Ee…aa…ee…” Aku katakan padanya; jangan ganggu aku. Hanya suara yang tak jelas yang muncul, tapi aku berharap dia bisa mengartikan simbol yang ku berikan dari gerakan tangan. Betul saja yang ku pikirkan, dia seakan melihat hantu di siang bolong, namun dengan cepat dia mengontrol diri. Kembali tersenyum padaku dan kemudian beranjak. Setelah kejadian itu, berhari-hari terlewati, entah kenapa ada kekecewaan di sudut hatiku. Aku kehilangan sesuatu, dia betul-betul menghilang sejak hari itu. Hingga suatu hari yang tak ku duga.

“Ainul Mardhiah!” Aku mengenal suara itu, tapi aku tak berani untuk berharap. Dia Fadhiel? Betulkah? Aku menoleh, dia sungguh Fadhiel, tak sanggup ku tahan senyum ini. Ku sadari detak jantungku terpacu cepat, untuk beberapa saat waktu terasa terhenti. Ada dimensi ruang dan waktu lain, hanya aku dan dia.

“Sehat, Ainul Mardhiah? Lama tak berjumpa?” Aku terdiam, tapi ada raut bahagia yang tergambar di wajahku.

Sejak hari itu, dengan kepercayaan diri dan harapan yang besar, cerita kami dimulai. Aku begitu dekat dengan Fadhiel Ramadhan anak fakultas Ekonomi tingkat akhir itu. Dan cerita kami menyeruak ke seluruh sendi kampus. Bagaimana tidak? Fadhiel yang seorang ketua BEMAF Hukum itu dekat dengan seorang gadis bisu.

Banyak sekali cacian pedas, ungkapan salut, bahkan sekedar mengasihaniku. Entah. Ku tutup kuping untuk itu, cukup Fadhiel bagiku. Hingga waktunya sampai, waktu aku harus terbangun dari mimpi, waktu aku harus melihat mentari, mereka bahkan menertawakanku. Aku terlalu jauh terkunci dalam dunia hayal!

Aku terbuai malam dengan cahaya bulan dan bintang, hingga lupa aku harus bangun esoknya.

Setahun setelah Fadiel lulus, aku semakin jarang berkomunikasi dengannya. Semua terasa berbeda, tak ada SMS, hanya akan ada balasan jika aku yang meng-SMS-nya terlebih dahulu. Aku takut, pikiranku berkecamuk.

Hingga di tahun kedua setelah dia lulus, nomernya tidak aktif sama sekali. Aku pasrah? Tentu. Cukup sudah,.

Tak ada lagi usahaku untuk menghubunginya, dan jika berakhir disini aku siap! Hanya saja, kabari aku. Aku siap bangun, lalu hari penuh kabut itu tiba.

***

Siang itu begitu mendung. Andai tidak ada Ujian Tengah Semester tadi, aku pasti sudah memilih bergelut dit empat tidur dengan guling dan selimutku. Aku memilih menunggu Nadia di kursi taman belakang yang sepi. Rasanya ingin menarik nafas saja setelah melewati ujian tadi.

"Yi, kuat, ya?”

Nadia yang tiba-tiba berada di sampingku sambil memegang bahuku kencang. Ada apa ini? Aku mulai takut, duka apa gerangan yang akan disampaikannya?

"Fadhiel menikah, ini undangan untuk kamu”.

***

Tidak, jangan menangis Ainul Mardhiah, kamu kuat. Kamu siap!

Jadi hanya aku terdiam, Nadia memelukku, pun aku menolak pelukannya. Dengan erangan keluar dari mulutku, aku marah padanya yang menganggapku lemah. Jangan tatap aku dengan tatapan kasihan, jangan! Tapi Nadia kembali mamaksa merangkul badanku.

Aku lelah, setiap sendiku lemah. Aku pasrah dengan pelukan Nadia, hingga bendungan dari mataku itu tumpah ruah, dadaku sesak, seakan ada gumpalan yang membuatku sakit di sana. Aku menepuk-nepuk dadaku, sakitku tak reda. Hanya tangisku yang semakin terisak, aku benci peristiwa itu. Aku benci lelaki itu, aku benci harapan itu, aku kecewa, aku marah, aku ingin mengutuk dan mencaci!!!

Ingin ku luapkan segala sakit yang selama ini ku pendam, tapi hanya kata-kata dan erangan tak bermakna yang keluar dari mulutku. Aku benci diriku yang lemah! “Dekat boleh sama siapa aja, tapi urusan nikah? Mana mau dia sama yang bisu?”

Kata-kata sesadis itu dulu pernah ku dengar dari bibir durjana yang suka berkomentar untuk orang lain. Dan kau tahu? Untuk pertama kalinya, aku menyesal tidak mempedulikan komentar itu. Sekarang komentar itu pula yang menyadarkanku, betapa tidak realistisnya aku.

***

Hari ini, di tiga bulan kemudian.

Dalam hidup, setiap orang punya masalah, kecil atau besar itu tergantung kuat atau tidak orang itu mengemban. Yang terpenting, hanya orang bijak yang mampu mengambil keuntungan dari setiap masalah, yakni, pelajaran hidup.

Itu yang selalu ibu bilang pada ku. Kalau kamu bisa melewati dengan baik, masalah itu pasti akan mengasahmu. Dan hari ini, ibu bijak ini berdiri di sampingku. Ibu yang selama ini mendidik dan membiayai ku seorang diri, berdiri tepat di samping bidadarinya. Ia memelukku, ia sudah mulai ringkih, tapi raut cantiknya tersingkap hari ini. Dia merapikan togaku.

Iya, aku wisuda. Kami ingin berfoto, “Tunggu, pak! Ada satu orang lagi,” pinta ku kepada si fotografer yang sudah siap dengan kameranya.

Iya? Kenapa? Itu suaraku!

Sungguh itu suaraku. Sudah bukan ‘ee..ee..aa’! Itu suaraku. Alhamdulillah, aku menjalani operasi 2 bulan yang lalu.

“Eh, itu dia!” Kataku lagi.

Laki-laki jangkung, berkulit sawo matang dengan mata tegas itu mendekat. Dengan senyuman hangat dia langsung berdiri d sampingku.

Oh, ya! Kenalkan dia Ikhwanul Hakim. Suamiku.