Ayah meninggal saat saya masih duduk di kelas dua SMP sedangkan Ibu memiliki gangguan mental sejak saya masih belum mendapatkan pendidikan. Saya memiliki seorang kakak laki-laki, lima orang adik laki-laki dan seorang adik perempuan. Kami tidak tumbuh bersama. Semua saudara saya dibesarkan oleh saudara-saudara dari ayah. Sedangkan saya tumbuh di rumah bibi (kakak dari ibu) yang tidak menikah.

Sejak kecil saya tidak terbiasa memanggil “ibu”. Saya tak punya cerita tentang “Ibu” pun “Ayah”. Saat teman-teman sekolah bercerita hebat tentang ayah atau ibu mereka, saya hanya mendengar dengan seksama serta berharap suatu hari saya punya cerita yang mirip. Meskipun kecil kemungkinan.

Pada bulan Juli 2010, tepatnya saat saya duduk di bangku kelas dua SMA, bibi yang saya anggap sebagai ibu saya sendiri meninggal dunia. Saya kehilangan penopang hidup. Saya merasa hidup sebatang kara. Satu satunya orang yang saya harapkan dalam hidup hilang sudah. Saya pun berniat untuk berhenti sekolah dan mencari pekerjaan untuk membiayai hidup. Namun, teman-teman dan guru-guru melarang saya untuk berhenti. Sayang sekali jika kamu harus meninggalkan sekolah. Hanya tinggal satu tahun lagi. Pasti ada jalan. Kata-kata mereka sangat menguatkan saya.

Satu per satu teman-teman menawarkan saya untuk tinggal di rumah mereka. Demikian juga, ada guru yang mengajak saya untuk tinggal bersama. Saya pun menyanggupi ajakan seorang teman untuk tinggal bersama keluarganya. Hanya selama dua minggu saya menjadi bagian dari keluarga tersebut. Seorang nenek yang telah mengenal saya sebelumnya mengajak untuk tinggal di rumahnya. Saya pun berpindah tempat tinggal.

Lagi-lagi saya hanya tinggal selama dua minggu disana. Bersama sang menantu, sang nenek akan pindah rumah ke tempat yang lebih jauh dari sekolahku. Saya pun bersedih. Saya tidak memiliki tempat tinggal lagi. Tak jauh dari tempat itu, ada sebuah gedung yang berisi kamar-kamar yang disewakan. Saya nekat akan menyewa sebuah kamar dengan tangan kosong. Belum sempat saya memindahkan barang-barang saya, saya bertemu dengan seorang suster (biarawati Katolik). Beliau adalah suster yang bertugas di SMA di mana saya bersekolah. Mengetahui keadaan saya, beliau pun memperbolehkan saya untuk tinggal di salah satu kamar yang ada di biara. Saya sungguh terharu dan merasa lega.

Advertisement

Pihak biara tidak memiliki kewajiban untuk memberi saya uang saku sehingga saya pun memilih kerja paruh waktu di sebuah warung mie goreng. Pemiliknya adalah teman baik bibi. Saya pun disambut hangat untuk bekerja di tempat itu. Sesekali dia juga memberi saya uang lebih.

Pada bulan Febuari 2011, guru di sekolah saya mengumumkan bahwa pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional meluncurkan program bantuan biaya pendidikan Bidikmisi kepada lulusan SMA dan sederajat yang memiliki potensi akademik baik dan tidak mampu secara ekonomi untuk belajar di perguruan tinggi negeri. Saya yang selalu mendapat rangking 1 umum sejak duduk di kelas satu SMA menjadi salah seorang yang direkomendasikan oleh guru untuk itu. Kendati demikian, saya sama sekali tidak berminat. Bukan karena tidak ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Lebih tepatnya karena tak memiliki biaya se peser pun.

Hal yang saya ketahui tentang beasiswa pada waktu itu adalah bantuan materi yang tak seberapa dibanding kebutuhan yang harus di penuhi setiap harinya. Namun, setelah mendapat penjelasan dari salah seorang guru bahwa beasiswa bidikmisi ini berbeda dengan yang lain, niat saya tumbuh. Bukan hanya uang kuliah yang ditanggung, tetapi juga biaya hidup per bulan akan diberikan. Saya menaruh harapan besar bahwa ini adalah jalan saya untuk meraih cita-cita.

Pada bulan Maret 2011, atas dorongan guru, saya memutuskan untuk mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) Jalur Undangan program Bidikmisi. Pada saat itu, pendaftaran harus dilakukan via online. Kampung saya tidak tergolong daerah pedalaman, namun jaringan internet belum ada di kampung saya. Oleh sebab ini, bersama seorang guru, saya dan teman- teman yang direkomendasikan untuk mengikuti seleksi berangkat menuju ke kota untuk registrasi SNMPTN Jalur Undangan Bidikmisi. Hanya satu jam perjalanan ke sana.

Pada tanggal 18 Maret 2011, pengumuman SNMPTN keluar. Saya sangat penasaran dengan hasilnya. Namun pada saat itu saya tidak bisa melihat hasilnya karena saya harus bekerja hingga malam hari. Esok harinya saya langsung menuju sekolah. Menanyakan apakah saya lulus atau tidak. Dengan wajah tersenyum, guru menyalami saya dan mengucapkan selamat. Saya lulus SNMPTN Jalur Undangan Bidikmisi. Saat itu, saya tidak percaya. Guru saya pun tersenyum dan mengajak saya pergi ke Warnet (Warung Internet). Bersama sang guru, saya membuka laman pengumuman SNMPTN di internet (pada saat itu jaringan internet telah sampai ke kampung saya). Selamat anda lulus di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Medan. Saya terharu. Tak terasa air mata saya menetes.

Pada tanggal 31 Mei 2011, saya berangkat menuju ibukota Sumatra Utara untuk melaksanakan pendaftaran ulang mahasiswa baru. Sebelumnya saya telah menghubungi salah seorang kakak alumni sekolah. Dia pun menemani dan membantu saya untuk mendaftar ulang. Memang benar, tak sepeser pun uang di minta.

Pada bulan Agustus 2011, saya mulai mengikuti perkuliahan di Jurusan Bahasa Inggris. Walaupun awalnya terasa sulit untuk mengikuti pelajaran, saya tetap bersemangat. Saat saya berada di semester lima, tepatnya pada tahun 2013, sebuah lamaran pekerjaan saya hantarkan ke sebuah lembaga bimbingan belajar SD. Setelah mengikuti tes, saya diterima bekerja sebagai salah satu tenaga pengajar bahasa Inggris. Sambil kuliah saya menikmati aktivitas saya mengajar anak-anak SD di tempat kursus bahasa Inggris.

Saya sangat suka bertemu dengan orang-orang sehingga saya pun ikut ambil bagian dalam beberapa organisasi internal dan eksternal kampus. Dalam organisasi HIMAPSI (Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Simalungun) saya pernah menjadi anggota tepatnya pada tahun 2011. Saya juga pernah bergabung dalam komunitas EDS (English Debating Society) selama satu tahun. Komunitas ini sungguh sangat membantu saya dalam mengembangkan kemampuan saya khususnya dalam berbahasa Inggris. Selain itu, saya juga berpartisipasi dalam Senat Mahasiswa terkhusus untuk Fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Medan pada tahun 2013. Tambahan lagi, saya turut aktif dalam Unit Kegiatan Kerohanian Mahasiswa Katolik (UKKMK St. Martinus) yang juga merupakan organisasi kampus. Beberapa kali saya mendapat kepercayaan untuk menjalankan tugas, diantaranya: sebagai seksi kerohanian (2012), Kordinator Sosial (2013) dan seksi hubungan masyarakat (2015).

Pada Agustus 2014, bersama beberapa teman, saya ditugaskan untuk melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan Terpadu di SMA Katolik Kabanjahe. Di sana saya dipercayakan untuk mengajar di kelas X (sepuluh). Selain mengajar, saya dan teman-teman berhasil melaksanakan sebuah acara kompetisi antar siswa di bidang olahraga dan akademik seperti, futsal, bola voli, cerdas cermat, cipta puisi dan speech contest. Saya sendiri berpartisipasi dalam melaksanakan pertandingan speech contest. Di samping itu, saya juga berpartisipasi untuk memberi kursus kepada anak-anak yang tinggal di lingkungan sekolah secara gratis. Kegiatan tersebut selalu dilaksanakan sepulang sekolah.

Pada tanggal 18 Mei 2016, saya tamat dari Universitas Negeri Medan dan mendapat gelar sebagai Sarjana Pendidikan. Akhirnya saya bisa menyelesaikan studi saya dengan baik. Saya pun menjadi sosok teladan bagi adik-adik saya yang masih menempuh studi di sekolah menengah dan sekolah dasar. Dengan ini, saya sangat bangga dan bersyukur atas terselenggaranya program beasiswa bidikmisi. Saya sungguh merasakan manfaat beasiswa tersebut. Selama ini saya bisa kuliah dengan baik tanpa memiliki kekhawatiran akan biaya kuliah dan biaya hidup saya setiap bulannya. Saya pun turut menghargai budi baik negara atas bantuan biaya studi yang saya terima selama kurang lebih empat tahun. Oleh karena itu, saya ingin mengabdikan diri saya sebagai salah satu tenaga pendidik di negara ini.

Kebanggaan saya kian membesar karena cita-cita saya sudah tercapai berkat program beasiswa bidikmisi dari Dirjen Dikti. Kini, saya sudah menjadi guru di salah satu sekolah yang ada di kota Medan. Saya pun sangat menyadari bahwa saya bisa menggenggam cita-cita saya berkat beasiswa bidikmisi. Saya sungguh berterimakasih kepada negara khususnya pada penyelenggara program beasiswa bidikmisi. Saya berharap agar program beasiswa ini tetap berjalan secara konsisten agar kiranya semakin banyak anak negeri yang tidak mampu secara ekonomi bisa meraih impian dan berbakti pada negeri. Hidup Bidikmisi, Jaya Negeriku..