Bolehkah aku jujur tentang rasa dan inginku?, jika kamu membaca ini, percayalah ini jujurku paling berani. Untukmu yang masih istimewa di hatiku, inilah hal-hal yang terlintas di kepalaku sejak senyummu menjelma menjadi hembusan angin yang bertiup sejuk tiap aku melihatny

1. Aku takut rasaku tak kau sambut.
Aku seorang wanita, meski masa telah mengajarkanku akan emansipasi, tapi tak bisa kutautkan jika ini masalah hati. Bagiku, hati ini bak bunga yang memang jika kau anggap indah pasti akan kau petik.

2. Mungkin hatimu sudah terisi.
Aku percaya, hampanya hati tak sekosong itu. Ada yang sudah tertulis di hatimu entah itu siapa. Aku memang berharap nama itu adalah aku, tapi harapan ini pun cukup Tuhan yang tahu, tidak ada arti apa-apa untukmu.

3. Aku tahu, kamu berhak memilih. Karena aku terlalu takut pilihanmu bukan aku, itu sebabnya aku berpegang kuat pada diamku.

4. Tentangku yang tidak pernah ingin kau tahu. Adakalanya aku bertanya langsung, kadang juga mengaduk sosmed2 kamu demi rasa ingin tahuku tentang dirimu yang aku yakin kau tidak mungkin begitu padaku.

Advertisement

5. Kutitipkan rasaku pada-Nya. Aku diam tapi bukan tak berusaha. Aku selipkan namamu dalam setiap sujud dan doaku, kuserahkan dongeng hatiku ini pada skenarioNya tentang bagaimana ujung kisahnya.

6. Aku bersiap mundur, banyak alasan yang membawaku berjalan mundur.Tapi aku belum memiliki satu alasanpun yang membuatku bertahan menunggumu. Sikapmu padaku terlampaui biasa, sedang sikapku terlampau istimewa. Aku harus mulai adil pada diriku sendiri.

7. Yang terakhir, aku ingin kamu tahu bahwa hatiku bukan pasir tepian pantai, dan rasa ini bukan ombak. Jadi kurasa kamu paham, berapa denting waktu yang kubutuhkan untuk melipat rasaku.