Sudah lama sekali aku tak mendengar kabar tentang dirimu, ingin rasanya aku menghubungi dirimu hanya untuk menyapa “apa kabar?”. Kuharap kau selalu dalam keadaan baik-baik saja.
Bagaimana hubunganmu dengan wanita pilihan mu? Apakah kau selalu bahagia dengannya?

Semua tentangmu belum mampu aku hapus, kenyataan ini terlalu pahit untuk kuterima.

Setelah kau memilih mengakhiri hubungan ini, aku tetap memilih sendiri. Bukan karena aku menunggu kau kembali, tapi aku tak ingin lagi jatuh untuk kedua kalinya. Kepergianmu sungguh menyakiti hati ini, kau pergi untuk wanita lain. Aku belum siap untuk melepaskanmu saat itu, komitmenlah yang membuat aku tetap bertahan.

Ingatkah kau, komitmen apa yang kita buat di awal hubungan kita? Mimpi apa yang akan kita wujudkan bersama di masa depan?

Semua janji kau ingkari begitu saja, komitmen kita pun dengan mudahnya kau lupakan. Aku mengenalmu sebagai sosok seorang pria yang baik hatinya, namun aku tak pernah menyangka kau akan pergi meninggalkanku hanya demi wanita lain. Aku tahu wanita itu bukan orang baru, dia masa lalumu. Kau pernah berjanji padaku tak akan pernah kembali dengannya, namun kenyataannya sekarang kau lebih memilih dia dari pada aku.

Advertisement

Apakah aku tidak cukup membuat mu bahagia?

Pagi itu aku tak sengaja bertemu denganmu, kau melihatku dengan jelas tapi kau berlalu begitu saja seakan kau tak pernah mengenalku. Seperti inikah sifatmu sekarang? Sosok seorang pria yang baik itu sudah hilang. Kau sudah benar-benar melupakanku dan tak ingin mengenaliku lagi.

Rasanya ingin sekali aku seperti dirimu, mudah pergi dan juga mudah melupakan.

Sampai saat ini aku belum berhasil untuk melakukan itu. Bayanganmu selalu tampak jelas dalam pikiranku. Aku lelah mencoba setiap harinya, jika aku diberi kesempatan untuk meminta,

“Bolehkah aku pinjam hatimu sebentar saja?”