Ayah, kini putri kecilmu yang dulu selalu kau temani kemanapun ia melangkah, putri kecilmu yang ceroboh dan selalu menghilangkan barang-barang, putri kecilmu yang selalu kau manjakan, putri kecil yang selalu kau doakan dalam setiap sujudmu sudah berubah menjadi seorang gadis yang sedang menuju dewasa. Tapi dia tetap membutuhkan seseorang sepertimu ayah, sosok hangat yang selalu menunggunya untuk pulang kerumah, sosok ramah yang selalu menyapa baik semua teman-temannya yang datang ke rumah, sosok penuh pengertian ketika kesalahan demi kesalahan terulang untuk kesekian kalinya , sosok penuh rasa sabar ketika menghadapi putri nya yang keras kepala

Ayah, terkadang aku berpikir untuk memberitahumu segala hal tentangku. Aku tahu telah bersikap tak adil padamu karena ibu selalu jadi yang pertama untukku..

Aku tahu ayah telah banyak menghabiskan waktunya. Tidak. Bukan hanya waktu tapi juga tenaga dan pikirannya untuk putri kecilnya yang kini sudah berubah menjadi gadis ini, aku selalu bertanya tidakkah ayah menyesal memiliki putri seperti aku? Aku tidak cantik seperti putri-putri dalam kartun Disney.

Ketika aku menangis karena terjatuh dari sepeda, ketika aku menangis karena patah hati, ketika aku menangis karena nilai ulanganku yang jelek, ketika aku bahagia karena jatuh cinta, ketika aku bahagia karena punya sekotak coklat mahal, ketika aku bahagia karena mendapat peringkat. Hal pertama yang aku lakukan adalah datang pada Ibu, dan berbagi semua dengannya.

Sesungguhnya aku rindu. Aku bahkan rela menukar apapun saat ini untuk beberapa saat terindah dalam hidupku yang bersamamu. Ada dalam gendongan ayah, tidur dalam dekapanmu yang terasa nyaman dan sempurna.

Advertisement

Ayah tidak hanya menjadi satu-satunya orang yang percaya aku bisa melakukan apapun, tapi juga menjadi orang yang selalu percaya bahwa aku bisa merubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, ayah juga menjadi orang yang selalu memberiku kesempatan berkali-kali walau berkali-kali juga aku gagal tapi ayah selalu percaya bahwa aku akan berubah. Dan sekarang aku sudah berubah, tapi tetap saja aku masih mengecewakan ayah. Entah sebesar apa sesungguhnya kekecewaan ayah terhadapku ayah tidak pernah menampakannya.

Ayah, kalau boleh memilih aku tak ingin tumbuh dewasa. Aku tak ingin bertambah tua, aku hanya ingin jadi putri kecilmu yang selalu ada di dekatmu.

Garis keriput yang semakin nampak jelas di wajahmu tak mengurangi kekagumanku padamu. Bahkan impianku adalah mendapatkan pendamping hidup seperti ayah.

Ayah, tetaplah sehat tetaplah menjagaku, tetaplah menjadi lelaki yang selalu mendoakanku, tetaplah seperti ini. Aku masih dan akan terus menyayangimu. Selamanya.