Percaya atau tidak, melintas perbatasan negara via darat membuat ketagihan! Meskipun belum banyak border yang pernah aku lalui, setidaknya momen melintas itulah yang selalu terkenang. Adakalanya takjub karena bangunan imigrasi suatu negara yang rapi dan besar, pernah pula kesal karena antrian yang serabutan, juga takut tak diijinkan masuk ke negara yang dituju. Nah, #IniPlesirku tentang salah satu border yang menurutku punya 'seni'nya sendiri.

Border Poipet-Aranyaprathet yang merupakan perbatasan darat Kamboja dan Thailand agaknya mahsyur di Asia Tenggara. Bukan apa-apa, tiap mencari info mengenai border ini segala bentuk scam atau penipuan selalu muncul di awal. Dari mulai pemeriksaan kesehatan berbayar hingga sewa-menyewa alat tulis yang jelas merugikan traveler. Kemudian, aku mendapat kesempatan untuk melintas border ini pada Agustus tahun lalu. Tipe jalanku yang memang well prepared mecoba meminimalisir scam dengan berbagai bentuk usaha dari mulai pesan Direct Bus Siem Reap- Bangkok yang katanya milik pemerintah sampai memastikan sedia alat tulis di dompet.

Tapi namanya juga #IniPlesirku tak ada yang seratus persen sesuai rencana. Direct Bus yang coba dipesan lewat hotel yang aku inapi di Siem Reap ternyata full booked. Pihak hotel merekomendasikan dua nama travel menuju Bangkok. Karena sering membaca ulasan buruk tentang salah satu travel maka aku memutuskan untuk booking travel lainnya seharga 17 USD untuk sleeper bus dari Siem Reap ke border dilanjutkan minivan ke Bangkoknya dan bus akan berangkat jam 4 pagi, maka aku harus siap jam 3.30 untuk di jemput di hotel.

Sleeper bus berangkat terlambat 15 menit dari jadwal seharusnya. Jam karet berlaku di Kamboja juga ternyata. Sleeper bus yang aku tumpangi kali ini bukan privat macam kereta malamnya Malaysia. Jadi tiduran sambil dengar suara-suara khas orang Khmer dan Thailand. Berhubung masih gelap, tiga jam perjalanan menuju Poipet sebagian besar aku habiskan dengan tidur.

Memasuki perbatasan, bus berhenti di satu titik lalu orang dari travel memandu kita ke arah border sambil memberi masing-masing penumpang sebuah nametag sebagai tanda kita penumpang travel tersebut. Di sinilah sinyal siap siagaku ON, karena scam bisa datang dari mana saja. Setelah memastikan form terisi dengan benar aku mulai antri berbaris di loket imigrasi. Kalau boleh sedikit berkomentar, bangunannya agak aneh untuk disebut bangunan imigrasi. Bangunan kecil dengan empat loket sederhana. Tampaknya banyak warga Kamboja yang bekerja di Thailand sehingga antrian sudah mengular sepagi itu.

Advertisement

Penting untuk memastikan bahwa form sudah terisi, atau minimal membawa pulpen. Memang di border Poipet sedia pulpen, tapi satu untuk ratusan orang. Masa iya urusan imigrasi lama hanya karena pulpen? Agak kasian sama beberapa traveler China, sudahlah tak bawa pulpen harus balik lagi ke antrian meskipun sudah sampe loket karena ada data yang kurang lengkap. Rata-rata traveler China yang seperti ini, mereka ribet dengan huruf latin atau Kamboja mungkin ya? Bodohnya pulpenku terselip di ransel paling bawah, jadi susah diambil akhirnya cuma bisa mengamati penderitaan mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.

Lalu, dimana letak scamnya? Tak ketemu tuh. Segala proses berjalan lancar kecuali antriannya yang sampai satu jam lebih. Mungkin efek polisi-polisi yang jaga disitu lumayan banyak jadi pegawai-pegawai scam tidak bisa beraksi. Yang kurang membuat nyaman justru pemandu travel yang menawarkan form seharga 1 USD untuk dibantu agar proses imigrasinya dipercepat. Menguntungkan sekaligus memalukan.