Bu, aku tahu kau tak akan membaca ini, tapi memang itu yang kuharapkan. Kau tak akan tahu jika aku mulai lelah dan sedikit tertatih menapaki jalan Tuhan yang mulai banyak rintangan. Karena jika kau tahu pasti kau akan mencemaskanku. Dan aku tidak mau itu, tapi dengan ini semoga mampu melepas sedikit bebanku.

Bu, kota ini semakin hari semakin kejam, aku baru sadar banyaknya orang bermuka dua. Yang baik di depanku dan seperti iblis di belakangku. Sering sekali mereka mematahkanku dengan kata-katanya yang pedas. Lebih pedas dari sambal korek buatanmu.

Kau benar bu, orang yang berjas dan bergelar sarjana itu belum tentu orang terhormat. Ternyata banyak yang lebih hina perilakunya. Sering mengatasnamakan kekuasaan untuk menjenggal langkahku juga mengatasnamakan hukum dan Undang-undang untuk menghentikanku. Sedang aku yang tak tau apa-apa ini hanya bisa diam saja.

Selain itu ada lagi yang kau benar bu, uang itu bisa membeli segalanya. Aku yang hanya berbekal nilai-nilai baik darimu dan ilmu yang tak seberapa ini kadang terseok-seok untuk menapaki ibukota ini, bu. Aku sangat terkejut dengan kejamnya kota ini yang tak seramah kota kita. Aku yang memiliki bekal seadanya ini sering sekali di pandang sebelah mata bu.

Orang-orang disini benar-benar memikirkan dirinya sendiri. Pernah suatu hari aku jatuh dari sepeda, kebanyakan dari mereka hanya menonton, bu. Dan sesekali tertawa karena kecerobohanku hari itu. Tak satupun yang mau menolongku. Hanya seorang kakek tua yang membantuku berdiri. Beruntung masih tersisa beliau berhati baik seperti kakek.

Advertisement

Bu, aku sering melihat orang tak punya hati berlalu-lalang di sini. Mereka sering keluar masuk mall dan restoran mahal, menggunakan kendaraan mewah kadang pura-pura lupa bayar parkir. Pura-pura tak melihat anak kecil yang meminta-minta dan seorang anak kecil kira-kira 7 tahunan memulung botol bekas diabaikannya.

Kembali dengan ceritaku sendiri, bu aku seperti sendirian di sini. Saat sakitpun aku membeli obat sendiri dan makan sendiri. Padahal teman-temanku ketika mereka sakit kucarikan obat dan makan. Tapi mereka sering tutup mata ketika aku sakit.

Pernah sekali aku pulang kerja malam dan hujan begitu deras disertai angin. Alhasil payung yang kugunakan rusak, aku basah kuyup sampai rumah. Kau tahu bu, apa yang membuatku sakit hati, orang yang katanya mau menjemputku sedang tidur pulas. Kakak sama sekali tak peduli padaku. Selain itu tanpa menuduh atau berburuk sangka bu. Hasil jerih payahku sering menghilang tanpa sebab dari tabunganku. Jadi maaf bu jika aku memilih tinggal sendirian karena menurutku itu lebih baik.

Tapi bu, percayalah aku masih putrimu yang dulu. Kerasnya hidup membuatku semakin bijak sepertimu. Aku tak akan mengabaikan nasehatmu. Aku akan selalu memegang teguh itu sebagai pondasi diriku yang kokoh dan tangguh.

Nilai-nilai baik yang kau tanamkan jauh lebih berharga dibanding setumpuk uang yang dibekalkan orangtua temanku padanya. Aku tak iri bu, sama sekali tak menginginkan itu. Aku malah berterimakasih kau tak memanjakanku dengan uang. Tapi dengan berbagai ilmu kehidupan yang sangat berguna untukku bertahan hidup. Hingga aku benar-benar bebas dari ketergantungan uang.

Bu, aku juga ingin berterima kasih kau menjadikan aku manusia yang berhati dan suka menolong. Karena di setiap kesulitanku pasti ada yang membantu. Bukan mereka temanku atau kakak. Tapi malaikat yang asing denganku tiba-tiba Tuhan kirimkan. Aku percaya semua nasehatmu bu, karena memang benar itu terjadi dalam diriku. Setiap perbuatan baik pasti akan mendapatkan hasil yang baik, Jika kita hidup tanpa dendam hidup kita lebih tenang.

Soal ceritaku tentang kakak, sungguh sama sekali aku tak marah. Aku hanya sedikit kecewa saja hari itu, tapi hari ini semua sudah menguap aku memaafkannya walau dia tak mengakuinya. Bukannya katamu aku harus memaafkan kesalahan orang bagaimanapun caranya. Sudah kulakukan bu.

Tentang orang-orang berjas itu, Lihat nanti saja bu, putri kecilmu ini pasti bisa sejajar seperti mereka tapi tetap dalam ajaranmu. Selalu jujur dan adil dengan orang lain. Biarkan saja mereka saat ini memenuhi kepentingannya sendiri. Biarkan saja mereka puas dengan apa yang membuat mereka senang. Tapi aku yakin suatu saat nanti Tuhan akan menunjukan kebenarannya. Bukankah hukum paling benar adalah hukum dari Tuhan dan hakim paling adil adalah Tuhan sendiri, dan aku yakin itu.

Bu, aku merindukanmu, aku rindu tidur di pangkuanmu tanpa memikirkan dunia. Dan kau peluk hangat, itu membuatku aman dari dunia yang kejam ini. Bu, aku ingin pulang. Tapi aku belum bisa pulang. Bu aku sedikit lelah, tapi hanya sedikit saja kok. Aku pasti melewati segala proses-Nya dengan baik. Jangan berhenti mendoakanku bu, karena lewat dirimu aku mendapat restu Tuhan. Dan doamu itu seperti batu loncatan untuk aku melewati jembatan dengan mulus. Aku janji akan membuatmu bangga dan segera membawa kesuksesanku pulang.