Aku, panggil saja aku dengan gadis tanpa senyum. Wajahku selalu terlihat murung, begitu sapa teman-temanku. Mereka hanya tahu sedikit tentang kepribadianku. Aku tak jarang diam, tak sering juga berbicara. Pikiranku dipenuhi tanda tanya besar mengapa aku dilahirkan menjadi aku. Bukan dia, ataupun dia. Dengan mata menunjuk kearah perempuan-perempuan yang berlalu lalang di hadapanku.

Kehilangan, sebuah kata singkat yang sangat menyakitkan untuk dirasakan. Kecilku dulu, sudah mengajarkan betapa berharganya orang lain bahkan benda sekalipun, sebelum akhirnya kami harus kehilangan. Sepeda rodaempat ku, berwarna merah muda dan memiliki keranjang di bagian depannya sempat menjadi teman bermain saat aku berumur balita, tapi aku harus kehilangan itu karena seorang pemulung mungkin lebih layak mengambil dan mempergunakannya. Pikirku di masa sekarang.

Kehilangan seseorang terdekat lebih menyakitkan dari apapun. Ibu, aku kehilangan kasih sayang serta perhatiannya. Sesosok Ibu yang tak bisa lagi aku temui. Wajahnya yang cantik, hanya tidak lebih dari 24 jam dalam 365 hari aku dapat menjumpainya. Apakah adil? Perpisahan dengan Ayah berdampak buruk buatku. Jiwaku sepi, tak terarah, dan hilang.

Mataku tertuju pada anak perempuan yang sedang berjalan dengan Ibunya, sangat menyenangkan melihat keakraban diantara mereka. Keirianku sering kali muncul setiap momen seperti ini sesekali aku khayalkan. Pada mereka yang begitu mudah menceritakan keluh kesah satu sama lain, tanpa canggung seorang anak kepada Ibu ataupun ibu kepada anaknya. Aku lupa bentuk perhatian dan kasih sayang Ibu, berbagai macam pesan ibu kepada putrinya. Anak itu menggandeng lengan ibunya yang berparas cantik tidak jauh cantik dengan dirinya.

Lamunanku berhenti pada perempuan yang hampir sembilan tahun meramaikan rumah serta mendampingi Ayah menghidupkanku. Walau secara kasat mata ia pantas menjadi seorang Ibu, bagiku ia hanya sesorang wanita dewasa yang terkadang belum memiliki pola pikir, sikap, atau hati yang sedewasa. Umurku yang masih sangat remaja membiarkan dirinya mendidik seperti apa yang ia inginkan.

Advertisement

“Kamu jangan memilah-milih makanan dirumah. Makan saja yang ada”

“Kamu jangan menerima uang lebih selain uang jajan dari Ayahmu”

“Kamu jangan meminta Ayah untuk mengantarmu”

“Kamu harus merapikan dan bantu membersihkan isi rumah setiap paginya”

“Kenapa Ayah lebih perhatian kepadamu dibanding Ibu”

Larangan, keluhan, peraturan lain seakan membuatku jenuh. Menyuruhku untuk berontak. Menyudahi sesak di bantik dan perasaanku. Harapanku mendapatkan kedekatan hangat dengan sesosok Ibu tidak mungkin aku dapatkan. Hubungan kami masih teramat dingin. Aku tak ingin memiliki peraturan jauh dari Ayah bertemu dengannya. Aku ingin kembali pada hak-hak ku layaknya seorang anak dengan orang tua mereka. Hubungan wajarnya orang tua terhadap anak mereka tanpa harus ada yang membatasi.
***

“Maafkan Ibu, nak. Hanya Ayah yang tahu betul mengapa Ayah dan Ibu memutuskan hubungan ini”

Kalimat itu memberi penjelasan bahwa aku belum benar-benar mengerti dan paham dengan permasalahan mereka. Entah aku tak perlu tahu bahkan tak usah tahu sama sekali dengan alasan mereka. Yang jelas, keakraban ku berkurang semenjak perpisahan 13 tahun dengan Ibu.

“Aku berat Bu terbuka dengan Ibu, ingin sekali menceritakan masa remajaku kepadamu namun, rasa canggung itu seakan menahanku untuk membuka mulut untuk bercerita.” Ucapku dalam hati saat aku berhadapan dengan Ibu.

“Ibu nggak kangen sama Ayah?” pertanyaan selugu itu aku tujukan padanya.

Ibu hanya diam dan tersenyum manis.

“Ibu ga sedih?” melanjutkan rasa penasaranku.

Matanya terlihat mulai berkaca-kaca dan mulai mengeluarkan sepatah dua patah kata, “Nak, ini sudah takdir Tuhan memisahkan Ibu dengan Ayah. Ayahmu yang memiliki hak penuh memutuskan hubungan Ibu dengan Ayah dan Ibu dengan kamu. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa lagi.”

“Tapi Bu, Ibu nggak tau rasanya tinggal sama orang yang tidak sejalan dengan kami.” balasku.

“Ibu paham, nak. Kamu harus kuat, yang sabar sebagai anak Ibu kamu harus nurut dengan Ayah dan Ibu barumu di sana. Ibu tidak benar-benar dapat mengurusmu total kalau hak asuhmu ada di tangan Ibu.” Jelas Ibu.

“Sabar sampai mereka memutuskan untuk berpisah seperti Ibu dengan Ayah?” tanyaku bergejolak.

“Husss kamu ini, jangan mendoakan yang tidak baik seperti itu. Doakan selalu yang baik-baik untuk kebahagiaan Ayah dan juga kebahagiaanmu." tegas Ibu.

Secara tidak sadar, aku merasakan percakapan hangat dengan Ibu. Kejadian yang begitu sulit dapat aku rasakan. Mencintai Ibu, haruskah aku tetap mencintai Ibu di tengah keadaan seperti ini? Ia tak lagi mengurusku. Jauh dari kegiatan hari-hariku. Tak lagi mengenal siapa aku di masa kecil hingga remaja sekarang.

“Ibu akan selalu mendoakanmu walau jarak membatasi kita, nak” kalimat itu, kalimat yang membuat aku yakin bahwa Ibu akan tetap menjadi sesosok Ibu yang melahirkanku, memberi banyak pola didik di masa kecil yang tak lagi dapat aku rasakan di usia seperti sekarang. Untuk masa depanku, cara didik Ibu memberikan banyak pelajaran bagaimana aku suatu saat nanti menjadi sesosok Ibu yang juga akan memiliki seorang anak.