23tahun silam, aku dilahirkan di dunia ini dari rahim seorang Ibu yang sangat sangat Luar Biasa yang Tuhan kirimkan untukku. Menjadi puteri kecil yang sudah dewasa semakin membuatku mengerti akan tanggung jawab yang sebenarnya. Aku terlalu terbiasa mengeluarkan keluh kesah akan masalah kecil dihidupku, Bu. Bagiku, Anda itu bukan sekedar seorang Ibu tetapi seorang teman, bahkan bias menjadi musuhku ketika aku marah tanpa sebab karena manjaku yang masih merajalela. Haha, lucu ya Bu tapi itulah yang membuatku benar-benar menikmati peran sebagai Puteri kecilmu.
Jarak kini membuat kita terpisah untuk sementara Bu, aku yang sudah beranjak dewasa memasuki kepala 2 harus mencari jalan dan jati diriku sendiri. Memang diawal aku tidak terlalu memikirkan jika hal ini terjadi karena, berkat kuat dan semangatnya Anda aku mengerti bahwa semakin lama semakin tidak pantas jika puteri kecilmu ini terus menerus merengek karena minta dimanjakan. Tanpa aku sadari meskipun sejauh apapun jarak pemisah, Doa dari bibir mungilmu selalu terucap demi yang terbaik untuk Puteri kecilmu. Dan itu cukup membuatku mengerti bahwa Engkau memang lahir batin menyayangiku Bu.

Untuk komunikasi yang jarang kita rangkai bersama di via telepon, maaf Bu.. Aku hanya menyibukkan diri untuk bekerja, memberikan yang terbaik untuk dihari tuamu kelak. Bisa melihatmu tersenyum bahagia karena Puteri kecilmu yang manja ini bisa mandiri, mencari uang tanpa harus membebanimu. Yah, meskipun hasilnya tidak seberapa namun aku akan selalu mengingat pesanmu sebelum keberangkatanku ketanah seberang. Hasil tidak seberapa yang penting bekerja dijalan yang jujur dan halal..

Bu, sekali lagi terimakasih untuk doa yang tidak pernah berhenti, yang tidak pernah bosan memberikan wejangan, mendengar keluh kesah disaat aku benar-benar bosan dan muak dengan apa yang sudah digariskan oleh Ilahi. Untuk kali ini, bertahanlah Bu.. Ini tidak akan lama, temani aku dengan doamu, semangat dari bibir mungilmu. Semua ini demi Ibu, demi Ibu yang sudah luar biasa menjadi Ibuku..