Banyak orang sekarang gila hormart. Entah untuk apa? Yahh, biarlah namanya gilla hormat.

Siapa dari kita yang tidak ingin dihormati?

Jangankan orang dewasa, anak-anak kecil di dalam kelas pun akan serentak menjawab, “Saya”.

Ya, pasti semua kita ingin dihormati. Mendapat penghormatan. Atau meraih kehormatan adalah salah satu fitrah manusia. Hormat gerakkk ….

Terus, gimana bisa kita mendapat rasa hormat itu?

Advertisement

Gampang saja. Bagi sebagian kita bilang, kenakan saja pakaian yang necis. Parlente. Tambah aksesori jam tangan yang mahal. Naik mobil mewah. Pasti kita dihormati, disalutin orang. Udah ganteng, necis, keren, kaya lagi pasti mudah meraih kehormatan. Mau coba? Silakan saja.

Iya gak begitulah. Itu sih bukan kehormatan kalo modalnya penampilan atau harta?

Lho coba saja. Kita sendiri pun pasti hormat ada orang yang tampil necis, parlente, pake jam tangan keren plus naik mobil mewah kan. Apalagi zaman begini, kan semua urusan diukur dari materi, dari penampilan fisik. Apalagi di negeri yang kita cintai bernama Indonesia, banyak orang mengukur kehormatan hanya dari materi semata. Emang kamu yang cewek, mau menikah dengan orang yang tampangnya biasa saja dan gak punya uang? Pasti gak mau kan.

Emang begitu ya cara kita menafsirkan kehormatan manusia?

Iya lah. Cuma kalo kita mau pikirkan, tentu cara-cara itu belum tentu benar. Harta, kedudukan, pangkat bahkan status sosial tidak harus menjadi simbol kehormatan manusia. Materi bukan satu-satunya cara biar dihormati. Kan masih ada cara yang baik untuk bisa dihormati.

Emang sih, dunia itu tempat kita berlomba meraih kehormatan. Gak bisa disangkal, gak bisa ditolak. Tidak sedikit dari kita yang menuntut hormat dari orang lain. Buat apa kita bekerja, kalau tidak dihormati. Atau untuk apa kita cukup secara materi jika tidak dihormati. Sangat-sangat wajar, manusia ingin dihormati itu wajar.

Lha, terus maksudnya apa dong kehormatan?

Iya asal kita tahu saja. Kehormatan itu ada sebagai hasil atau akibat dari yang kita lakukan, bukan sebab atau cara kita agar dihormati. Jadi, gak usah kita cari-cari cara untuk dihormati. Atau melakukan sesuatu agar dihormati. Karena kehormatan adalah jalan kebenaran yang kita rintis. Kehormatan bukan uang, bukan harta, juga bukan jabatan.

Kalo kita niatnya baik, ikhtiarnya baik dan konsisten. Maka, hasilnya pun baik. Nah, di situ kita pantas mendapat kehormatan. Kita dihormati, bukan sebab kekuasaan atau kesuksesan. Walau diyakini banyak orang bahwa kekuasaan atau kesuksesan bisa menjadi alat untuk mencapai kehormatan. Iya bolehlah, asal benar jalannya.

Ingat ya, kehormatan adalah kesetiaan kita dalam menjalankan kebenaran. Kuatnya kita menjaga martabat diri dan memegang prinsip kebenaran. Maka bersamaan dengan kehormatan, atau pada diri orang terhormat selalu punya ‘harga diri” yang menjaganya. Agar “tetap terhormat’.

Tapi kok ada orang yang gila hormat?

Ya kalo itu mah gak tau. Tanya aja ama orangnya. Setau saya, gila hormat itu terjadi pada orang yang perilakunya tidak benar tapi minta dihormati. Orang yang gak mau menghormati, tapi maunya dihormati. Itu penyakit, gila hormat. Emang banyak sih di zaman sekarang orang yang gila hormat. Tengok aja ke kanan dan ke kiri hehe.

Dalam tradisi Bugis-Makassar, ada istilah Siri na Pesse’. Sikap moral yang melandasi seseorang bisa meriah kehormatan setelah menjalankan kebenaran dan kejujuran. Nah, untuk bisa terhormat atau meraih kehormatan, setiap manusia harus punya 4 sifat di dalam diri yaitu getteng, lempu, acca, warani. Atau TEGAS, LURUS, PINTAR, BERANI. Jika 4 sifat itu ada, maka kita berhak disebut orang terhormat. Siri na Pesse’.

1. Tegas, artinya jelas dan terang dalam kebenaran; nyata dalam bertindak; sehingga melahirkan kepastian, tidak ragu-ragu lagi, tidak samar-samar.

2. Lurus, artinya tegak dalam kebenaran; bertindak jujur dan baik dalam budi pekerti sehingga tidak sesat, tidak salah arah.

3. Pintar, artinya pandai atau cakap secara ilmu dan pengetahuan; selalu cerdik dan banyak akal untuk hal yang baik; bahkan dikenal mahir dalam melakukan atau mengerjakan sesuatu. Orang sekarang bilang kompeten.

4. Berani, artinya hati yang mantap dan rasa percaya diri dalam menjalankan kebenaran; tidak takut atas kesulitan yang dihadapi, tidak gentar atau mudah putus asa.

Kehormatan itu memang tidak perlu dicari. Tapi biarkan ia ada akibat kebenaran dan kejujuran yang kita tanamkan. Toh, kehormatan sehebat apapun, ia mudah berubah menjadi kehancuran. Karena kita tidak mampu mengendalikan diri. Tidak mampu berdamai dengan keadaan atau menerima realitas. Kapan pun dan di mana pun.

Sederhana sekali ya, Ketika kita terlalu mudah “membuang” kebenaran, ketika itu pula kehormatan akan pergi. Kehormatan pun akan lenyap di saat kita merendahkan diri kita sendiri”.

Karena memang, kita hanya ditugaskan menjalani hidup dengan benar. Ada atau tidak ada kehormatan. Siri na Pesse’.

#BelajarDariOrangGoblok