Mencintai dan dicintai adalah hal terbaik dalam sebuah romansa. Seakan dunia cinta akan selalu diisi oleh kebahagian tak semu bila mencintai dan dicintai selalu terjadi. Cerita mecintai dan dicintai akan menjadi cerita indah. Dan hal tersebut, selalu diimpi-impikan banyak manusia, makhluk yang terlahir dengan rasa cinta.

Tapi, tidak selamanya mencintai selalu berbalas dicintai. Tidak selamanya. Setidaknya begitulah di hidupku. Aku bahkan jatuh dan tak bangun lagi karena mencintaimu. Mungkin akunya terlalu jatuh ke dalam lubang yang begitu dalam. Atau, mungkin juga akunya terjatuh pada lubang dangkal, namun begitu nyaman di dalamnya. Entahlah. Aku cuma mengetahui dua hal: Aku jatuh cinta padamu; kamu tak jatuh cinta kepadaku.

Hai, seorang yang buatku jatuh cinta hingga sejatuh seperti ini! Rasanya memang sungguh tidak nikmat bila tidak dicintai kembali. Tapi, bukankah memang begitu adanya cinta?

Bahwa esensi cinta adalah mencintai sebaik-baiknya, tanpa pernah mengharapkan selebih-lebihnya. Prinsip itu masih kupegang erat-erat sampai saat ini. Tertanam di hati, yang bentuknya tidak semirip hati lagi.

Ketika aku mencintaimu dan kamu tidak mencintaiku, aku akan tetap akan mencintaimu. Jangan tanya kenapa karena jawabnya sederhana: Aku mencintaimu. Setidaknya kamu sebaiknya tahu bagaimana rasanya ketika aku sudah berjuang, berjuang, berjuang, berjuang, berjuang, berjuang, berjuang, berjuang, berjuang, berjuang, berjuang, dan berjuang, namun akhirnya selalu saja sama: gagal. Itu sakit. Perih.

Aku terus meyakini diri. Mungkin aku hanya membutuhkan berjuang ketiga belas kalinya. Kalaupun masih gagal juga, maka mungkin aku cuma membutuhan berjuang keempat belas kalinya, dan begitu seterusnya. Hingga kapan? Aku tidak tahu. Bahkan sekalipun perjuanganku berhasil, aku akan tetap berjuang. Karena aku berjuang pada orang yang kucintai, kamu. Jadi, kenapa aku mesti menghentikan perjuangan pada orang yang kucinta?

Advertisement

Pada satu titik, aku ingin memberitahumu. Saat ini aku masih menunggumu. Namun, aku tidak bisa berjanji sampai kapan akan menunggu.

Bukan aku seorang yang mudah menyerah. Hanya saja, aku harus belajar bijaksana. Memahami kapan waktunya aku harus berhenti. Aku akan menunggumu, tapi tidak untuk selamanya.