Untuk Semua Kenangan. Bukan Aku Tak Lagi Sayang, Pun Bukan Orangtua Sebagai Penghalang. Aku Hanya Sedang Berjuang Hingga sampai titik ini, Mencoba menoleh kebelakang sudah jauh kita melangkah, 535 hari, 12.720 jam kita dibersamakan oleh-Nya.

Bukan karena "Kamu yang terlalu sibuk, atau aku yang sudah tidak penting lagi", Namun karena kamu menganggap Hubungan Kita jalan ditempat. Terakhir aku ingat, kamu mengungkapkan ini ketika aku tak kunjung memiliki keberanian mengizinkan kau untuk sekedar datang kerumah. Buatku menjaga perasaan orang tua yang memiliki harapan besar padaku lebih penting dari segalanya.

Aku Hanya Butuh Waktu Bukan aku tak lagi sayang, pun bukan orangtua sebagai penghalang. Aku hanya sedang berjuang untuk mereka yang memang saat ini lebih layak aku perjuangkan. Aku hanya ingin menjadi kebanggan untuk kedua orangtuaku dahulu, sebelum akhirnya aku jadi wanita yang pantas kau banggakan dengan anak-anakmu.

Untuk Setiap Kenangan Jika aku boleh mengungkit dan bukan berarti aku mengharapkan imbalan serupa, aku pernah menghabiskan waktu ku untuk menunggu, siapa lagi kalau bukan kamu nahkoda hebatku. Menghabiskan detik demi detik seorang diri. Ya Allah kemana saja aku sampai orang yang aku perjuangkan yang karena keyakinanku terhadapnya mampu bertahan menanti seorang diri selama 386 hari tak menemukan kenyamanan dengan ku.

Allah, jika memang detik ini juga Engkau pisahkan kami, Engkau yang Maha dari segala Maha Hapus semua memori yang pernah Kau izinkan untuk kami lewati bersama. MATOS, Foodcourt, Kursi GKB FMIPA, Bunggurasih, Ruang tunggu penumpang, Bus Tulungangung-Trenggalek, Tas Arei nya, 521.000nya, KBS, Kaos, dan pelukanmu waktu itu jika aku tahu itu untuk yang terakhir kali akan ku dekap erat.

Advertisement

Marah-Marah gak jelasnya karena gak pernah ngasih kabar duluan, gak pernah minta ditelfon, hingga bercandaku yang kelewat batas, kadang memuatnya marah. Isengya yang tiba2 mengatakan "aku cuma mau bilang"|"apa"|"I Love You". Kecerdasannya yang telah memberiku banyak pengetahuan dan pelajaran hidup baru. Bahwa kapal itu lebih dari sekedar besarnya kapal Jawa-Madura, Jawa-Bali tapi 2 kali stadion gajayana. Tentang bedanya bersandar dan berlabuh. Dan banyak hal baru lainnya. Dia memang tak pernah menjemputku ketika pulang kuliah dan rapat hingga larut malam, tapi selalu khawatir kenapa tiap hari rapat dan selalu pulang sore. Hingga aku lupa kapan tepatnya aku sudah tidak lagi dipanggil “sayang” olehmu, memanggil dengan panggilan sayang yang biasanya selalu diberikanpun sudah tidak. Dibersamakan dengan orang yang tidak biasanya itu aneh, asing dan yang pasti sakit Untuk 535 Hari 12.720 Jam Lagi Dan entah apa lagi yang salah dari diriku, kamu mengambil sikap untuk mendiamkanku. Bukan sekali dua kali aku bertanya, dan hanya jawaban dengan nada sama yang aku terima. Intinya “Aku Bingung, Aku Hanya Ingin Diam”

“Kamu Fokus Dulu dengan Kuliahmu, Diselesaikan Dan Aku Juga Bersungguh-Sungguh Menyelesaikan Pendidikanku”. Allah, harusnya memang aku mengerti maksud dari jawaban ini apa. Namun, lagi-lagi aku hanya ingin memperjuangkanmu, mengulang 535 hari 12.720 jam lagi untuk kesekian kalinya dan entah kapan akhirnya. Hanya itu. Terima Kasih Mas, Cinta, Sayang, Nahkodaku, Captain hebatku. Terima kasih pernah membuatku menjadi perempuan beruntung karena jarang ada perempuan yang tidak menempuh sekolah kesehatan bisa mendapatkan laki-laki berseragam sepertimu. Terima Kasih berkenan singgah dipelabuhanku yang kecil, jelek, dan tidak menyamankan kapalmu ketika bersandar. Terima kasih sudah membuatku menjadi perempuan dengan tingkat kesabaran yang kata temanku lebih. Terima kasih untuk semua pemberian-pemberian yang entah kapan aku bisa menggantinya. Kamu hebat, kapalmu besar, kamu berhak melabuhkan kapalmu dipelabuhan yang lebih besar, lebih indah dan yang pasti lebih menyamankan kapalmu ketika kau berlabuh. Untuk permintaan yang belum sempat ku kabulkan yakni membawamu kerumah, aku minta ma'af.

Ma'af untuk semua manjaku, kekanan-kanakanku yang kadang memaksamu tuk menuntunku. Ma'af untuk ketidakseriusanku. Dan ma'af untuk semua hal yang membuatmu tak nyaman hingga akhirnya kau memutuskan untuk berhenti bersamaku. Ma’af hingga mungkin aku yang membuatmu binggung untuk mengambil keputusan. Bukan kamu yang salah, pun juga aku tak kan menyalahkan diriku. Karena Cinta tak pernah salah rumah ataupun salah arah, namun sering kali ia hanya sekedar singgah. Terima Kasih Allah, telah kau izinkan aku sempat merasakan merajut mimpi dengan seorang calon perwira kapal, calon Captain besar masa depan.

Terima kasih, Insyaallah Kau Sudah Ku Ikhlaskan