Hujan ini adalah saksi bisu tentang rasa yang tak bisa terucap.

Derasnya hujan yang tak kunjung berhenti, langit begitu gelap, dan angin terlihat samar menari-nari begitu kencangnya.

Semua pemandangan terlihat jelas dari bilik jendela kecil ini, entah mengapa langit pun seperti dapat membaca suasana hatiku yang tak bisa terucap oleh bibir ini.

Sesekali bahkan hingga tak terhingga pesanmu mewarnai hari-hariku termasuk saat ini, saat di mana hujan turun begitu derasnya di mana aku ingin merindu dan memikirkanmu, bahwa mungkin tak seharusnya rindu ini terbalas.

Hadirmu yang mengisi kehampaan ini, sehari, dua hari, hingga sekarang mampu mengisi sedikit demi sedikit rasa yang dulu pernah terlupakan. Perhatianmu meskipun hanya via smartphone mampu membuat simpul senyum di hariku yang begitu melelahkan.

Advertisement

Tak ayal tanpa disadari dan tanpa seizin logikaku, dirimu dapat menggoyahkan hati yang telah aku susun begitu susah payahnya.

Dan seolah diingatkan oleh Nya, petir ini kembali menyadarkan logika yang sesaat melupakan adanya prinsip, di mana cinta tak hanya bercerita tentang kebahagiaanku dan kebahagiaanmu dan lalu kita bersama saat ini, jelas bukan.

Bahwa di faseku yang saat ini, cinta adalah tentang kebahagiaan keluargaku dan keluargamu serta restu dari semesta, dan cinta juga tak hanya bercerita untuk saat ini, tetapi cinta yang kuinginkan adalah cinta yang terus dapat bercerita hingga kita menua bersama.

Jika rasa cintamu begitu tulus dan bertanggung jawab, tak seharusnya dirimu begitu mudah mengucap cinta dan menginginkanku dalam hubungan "jadi-jadian", karena cinta tak segampang itu.

Bukan aku tidak menginginkanmu, tetapi ada rasa dan logika di mana aku benar-benar takut untuk memulainya.

Dan tak bisa dipungkiri, aku juga manginginkanmu tetapi hati ini tahu dengan pasti bahwa aku juga tak menginginkanmu kelak terluka, dan aku sangat tahu tak seharusnya hubungan samar ini kamu perjuangkan.

Dan sekali lagi kukatakan, bukan aku tidak menginginkanmu, tetapi aku tidak ingin memberikan luka baik itu sekarang maupun kelak, dan bukan aku tidak mencintaimu tetapi keegoisan ini adalah caraku untuk melindungimu dari luka yang benar-benar takut aku ciptakan.

Cinta bukanlah soal kamu, aku, dan kita tetapi cinta dalam sudut pandangku adalah tentang bagaimana diriku dan dirimu saling memantaskan di hadapan keluargaku, keluargamu, dan juga semesta.

Dan aku percaya, jika dirimu adalah takdir yang tak bisa terbantah lagi, bagaimanapun lurus dan curamnya alur takdir ini, aku dan kamu pasti dipertemukan yang tak sebatas "jadi-jadian" tetapi lebih dari itu, sebuah hubungan halal di mana kamu berada tepat di depanku untuk menuntunku dan menemaniku bercerita tentang cinta, hingga kita menua bersama.

Inshaallah…