Masih jelas dalam ingatanku, kita yang dulu selalu berdua, kita yang dulu hampir tak pernah terpisahkan, kita yang dulu tak pernah kehabisan bahan bicara, kita yang dulu bahagia. Kita yang dulu.

Kita sudah tak lagi mesra. Kita sudah tak lagi hangat. Hal-hal yang dulu kita lakukan bersama mulai menghilang satu per satu. Kita tak pernah lagi nonton berdua. Kita bahkan tak pernah lagi jalan berdua. Aku mencoba memahami kesibukanmu. Tugas dan tanggung jawabmu sudah semakin berat. Aku tak ingin menjadi gadis manja yang selalu merengek padamu. Beberapa teman pun menyadari perubahan sikap kita. Mereka mulai sibuk menerka-nerka apa yang terjadi diantara kita. Mungkin salah satu dari kita sudah mendua hati, mungkin salah satu dari kita terpaksa menjalani hubungan, mungkin salah satu dari kita tak pernah bahagia sejak awal. Namun aku selalu menepis semua pikiran negatif mereka itu. Meskipun dalam hati, aku pun memikirkan hal-hal itu.

Hingga akhirnya kenyataan itu menghampiriku. Saat aku berpikir kamu sibuk dengan pekerjaanmu, ternyata kamu sibuk dengan wanita lain. Pesan singkatku yang sudah jarang kamu balas, ternyata adalah tanda bahwa kamu sibuk membalas pesan singkat wanita lain. Atas nama cinta yang aku junjung selama ini, aku mencoba bersabar hingga kamu menyadari kesalahanmu. Aku mencoba acuh tak acuh dengan hubungan gelapmu itu. Aku mencoba tetap menjadi kekasihmu yang sewajarnya. Mungkin kamu hanya sedang jenuh dan butuh pelampiasan. Namun ternyata aku salah. Kamu semakin melunjak, kamu semakin berani menunjukan kemesraanmu dengannya dihadapan umum. Hubunganmu dengannya sudah menjadi konsumsi publik. Kamu bahkan sudah tak lagi memikirkan perasaanku. Tapi kata putus tak pernah terlontar dari bibirmu. Entah mengapa aku merasa tetap harus bertahan denganmu. Aku tetap setia.

Namun semua ternyata sia-sia. Mungkin bagimu, aku hanyalah bonekamu. Kamu datang dan pergi selalu sesuka hatimu. Dan aku hanyalah manusia biasa. Kesabaranku sudah habis, aku sudah tak bisa lagi menerima tingkah lakumu. Aku ingin mengakhiri hubungan kita. Tapi kamu bersikukuh tak ingin melepaskanku. Menurutmu, aku adalah milikmu seutuhnya. Apapun alasannya tetap tak kamu terima. Katamu, kamu tak ingin berpisah. Katamu, kamu mencintaiku. Terlalu naif bagiku untuk mempercayai itu. Aku sudah tak percaya lagi setiap kata yang kamu ucapkan.

Aku sudah tak ingin kembali menjadi bonekamu lagi. Aku tak ingin kamu permainkan. Aku sudah menyerah. Bukan karena aku sudah tak lagi mencintaimu, aku hanya tak ingin semakin terluka. Mungkin kita hanya dipertemukan untuk saling belajar, namun tak Tuhan izinkan untuk bersama.