Masa lalu itu rumit.
Seseorang pernah berkata, "Masa lalu itu bukan untuk dikenang, tapi untuk dijadikan pelajaran".

Hei, tolong jangan samakan masa lalu dengan matematika yang penuh angka dan perhitungan, atau sejarah yang selalu mengingat tiap detil kejadian secara rinci, atau bahkan kewarganegaraan yang selalu berisi nilai moral yang patut dicontoh maupun dihindari.
Seseorng juga pernah berkata, "Move on itu saat kita sudah bisa melupakan masa lalu". Halo, cuma amnesia lupa ingatan yang bisa buat seseorang benar-benar melupakan masa lalunya. Sudahlah, masa lalu itu rumit. Ribuan quotes keren dan jutaan neutron dikepala tak akan mampu mengurainya.

Masa lalu akan selalu memiliki sedikit tempat di hati. Bohong jika kamu menyangkal saat membaca kalimat tersebut. Jujurlah. Sampai kapan pun masa lalu akan terus memiliki satu tempat dihati. Hanya saja volume ruang yang ditempatinya akan semakin mengecil tertutupi olehnya yang kini bersamamu. Tugasmu lah untuk terus menutupinya hingga ia hanya menjadi satu titik kecil yang tak kasat mata di sudut hatimu.

Buat kamu. Aku tau masa lalumu begitu berharga. Sulit bagimu menerimaku sebagai penggantinya. Entah karena rasa sayangmu yang terlalu dalam atau rasa bersalahmu yang terlalu besar. Sadar atau tidak dua hal tersebut merupakan bukti tak terbantah bahwa kau mencintainya.

Kamu, masih kamu yang sama yang mengisi hari dan hatiku. Kenapa kamu memilihku jika hatimu belum siap menerimaku? Kenapa memilihku jika kamu belum mampu merelakannya? Sadarlah, aku bukan dia. Dan sampai kapanpun aku tak akan bisa menjadi sepertinya. Jangan cintai aku sebagai bayangannya.

Advertisement

Hey kamu, maukah mendengarkanku kali ini? Aku menyayangimu. Aku bahagia dengan kehadiranmu dan tak keberatan dengan caramu mengubahku. Karena aku yang menginginkan perubahan itu. Tapi aku mulai lelah. Aku mulai sadar bahwa tujuanmu adalah mengubahku menjadi sepertinya. Aku tak mampu lagi hidup sebagai bayangan dia yang masih kau cinta. Aku dilema. Aku berada pada posisi ingin menyerah namun tak mampu menyerah. Dua pilihan yang sama-sama meninggalkan luka tak terobati dihatiku.

Untukmu, benarkah kamu menyayangiku? Jika masih ingin bersamaku, dengarlah pinta ku ini. Tenanglah, aku tak akan memintamu melupakannya karena dari awal sudah ku katakan bahwa tak akan ada yang mampu melupakan masa lalunya. Aku hanya memintamu untuk mengikhlaskannya. Biarlah cerita kalian hanya menjadi hiasan dalam legenda hidupmu dan dia. Jangan lagi temui dia walau hanya sekedar untuk meminta maaf. Tak ada kebaikan yang akan kau dapati jika melakukannya selain membuka luka lama yang pasti mati-matian diobatinya. Hargai lah perjuangannya yang berusaha merelakanmu walau sulit. Tak hanya dia, kau juga akan menyakitiku yang kini mendampingimu dan mungkin saja seseorang lagi yang kini mendampinginya.

Jangan lagi terjebak pada rasa bersalah yang akan membuatmu melukai lebih banyak hati