Move on, pasti bukan sebuah ungkapan yang asing untuk kita dengar. Mungkin mudah mengumbar ucapan tersebut, tetapi tidak semua orang memahami maknanya. Sebenarnya bagaimana cara menilai bahwa upaya ‘move on’ ini telah dianggap sukses. Atau justru tanpa kita sadari masih terbelunggu dalam masa lalu. Mari kita simak beberapa ciri yang mungkin akan membuat kamu lebih memahami diri sendiri.

“Knowing yourself is the beginning of all wisdom.”― Aristotle

– Merasa sensitif dengan beberapa hal berkaitan dengan ‘si masa lalu’

Segala hal yang pernah terjadi dalam kehidupan kita tentu akan menimbulkan kesan yang berbeda bagi tiap orang. Kesan yang mengendap hingga menjadi kenangan. Melihat foto kebersamaan, barang-barang pemberian, chat history, film dan lagu favorit. Bahkan segala hal yang tampak umum tetap mengingatkanmu dengan dia. Contohnya seperti saat menonton siaran berita tentang suatu kejadian di kota tempat tinggal dia. Berkenalan dengan seseorang yang kebetulan memiliki nama yang mirip dengan dia. Seolah kota atau nama tersebut mendadak menjadi populer saat ini. Hingga kamu menggerutu,

“Huuhh.. kenapa nama itu lagi, kenapa Jakarta lagi, tidak ada yang lain?”

Hanya dengan mendengar dan melihat saja sudah membuat badanmu alergi. Hanya karena kesalahan seseorang kamu seolah-olah jadi membenci seisi dunia. So, apakah banyak hal yang sering kali masih mengingatkanmu, masih membuatmu marah dan bersedih?

Advertisement

Come on, apa yang salah dengan dunia?

Tidak ada. Itu hanya tanda bahwa kamu belum ‘move on’.

– Mencoba mencari tahu kabar dia melalui media sosial.

Pada jaman sekarang dimana segala informasi bisa kita cari dengan mudah tentu stalking sudah menjadi hal yang lumrah. Jika kalian menyadari sebenarnya apa kegunaan media sosial? Begitu beragam tapi memiliki tujuan dan latar belakang yang serupa. Adalah untuk memudahkan pertukaran informasi, baik pribadi maupun umum. Mungkin ekstrimnya bisa kita sebut untuk ajang pamer. Lalu apa yang salah? Salah, jika saat stalking masih ada yang berkecamuk dalam hatimu.

“Ohhh.. Sekarang dengan dia. Hahaha masih lebih baik aku.”

Padahal diam-diam mata sudah berkaca-kaca.

Belajarlah jujur pada dirimu sendiri, tidak ada salahnya mengakui bahwa kamu belum bisa melupakan dia. Tapi setidaknya berusahalah untuk tidak melihat segala hal tentang dia dengan sudut pandang menghakimi dan penuh dendam. Karena membenci hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Bukankah kamu juga berhak untuk bahagia.

Kebahagiaanmu bukan berada di tangan seseorang kecuali dirimu sendiri.

– Masih memikirkan hal yang tidak pernah terjadi.

Ada kalanya kita bertanya-tanya pada diri sendiri tentang suatu alasan. Alasan yang membuatmu masih penasaran dengan masa lalu. Berandai-andai tentang suatu kemungkinan lain jika kamu diberikan kesempatan kedua. Berharap kamu bisa melakukan hal yang lebih baik untuk membuat hubungan tersebut dapat berhasil. Tapi bukankah itu tandanya kamu tidak bersyukur dan belum mengikhlaskan segalanya berlalu. Mungkin kamu lupa bahwa

Tuhan lebih tahu apa yang kamu butuhkan meski itu bukan yang kamu harapkan.

Tetapi percayalah bahwa itulah yang terbaik untuk saat ini meskipun sekarang kamu belum menyadari.

– Mengatakan “Aku sudah move on” tidak berarti apa-apa.

Untuk bisa dianggap move on tidak perlu berkoar-koar dengan lantang, “Aku sudah move on”. Tidak perlu berusaha meyakinkan orang lain hanya demi mendengar, “Wah kamu sudah move on”. Kamu tidak perlu suatu pengakuan tapi pembuktian. Hal paling penting adalah apa yang kamu rasakan tentang dirimu. Kamu dapat melakukan segala kegiatan tanpa khawatir konsentrasimu terganggu. Kamu menemukan kembali perasaan nyaman dan tenang dalam dirimu. Kamu merasa dapat melangkah lagi dengan ringan. Berbahagialah dengan sepenuh hatimu.

“Count your age by friends, not years. Count your life by smiles, not tears.”― John Lennon

– Biarkan atau paksakan?

Terkadang tidak perlu memaksakan pikiranmu untuk melupakan, cukup melangkah saja perlahan. Biarkan waktu yang akan mengambil andil untuk menghapus lukamu.

Bayangkan seperti seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan hingga mendapat cidera pada kaki. Tentu untuk memulihkan kondisi tersebut bukan dengan memaksakan kakinya untuk tetap bisa dibuat berlari dalam keadaan terluka. Karena hal tersebut akan membuat cidera semakin parah.

Maka bijak adalah dengan melakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuanmu. Pelan-pelan hingga kamu merasa kamu sudah siap kembali berlari. Mungkin menurutmu klise tapi dalam kasus lain, bukankah otak diciptakan untuk mengingat bukan untuk melupakan.

Sesungguhnya bukan tentang melupakan kenangan tapi melupakan rasa sakit hati.

Kita tidak bisa mengatur apa yang ingin kita simpan dan buang dari pikiran. Kita hanya bisa berusaha dengan mengalihkan pikiran. Salah satunya dengan membuat otakmu menerima hal-hal baru dan bermanfaat dari luar sana. Maka secara natural akan ada waktunya pikiran dan hatimu akan sembuh dengan sendirinya.

“Change, like healing, takes time.” ― Veronica Roth, Allegiant