Aku terkejut mengetahuinya. Betapa besar aku bisa terluka karenamu. Bahkan impian dan harapanku terasa menyakitkan. Jika kau menjadi diriku, bagaimana kau menghadapinya? Jika hari-hari yang menyusahkan ini menjadi milikmu?

Hanya dua minggu janjimu itu bertahan. Hanya dua minggu aku merasa sangat bahagia tanpa ada lagi kebohonganmu, tanpa hadirnya wanita itu lagi. Dua minggu yang menyenangkan bagi kita. Namun, setelah kau bertemu dengannya lagi, untuk kesekian kalinya hatimu mulai goyah (lagi).

Kau memberikan alasan klise, alasan yang sama, "kasihan". Kau tidak tega melihatnya seperti ini sekarang. Kau merasa bersalah padanya. Lalu bagaimana denganku? Apakah dengan mengungkapkan semua ini kepadaku, kau harap aku akan menerima dengan ikhlas jika kau mengulangi kesalahan yang sama lagi?

Aku, memang ku akui tingkat kesabaranku melebihi batas sewajarnya, aku masih bisa memaafkan jika memang permintaan maaf itu tulus dan dapat memperbaiki kesalahan. Tapi, jangan kau kira kesabaranku tidak ada batasnya, aku selalu menunggumu disini dengan setia, disaat ada hati lain yang datang meminta perhatianku. Namun, aku rela mengabaikannya demi dirimu. Demi dirimu yang telah berjanji akan berubah menjadi lebih baik lagi. Tapi sekali lagi kau kecewakan aku.

Kesempatan yang telah kuberikan, sepertinya tak bisa mengubahmu. Aku, yang sudah berusaha yakin padamu, kau hempaskan sekali lagi. Mungkin kau mengira hatiku terbuat dari baja, hingga kau sakiti berjuta kalipun, aku akan tetap menerima dan memaafkan.

Advertisement

Tapi mungkin kali ini, maaf aku tidak bisa. Aku sudah terlalu lelah. Lelah dengan janjimu, lelah dengan sikapmu, lelah menghadapi kenyataan bahwa kau memang tidak bisa menjalani hubungan ini hanya denganku, lelah karena ketidaksetiaanmu. Kau masih peduli dan mencintai wanita di masa lalu mu itu.

Sekarang, lepaskanlah aku. Jika kau memilih kembali padanya, berarti aku pun tak kau anggap ada di hatimu. Aku pun akan berusaha melepasmu, berjuang melupakan kenangan kita. Kenangan yang aku kira akan bertahan selamanya. Aku yang sangat menyayangimu, aku yang mempunyai impian masa depan bersamamu, aku yang selalu bisa menerimamu apa adanya, aku seperti keledai bodoh yang selalu percaya akan ucapanmu, aku yang bisa menerima dan memaafkan semua kesalahanmu, dan aku yang selalu menutup telingaku dari perkataan orang bahwa kita tidak pantas bersama, namun kau sia-siakan aku begini saja.

Aku yang menjalani hubungan ini dengan serius, mempunyai harapan yang besar akan masa depan hubungan kita, mimpi-mimpiku yang kubayangkan akan hidup berdua bersamamu dan anak-anak kita nantinya, pun keluargaku yang sepertinya sudah sangat menerimamu. Kau pun sering berucap tentang masa depan kita, dari bibirmu terucap bahwa kau pun serius menjalani hubungan denganku, tapi kenapa kenyataan yang ada sungguh berbeda? Tidak mungkin keseriusan dalam hubungan akan terjadi jika hatimu pun rela kau bagi. Jika kau memang ingin serius denganku, kau pun pasti akan menahan godaan apapun itu demi menjaga perasaanku yang tulus padamu, agar kita bisa bersama tanpa ada yang mengganggu.

Sekarang, pergilah bersamanya. Jika kau memang tidak bisa memilih, mungkin kau menungguku untuk melangkah mundur dari kisah ini. Kini, Kulepaskan cintaku ini, ku rela berkorban, namun kau benar-benar harus bahagia bersamanya. Untuk sementara mungkin aku akan bertahan disini sendiri, menunggu hati lain yang menghampiriku, hati yang bisa menjaga kesetiaannya, hati yang bisa menghargai perasaanku padanya, hati yang tidak akan mengkhianatiku, hati yang tidak akan mendua, hati yang berjuang untuk bersama selamanya.

Terima kasih sudah membuatku sangat bahagia saat bersamamu, terima kasih karena kau selalu melindungiku, memberikan perhatian lebih padaku, terima kasih telah hadir dalam keluargaku. Maafkan jika aku dan keluargaku tidak sempurna untukmu, maafkan pula jika keluargaku terlalu berharap banyak kepadamu dan membebanimu.

Semoga kita mampu bahagia walau dengan jalan berbeda, walau tidak bersama.