Kau memang datang di saat di tepat, ketika dulu aku telah tiba pada satu titik di mana aku percaya bahwa cinta bukanlah sesuatu yang mutlak kubutuhkan dalam suatu hubungan.

Aku tidak menyalahkan keadaan. Aku tidak menyalahkan orang tua kita yang berkehendak dan berusaha agar kita bisa saling mengenal dan kemudian bersama. Aku tidak menyalahkanmu. Aku tidak menyalahkan siapapun selain diriku sendiri.

Ya, aku memang bersalah. Di mata semua orang barangkali aku sangat bersalah. Aku bahkan telah menyiapkan diri jika kelak ada yang akan menyebutku perempuan jalang. Sungguh, aku tidak peduli lagi. Bukankah mereka hanya melihat tanpa mengerti apa yang kualami? Bahkan jika semua orang meludah dan memunggungiku, aku akan tetap bertahan. Sebab, dibanding mencintai orang lain, aku lebih mencintai diriku sendiri. Aku harus terlebih dulu bahagia sebelum berusaha membahagiakan orang lain.

Kau sungguh orang yang baik. Aku berterimakasih atas waktu singkat yang pernah kita lewatkan bersama, atas kepercayaan yang pernah kau beri, atas rencana masa depan yang pernah kau susun bersamaku. Aku minta maaf. Sungguh. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain maaf, maaf dan maaf.

Maaf aku telah melukaimu. Maaf aku telah menghancurkan salah satu impianmu. Maaf atas keputusanku yang memilih pergi dan tidak bertahan lagi. Sungguh, aku telah berusaha. Aku telah melewati banyak hari dengan merenung, memikirkan segalanya, mempertimbangan berbagai kemungkinan, menakar dan mengukur perasaanmu, perasaan orang tuaku, perasaan orang tuamu, dan akhirnya menyelami perasaan dan keinginanku sendiri.

Advertisement

Pada akhirnya aku tidak tahu apakah aku lebih menggunakan logika, perasaan, atau mungkin perpaduan antara keduanya.

Kalau kau bertanya tentang cinta, aku tidak tahu. Perasaan yang mendasariku menerima perkenalan dari orang tua kita waktu itu adalah kepercayaan, kepercayaan bahwa kau bisa menerimaku seutuhnya, bahwa kita bisa bertahan bersama untuk seterusnya. Jika ternyata dalam perjalanan ini kepercayaan itu terkikis sedikit demi sedikit, kemudian hilang dan tidak bisa kubangun lagi, apakah aku salah?

Sungguh, kau orang yang teramat baik dan aku tidak ingin menyakitimu lebih jauh lagi. Sebelum kita benar-benar menyatukan diri dalam ikatan suci di mata Tuhan, sebelum semuanya terlambat sementara aku hanya berpura-pura dalam kebahagiaan, salahkah jika aku ingin menyelamatkan diriku dan juga kau dengan memutuskan perpisahan ini?

Katakanlah aku tidak setia. Katakanlah aku jalang. Jika kita memang berjodoh, tentu Tuhan akan menanamkan keyakinan itu dalam dadaku, bagaimanapun dan apapun caranya. Jika aku tidak pernah bisa yakin, aku bisa apa?

Sekali lagi, aku minta maaf. Kau orang yang baik. Mungkin aku memang telah memberikan luka itu di hatimu, luka yang aku tak tahu seberapa dalamnya. Tapi aku percaya kau kuat dan akan menjadi seorang lelaki hebat seperti yang selama ini sudah kau tunjukkan. Dan kau akan menemukannya, seorang pendamping hidup yang kau yakini dan yakin padamu, yang akan setia menemanimu dalam keadaan apapun.

Maaf dan terimakasih atas semua yang pernah kau beri dan kau lakukan untukku.

Semoga kau berbahagia selalu.