Wahai Bapak Bangsaku. Semoga dengan hadirnya tulisan ini, Engkau sadar bahwa masih ada generasi muda Indonesia yang sadar diri, bahwa moral bangsa ini sedang kritis-kritisnya.

Melihat bangsa peninggalanmu ini semakin lama semakin hancur moralnya, melihat para pemimpin negeri ini yang kaya akan gelar tapi miskin hatinya. Dulu, mati-matian Engkau menciptakan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang sekarang hanya cukup dibaca, tapi sama sekali hampir tak ada maknanya.

Dulu, kebangganmu terhadap pemuda begitu besarnya, hingga banyak dari mereka yang menyumbangkan nyawanya secara suka rela.

Miris, ketika dalam lamunan saya, istirahat abadimu tak bisa tenang dan damai. Betapa tidak, Engkau yang berjuang mati-matian menciptakan negeri ini dengan mengusir penjajah, tapi sekarang malah kita yang terjajah oleh bangsa sendiri, Engkau menciptakan pancasila sebagai landasan negara tapi tidak sedikit kami melupakan makna dari pancasila, lalu menganggapnya sebagai simbol bangsa semata.

Wahai Bapak Bangsaku, maafkan kami yang tidak pernah menghargai perjuanganmu dan para pahlawan penegak keadilan. Maafkan kami yang telah serakah akan kekuasaan. Maafkan kami yang dengan bangga mengotori negeri ini lewat kebencian antar sesama, lengkap dengan hujatan-hujatan yang tak sedap didengar telinga.

Advertisement

Atas segala hormat saya,

Terima kasih wahai Bapak Bangsaku… Berkat ribuan liter peluh dan air mata yang Engkau keluarkan, kini Bangsa yang (katanya) besar ini menjadi lebih damai dan tenteram.