Semua orang pasti pernah menerima kritik. Kritik dari teman, orangtua, guru, dosen, bos, atau (calon) mertua. Kebanyakan kita cenderung merasa takut ketika menghadapi kritik. Apalagi kalau kritik itu disampaikan dengan bumbu super pedas dan drama tak berujung bak sinetron. Akibatnya, kita cenderung defensif ketika ada orang yang menyampaikan kritik pada kita. Baru dikritik sedikit, kita sudah melengos dan marah-marah. Baru dikritik sedikit, kita sudah merasa sedih dan rendah diri. Padahal, dalam sebuah kritik yang kita terima, kita bisa mendapatkan informasi yang bermanfaat buat kemajuan kita lho.

So, bagaimana cara yang pas untuk hadapi kritik?

1. Tetap tenang, jangan emosi dan ucapkan terima kasih.

Ketika seseorang datang dan menyampaikan kritik dengan ekspresi yang kurang menyenangkan, kamu perlu bersikap diam dan hadapi dengan tenang. Jangan langsung membalas kritik tersebut dengan emosi tinggi. Tarik nafas dalam-dalam dan dengarkan apa yang diucapkan si pemberi kritik.

Jika perlu, catatlah poin-poin kritik yang disampaikan. Berikan jawaban yang bisa membuat lawan bicara merasa tenang. Selain itu, gunakan suaramu dari tingkat yang lebih rendah. Semakin kamu menunjukkan bahwa kamu lebih tenang, orang akan lebih menghormati dirimu.

Misalnya ketika orang tuamu sedang mengkritikmu, janganlah kamu menjawab kritik orang tua dengan nada suara yang lebih tinggi. Kita perlu tetap menjaga sopan santun dan etika, juga mencegah munculnya kemarahan yang lebih besar. Tetap tenang dan dengarkan dulu nasehat dan saran yang ada. Jika sudah lebih tenang, ucapkan maaf dan terima kasih atas nasehat beliau. Tanyakan apa yang harus kamu lakukan agar lebih baik. Hal yang sama juga harus kamu lakukan ketika menghadapi kritik dari orang yang lebih senior, seperti mertua, kakak, guru, atau bos di kantor.

Advertisement

Walaupun kamu menerima kritik dari orang lain yang usianya sama denganmu, atau bahkan lebih muda, misalnya rekan kerja atau pelanggan. Tetap hadapi dengan tenang dan menjaga etika.

2. Berpikir positif, kritik adalah motivasi untuk belajar.

Menerima kritik memang terkesan mendebarkan, bahkan menakutkan. Namun di sisi lain, kritik itu seperti cermin untuk melihat diri kita dari sudut pandang orang lain. Dari sebuah kritik, kita jadi punya informasi tentang hal-hal yang kurang bagus dan perlu diperbaiki. Nah, kritik jadi membawa manfaat buat kita. Kritik pun menjadi sumber motivasi kita untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Sebagai contoh, ketika dosen memberikan kritik atas jawaban yang kamu berikan, catatlah poin-poin kritik yang ia sampaikan. Pelajari bagaimana caranya untuk memberikan jawaban yang lebih baik. Tanyakan kepada dosenmu tentang sumber informasi atau literatur yang pelu kamu baca dan pelajari. Hadapi kritik dengan lapang dada, sehingga kamu bisa belajar lebih baik dan wawasanmu menjadi lebih luas.

3. Fokus pada aksi

Berdasarkan kritik yang kita terima, tentukan aksi apa saja yang perlu kita lakukan. Bersyukurlah kalau kritik yang kita terima adalah kritik yang membangun. Orang yang memberikan kritik yang membangun akan memberikan saran tentang tindakan yang perlu kamu lakukan untuk memperbaiki diri.

Namun ada juga orang yang menyampaikan kritik dengan protes atau caci-maki. Nah kalau kamu menghadapi kritik yang emosional, tanyakan kepada si pemberi kritik tentang hal-hal apa yang perlu kamu lakukan.

Suatu saat ketika kita bekerja atau memiliki sebuah bisnis, kita pasti akan menghadapi pelanggan. Pelanggan yang kurang puas dengan layanan akan menyampaikan kritik kepada kita. Jangan bersikap defensif dalam menghadapi kritik, namun tetap tenang dan ramah. Tanyakan apa kebutuhan pelanggan dan cari bagaimana cara untuk memperbaiki layanan yang kamu berikan. Jadi, jangan takut dengan kritik dan hadapi dengan pikiran yang terbuka.